Budaya

Fisiognomi: Fakta atau Fiksi?

Wajah (Alexandru Zdrobau @ Unsplash)
Wajah (Alexandru Zdrobau @ Unsplash)

Sering dikatakan, “penampilan seseorang mengungkapkan isi hatinya”. Sejak zaman kuno orang telah menghubungkan penampilan seseorang dengan karakter mereka.

Bahkan lebih jauh lagi, ada yang menghubungkan raut wajah dengan kecenderungan kriminal, sementara ada juga yang mengaitkan penampilan sebagai indikator kesehatan. Banyak juga yang menghubungkan keberuntungan, atau ketidakberuntungannya, dengan ciri-ciri raut wajah.

Fisiognomi adalah metode untuk mengetahui karakter atau kepribadian seseorang dari penampilan luarnya – terutama wajahnya. Hadir dalam banyak budaya, fisiognomi sudah ada sejak zaman kuno. Orang suci India yang bernama Siddhar pada 600 SM menyebutnya praktik samudrika lakshanam, sedangkan orang Tionghoa menyebutnya mian xiang (membaca wajah) bahkan lebih jauh lagi ke Dinasti Zhou juga sudah mengenal hal ini. Pada abad keempat SM, filsuf Yunani Aristoteles sering merujuk teori dan literatur tentang hubungan antara penampilan dan karakter.

Semua orang tahu bahwa kecantikan sejati berasal dari dalam, tetapi yang diperdebatkan adalah apakah kecantikan dari dalam terhubung dengan penampilan luar seseorang. Mata, alis, dan mulut adalah ciri-ciri utama yang dilihat seseorang dalam menilai karakter. Bentuk ciri-ciri tersebut seringkali berperan dalam kesan pertama dan penilaian terhadap sikap seseorang, baik itu positif maupun negatif, akurat atau tidak.

Merefleksikan Fitur

Mata adalah jendela jiwa. Pepatah ini oleh Shakespheare dianggap cukup mendalam. Fremont College memandu bahasa tubuh dengan menggunakan pendekatan pragmatis untuk menjelaskan bagaimana mata dan mulut dapat diinterpretasikan. Panduan tersebut menyarankan bahwa mata licik mungkin merupakan tanda bahaya.

“Ketidakmampuan untuk melakukan kontak mata secara langsung dapat menunjukkan kebosanan, ketidaktertarikan, atau bahkan kebohongan – terutama ketika seseorang berpaling ke samping. Sebaliknya, jika seseorang melihat ke bawah, itu sering kali menunjukkan kegugupan atau sikap tunduk. “

Menurut panduan ini, walaupun sulit, pupil mata dapat mencerminkan konsentrasi seseorang. Bahkan melalui ukuran pupil mata, dapat menunjukan tingkat ketertarikan seseorang terhadap orang yang sedang bersamanya. Vinita Mehta Ph.D, dari Psychology Today, setuju dengan penilaian ini yang dituangkan dalam laporannya 3 Things Your Eyes Tell the World.

Pemandu Fremont juga fokus pada mulut, “senyum yang tulus mencerminkan bahwa orang tersebut bahagia dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang di sekitarnya. Sementara itu senyuman palsu, menunjukan bahwa orang tersebut dengan terpaksa menerima keadaan yang ada. Bibir yang mengerucut dan kencang juga menunjukkan ketidaksenangan, sementara mulut yang rileks menunjukkan sikap santai dan suasana hati yang positif. Menutup mulut atau menyentuh bibir dengan tangan atau jari saat berbicara mungkin merupakan indikator berbohong. ”

Alis dibahas dalam buku Phil Mutz What Your Eyebrows Are Really Saying About You yang diterbitkan oleh Little Things. Menurut Mutz, alis runcing menandakan kekuatan dan kendali. Orang-orang ini cenderung menjadi pemimpin dan mendominasi hubungan mereka. Mereka mungkin ketus, tapi juga bisa menginspirasi.

Mutz menegaskan bahwa orang dengan alis yang terangkat ke dalam huruf “V” kemungkinan besar adalah seseorang dengan sifat buruk yang tidak ingin dipusingkan oleh orang lain, sementara alis yang lurus menyatakan “apa yang anda lihat adalah apa yang anda dapatkan.” Individu alis lurus dianggap dapat dipercaya dan orang cenderung curhat kepada mereka. Alis melengkung tinggi menandakan sifat sandiwara. Orang dengan fitur ini suka menjadi pusat perhatian, dan dapat menarik orang lain dengan kemampuannya untuk menghibur.

Penelitian Terbaru

Meskipun kehilangan popularitasnya pada akhir abad ke-19, penelitian terbaru telah memulihkan kredibilitas fisiognomi. Sebuah studi tahun 1966 dilakukan oleh psikolog di University of Michigan, di mana 84 mahasiswa yang belum pernah bertemu sebelumnya diminta untuk “duduk diam selama 15 menit sambil saling menilai satu sama lain berdasarkan lima ciri kepribadian dari sudut pandang penampilan” (Journal of Kepribadian dan Psikologi Sosial, vol 4, p 44). Hasilnya adalah bahwa tiga elemen kepribadian yaitu – kekuatan, kehangatan, dan kejujuran – dapat disimpulkan dengan baik melalui penampilan seseorang.”

Sebagai bukti kegunaannya, fisiognomi kini diterapkan secara komersial. Pada tahun 2020, sebuah studi tentang penggunaan gambar wajah konsumen untuk tujuan riset pemasaran menyimpulkan bahwa informasi pribadi yang diekstrak dari gambar wajah menyediakan informasi sebagai sarana untuk menargetkan iklan di media sosial.

Apakah kita memilih untuk percaya atau tidak bahwa karakter kita dapat dibaca melalui penampilan kita, menurut New Scientist penampilan yang baik, rapi dan bersih merupakan daya tarik seseorang. 

 “Orang yang dianggap berpenampilan baik tidak hanya mendapatkan paling banyak kasih sayang tetapi juga dinilai lebih ramah, kompeten secara sosial, kuat, cerdas dan sehat. Mereka melakukan lebih baik dalam segala hal, dari bagaimana mereka disambut oleh orang lain hingga bagaimana mereka diperlakukan oleh sistem peradilan pidana.” (visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI