Budaya

Genderang Pinggang Tiongkok: Sebuah Tradisi Spiritual

Genderang pinggang (Kredit: Carolina Avendano/Vision Times)
Genderang pinggang (Kredit: Carolina Avendano/Vision Times)

Dianggap sebagai genderang pertama di dunia, genderang pinggang Tiongkok mengenang kejayaan peradaban Tiongkok kuno.

Berusia lebih dari 2.000 tahun, instrumen sederhana ini telah digunakan untuk berbagai hal sepanjang sejarah untuk menciptakan suasana energik yang mengesankan yang mengekspresikan kegembiraan dan optimisme.

Genderang pinggang Tiongkok memiliki sejarah yang menarik, dengan unsur-unsur pertunjukan khas yang berkembang sepanjang zaman hingga kebangkitannya yang selayaknya saat ini.

Dari Perlengkapan Medan Perang Hingga Alat Musik

Genderang pinggang dikatakan berasal lebih dari 2.240 tahun yang lalu pada masa Dinasti Qin, dinasti pertama Kekaisaran Tiongkok. Selama berabad-abad, genderang sama pentingnya dengan senjata dalam pertempuran, dengan efeknya menargetkan semangat prajurit dan musuh.

Dimainkan untuk pasukan, genderang yang mengesankan berfungsi untuk meningkatkan moral, memperingatkan adanya serangan mendadak, dan menggentarkan musuh. Dimainkan setelah memenangkan pertempuran, genderang menginspirasi rasa bangga. Penggunaan genderang untuk keperluan militer tetap menonjol hingga dinasti Han.

Seiring waktu, genderang pinggang menjadi kegiatan rakyat, digunakan untuk segala hal mulai dari hiburan dan mengusir roh jahat hingga berdoa untuk cuaca yang baik dan panen yang melimpah semuanya dengan tetap mempertahankan gaya heroik dan postur militer dalam penampilannya.

Pertunjukan Genderang Pinggang: Cita Rasa Budaya Tradisional

Pertunjukan genderang pinggang energik dan ceria, menggabungkan tarian dan terkadang melompat, menyerupai tentara dalam pertempuran. Genderang diikat ke badan dengan selempang sutra, dan dimainkan di pinggang pemusik, memungkinkan mobilitas yang cukup besar.

Genderang dapat dipukul dengan tangan atau dengan tongkat kayu, yang dihiasi dengan syal sutra untuk menonjolkan lintasan yang ditempuh oleh gerakan tangan yang halus dan tenang.

Ada dua jenis pertunjukan genderang pinggang: venue yaogu, di mana para pemainnya menari dan memainkan genderang di tempat tertentu, seperti panggung dan alun-alun, dan road yaogu  juga dikenal sebagai barisan genderang yang berjalan didalam pawai atau parade.

Sifat semarak dari pertunjukan genderang pinggang telah dikaitkan dengan karakter sederhana dan ringan dari para petani Tionghoa di dataran tinggi barat laut, yang mewakili semangat kolektif orang-orang Shanxi dan pandangan hidup mereka yang penuh harapan.

Gaya Diubah Sesuai dengan Agenda Komunis

Sifat agraris dan musik rakyat dari pertunjukan genderang pinggang tidak luput dari pencarian metode oleh Partai Komunis Tiongkok untuk mempromosikan ideologi perjuangan kelasnya, terutama selama Revolusi Kebudayaan. Untuk membantu menciptakan budaya baru berdasarkan cita-cita komunis, esensi dan gaya Yaogu diubah, mencabut seni dari fondasi tradisionalnya.

Seperti bentuk ekspresi tradisional lainnya, genderang pinggang dimodifikasi berdasarkan literatur dan seni revolusioner pada masa itu. Gaya prajurit kuno dibuang dan pakaian klasik diganti dengan kostum merah dan putih yang biasa terlihat saat ini. Warna merah, yang telah lama diasosiasikan oleh budaya Asia dengan kemakmuran dan keberuntungan, menjadi mewakili revolusi dan komunisme, dan sejak saat itu meresap ke hampir setiap aspek kehidupan di Tiongkok

Budaya Tradisional Dihidupkan Kembali

Falun Dafa, juga dikenal sebagai Falun Gong, adalah latihan kultivasi (pengolahan) diri berdasarkan prinsip-prinsip universal Sejati, Baik, dan Sabar. Berakar pada budaya tradisional Tiongkok selama 5.000 tahun, telah menyebar ke lebih dari 130 negara di seluruh dunia sejak diperkenalkan ke publik di Tiongkok pada tahun 1992.

Namun Partai Komunis China (PKC) melakukan penganiayaan terhadap rakyatnya yang berlatih Falun Dafa sejak tahun 1999, karena sifat iri hati dari mantan petinggi partai Jiang Zemin yang iri dan takut pada perkembangan Falun Dafa. Lebih lanjut ternyata PKC bekerja sama dengan rumah sakit untuk menjual organ hidup-hidup praktisi Falun Dafa yang ditahan di penjara.

Praktisi di China dan di seluruh dunia mengklarifikasi fakta kepada masyarakat dengan tujuan agar PKC dapat mengakhiri penindasan terhadap Falun Dafa lewat aksi damai. Selain itu juga dengan pawai budaya, mereka juga menghidupkan kembali kebudayaan tradisional Tiongkok.Termotivasi oleh keinginan untuk berbagi keindahan budaya Tiongkok yang asli, praktisi Falun Dafa memberikan pertunjukan publik yang meriah lewat barisan genderang pinggangnya.

Mengenakan kostum kuning cerah dengan gaya Dinasti Tang kuno, yang menarik dan membangkitkan semangat. Kuning atau emas telah dianggap sebagai warna surgawi sejak zaman kuno, dan pernah digunakan untuk kaisar dan keluarga kerajaan.

“Menjadi salah satu alat musik tertua, genderang pinggang merupakan simbol tradisi dan budaya Tiongkok,” kata Jennifer Su, pemain genderang pinggang Tionghoa yang tinggal di Calgary, Kanada. “Saya memainkannya untuk menampilkan keindahan budaya tradisional Tiongkok melalui musik.”


Berbicara tentang penggunaan spiritual dari genderang pinggang, Su mengatakan bahwa hubungannya dengan budaya tradisional secara inheren menyiratkan hubungan dengan Yang Kuasa: “[Genderang pinggang] dikenal sebagai bagian dari perayaan tradisional. Budaya tradisional mengajarkan orang untuk mengikuti jalan yang benar dan beriman.”

“Setiap pukulan genderang membawa prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Saya ingin menyebarkan keindahan Dafa dan berkahnya kepada hadirin,” kata Su. “Kami tidak akan pernah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan apapun [seperti mengungkap penganiayaan]. Kami mendahulukan orang lain sebelum diri kami sendiri dan memperlakukan semua orang dengan kebaikan. Dengan belas kasih, kami akan menyentuh hati penonton kami.” (visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations