Budaya

Filosofi Pemerintahan yang Bijak dari Tiongkok Kuno

Shennong (Petani Ilahi juga dikenal sebagai Kaisar Lima Biji-bijian, kredit: Wikimedia Commons)
Shennong (Petani Ilahi juga dikenal sebagai Kaisar Lima Biji-bijian, kredit: Wikimedia Commons)

Percaya bahwa budaya Tiongkok dianugerahkan oleh ilahi kepada Tiga Raja dan Lima Kaisar, orang-orang Tiongkok menganggap diri mereka sebagai keturunan Kaisar Yan dan Huang.

Filosofi dan ranah yang berkuasa berkembang dari waktu ke waktu, bergerak dari Penguasa kuno ke Kaisar dan kemudian Raja.

Penguasa (Huáng)

Penguasa dikatakan setengah dewa. Mereka memerintah berdasarkan wawasan mendalam mereka tentang hukum surga yang mencakup segalanya (Jalan Surgawi). Mereka memahami keseimbangan harmonis Yin dan Yang, rotasi empat musim, dan bagaimana manusia menyatu dengan Langit dan Bumi. Menurut catatan sejarah, Penguasalah yang membantu memperkenalkan penggunaan api, mengajari orang membangun rumah, dan mengembangkan pertanian.

Pada periode Tiga Penguasa, orang tinggal di gua, memakai bulu binatang, dan minum dari mata air pegunungan. Mereka tanpa beban dan tanpa keinginan. Harta karun seperti emas, mutiara, dan batu giok ditinggalkan di alam liar. Tidak ada aturan atau hukuman. Orang-orang berinteraksi secara sederhana dan alami dengan roh Langit dan Bumi.

Penguasa memerintah menurut Jalan Surgawi. Tidak perlu mempertimbangkan kebajikan karena segala sesuatu di mana-mana ada secara setara. Jalannya sederhana dan mulus, dan ada keindahan yang melampaui kata-kata ketika orang-orang mengikuti Jalan Surgawi.

Konfusius berkata, “Apa yang dikatakan Surga? Empat musim sedang bergerak, dan segala sesuatu lahir.” Surga menggunakan kata-kata yang tak terucapkan sebagai pelajaran yang mendalam dan berjangkauan luas bagi manusia dan semua makhluk. Karena Surga telah mempersembahkan yang terbaik dari segala sesuatu kepada dunia, segala sesuatu lahir sesuai dengan kodratnya, dan manusia tumbuh sesuai dengan kodratnya.

Kaisar (Dì)

Tingkat dibawah Penguasa adalah Kaisar, yang memerintah berdasarkan moralitas. Kaisar masih menganut Jalan Surgawi tetapi menambahkan konsep kebajikan dan dunia.

Manusia memperoleh Hukum Surga untuk membimbing perilakunya. Kebajikan (De) didapat seseorang dengan mematuhi hukum tersebut, melenceng darinya akan mendapatkan karma. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu memperoleh kebajikan, dan hanya manusia yang dapat menghargainya.

Semakin tinggi tingkat moral seseorang, semakin dalam pemahaman dan wawasannya. Ketika orang mampu memahami sifat dasar segala sesuatu, mereka lebih mampu menangani situasi sulit dan menavigasi tantangan hidup. Ketika orang dibebani dengan keinginan dan kekhawatiran, mereka merasa sulit untuk mencapai sesuatu.

Raja (Wáng)

Raja-raja yang umumnya disebut sebagai “anak-anak Surga”, mengikuti para kaisar. Tiga garis horizontal karakter (Wáng) mewakili Jalan Surga, Jalan Bumi, dan Jalan Umat Manusia. Garis vertikal di tengah mewakili kesatuan dari ketiganya.

Jalan para Raja adalah kebajikan, bertujuan untuk pemenuhan segala sesuatu dan keselarasan bagi semua orang; dan Kebenaran, menunjukkan akal, kebenaran, dan keadilan.

Menghayati Tradisi Kuno untuk Mengembalikan Moralitas Manusia

Di era penguasa, kaisar, dan raja, orang-orang hidup dengan menjunjung moralitas. Wawasan mereka dalam mengungkap misteri alam tidak dapat dipahami oleh pikiran modern. Ketika orang-orang saat ini melihat masyarakat kuno dari perspektif teknologi moderen dan teori evolusi, mereka menganggap kurangnya teknologi dan pengetahuan ilmiah sebagai kebodohan. Ini karena kebijaksanaan mereka sendiri tidak mencukupi.

Mitos dan legenda yang melewati 5000 tahun sejarah Tiongkok adalah cerminan dari orang-orang pada waktu itu. Karena aturan seseorang ditentukan oleh tingkat penguasaannya terhadap hukum surga, maka mereka yang diperintah harus memiliki kemampuan untuk merasakan, berkomunikasi, dan berintegrasi dengan medan energi alam semesta secara bebas. Hanya mereka yang memiliki tingkat moral tertinggi yang dapat menjadi penguasa, kaisar, atau raja, karena hanya mereka yang dapat menunjukkan kesatuan antara surga dan manusia.

Seiring waktu, sifat penguasa kuno yang diilhami oleh Sang Ilahi menjadi disalahpahami oleh keturunan manusia mereka yang standar moralnya terus menurun. Dengan bertambahnya pengetahuan ilmiah manusia, ia telah mengembangkan pengejaran tanpa henti untuk mengendalikan alam dan mengumpulkan harta duniawi. Karena naluri bawaannya untuk berkomunikasi dengan Langit dan Bumi telah menurun dan hilang, orang-orang menganggap teladan moral leluhur mereka hanya sebagai mitos dan legenda.

Orang bijak seperti Lao Tzu dan Konfusius sama-sama menganjurkan retrospeksi. Taois Lao Tzu mengusulkan jalan untuk kembali ke dasar, yang disebutnya “kembali ke kemurnian bayi,” sementara Konfusianisme berpendapat bahwa seseorang harus menggunakan sejarah untuk mengevaluasi orang dan peristiwa. Mereka berdua melihat bahwa hanya dengan kembali, manusia dapat membalikkan lintasan “kemajuan” ke bawah dan lolos dari kepunahan.

Orang sering diingatkan untuk tidak melupakan akarnya, melepaskan diri dari belenggu godaan dan keinginan, dan berperilaku secara moral dan lurus. Ini adalah nasihat yang akan memungkinkan mereka untuk kembali ke jalan yang selaras dengan Langit dan Bumi.(visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI