Budaya

Hua Tuo, Dokter Tiongkok yang Sembuhkan Korupsi

Hua Tuo (140-208 M) hidup pada zaman Dinasti Han Timur dan merupakan seorang dokter terkenal di Tiga Kerajaan. Pada usia muda, ia berkelana untuk belajar kedokteran dan tidak berminat menjadi pejabat pemerintah. Ia juga sangat terkenal karena keahlian bedahnya, sehingga orang-orang menyebutnya sebagai “Pendiri Ilmu Bedah”.

Di masa kecilnya, Hua Tuo merupakan anak yang cerdas. Ayahnya meninggal ketika ia berusia 7 tahun, meninggalkan keluarganya dalam kemiskinan, sehingga ibu Hua Tuo sering meminta bantuan dari teman mendiang suaminya, yaitu dokter Cai. Mendengar bahwa Hua Tuo tertarik ilmu kedokteran, dokter Cai memutuskan untuk mengujinya.

Pada suatu hari, murid-murid dokter Cai sedang mengumpulkan daun dari pohon mulberry di lapangan, namun mereka tidak dapat mencapai cabang tertinggi pohon. Dokter Cai menggunakan kesempatan ini untuk menguji Hua Tuo. Ia bertanya pada Hua apakah ia tahu cara memetik daun dari cabang tertinggi, dan Hua berkata, “Tidak masalah.”

Hua Tuo meminta seutas tali, mengikatkan sebuah batu kecil ke salah satu ujungnya, lalu melemparkan batu itu ke dahan, menarik talinya sehingga dahan dan dedaunan dapat diraih dengan mudah.

Senang dengan apa yang dilihatnya, dokter Cai kemudian menunjuk dua ekor kambing yang sedang bertarung. Dengan mata merah, kedua kambing itu sangat agresif, dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Lagi-lagi dokter Cai bertanya pada bocah itu apa yang harus dilakukan olehnya. Kali ini Hua Tuo menjawab, “Saya bisa mencobanya.”

Ia meraih dua genggam rumput, lalu meletakkannya masing-masing di kedua sisi kambing. Lapar dan lelah karena berkelahi, kedua kambing itu berpaling satu sama lain dan mulai memakan rumput. Melihat bahwa Hua Tuo adalah anak yang cerdas dan gesit, dokter Cai memutuskan untuk mengangkatnya menjadi murid.

Ketrampilan Medis yang Luar Biasa

Menurut sebuah buku kuno berjudul “Hou Hanshu”, istri Jendral Li jatuh sakit, dan Hua Tuo diminta untuk memeriksanya. Setelah memeriksa sistem meridiannya, Hua berkata penyakitnya ini disebabkan oleh luka selama kehamilan, dan janin didalam perutnya harus dikeluarkan.

Jendral Li berkata, “Istri saya memang terluka saat ia hamil. Tapi ia sudah keguguran, janinnya sudah keluar!” Saat Hua bersikeras bahwa masih ada janin didalam perutnya, Jendral menyuruhnya pulang.

Kondisi istri Jendral Li semakin lama semakin buruk. Tiga bulan kemudian, Jendral menghubungi Hua Tuo kembali. Setelah mengecek sistem meridian istri Jendral, Hua kembali membuat diagnosa yang sama. Ia menjelaskan, “Ada dua janin. Yang pertama keguguran dan menyebabkan pendarahan hebat hingga janin kedua tidak bisa dikeluarkan. Janin kedua ini, yang telah meninggal, menempel begitu kuat hingga tidak dapat keluar sendiri.”

Hua Tuo kemudian mengobatinya dengan akupuntur dan obat-obatan herbal, hingga akhirnya janin kedua tersebut berhasil dikeluarkan.

Belajar dari Dewa

Hua Tuo sering mengunjungi gunung dan gua yang terkenal. Di Gunung Gongyi, ia mendengar seseorang didalam gua berbicara tentang obat-obatan. Karena penasaran, Hua masuk untuk mendengarkan.

Seseorang didalam gua tersebut berkata, “Si anak muda Hua Tuo itu ada disini. Kita bisa mengajarinya kedokteran.” Namun terdengar suara orang lain yang menimpalinya, “Hua Tuo bersifat serakah pada dasarnya. Dan ia tidak memiliki belas kasihan. Kita tidak boleh mengajarinya.”

Mendengarnya, Hua Tuo segera menampakkan diri. Ia melihat dua orang tua disana, lalu berkata, “Saya selalu tertarik pada obat-obatan, tetapi belum pernah bertemu dengan master sungguhan. Saya harap Anda berdua dapat mengetahui bahwa saya tulus, dan bersedia mengajari saya tentang obat-obatan. Saya akan selamanya berterima kasih, dan tidak akan pernah mengecewakan Anda!”

Kedua orang tua tersebut pun menoleh. Salah satunya berkata, “Ya, kami bisa mengajari kamu obat-obatan, tetapi mungkin akan menyebabkan masalah padamu di kemudian hari.”

Setelah terdiam, si orang tuaa melanjutkan, “Kamu tidak boleh memperlakukan orang berdasarkan status sosial maupun kekayaannya. Jika kamu tidak haus kekayaan dan tidak segan bekerja keras, kamu bisa menghindari masalah ini.”

Hua Tuo sekali lagi berterima kasih pada mereka dan berkata, “Saya tidak akan pernah lupa saran Anda. Ya, saya bisa melakukannya.”

Kedua orang tua itu tersenyum. Salah satunya menunjuk ke sebuah gua di timur dan berkata, “Disana ada sebuah buku diatas batu. Bacalah. Tinggalkan gua ini sekarang, dan jaga rahasia ini. Kamu tidak boleh dengan seenaknya menunjukkan buku itu ke orang lain.”

Hua Tuo pergi mengambil buku itu, namun saat menoleh ke belakang, kedua orang tua tersebut sudah menghilang. Dengan agak takut, ia cepat-cepat pergi, dan mendengar gua runtuh di belakangnya.

Resep Untuk Mengobati Keserakahan

Selama era Tiga Kerajaan, Yang Xiu dan Yang Dang, paman dan keponakan, melayani Cao Cao. Yang Xiu cerdas dan berpengetahuan luas, tetapi akibat kesombongan dan konfrontasinya dengan Cao Cao, telah menyebabkan kematiannya. Sementara Yang Dang sang keponakan bertanggung jawab atas pasokan militer, termasuk makanan. Walaupun ia bukan pejabat tinggi, ia korupsi dengan menimbun kekayaan dengan menyimpan beberapa persediaan untuk dirinya sendiri.

Setelah Yang Xiu dieksekusi, Yang Dang menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki dukungan dari pamannya, dan menjadi cemas. Karena kuatir dihukum karena memiliki hubungan dengan Xiu, ia berniat untuk pensiun, namun sebelum itu ia ingin mengumpulkan kekayaan lagi dari transit pasokan militer lain.

Saat itu Yang Dang sedang menderita sakit akibat dadanya yang terasa tersumbat. Ia merasa seolah-olah ada batu yang tersangkut di dadanya. Akibatnya, Dang kesulitan duduk maupun berdiri, bahkan tiduran di ranjang pun terasa lebih sakit lagi. Ia telah pergi menemui banyak dokter, namun mereka tidak dapat membantunya.

Akhirnya, Dang mendengar bahwa Hua Tuo berpraktek di lokasi yang tak jauh darinya, dan ia berkali-kali memohon agar Hua Tuo datang untuk memeriksanya. Namun karena telah mendengar tentang prilaku buruk Dang, Hua berkali-kali membuat alasan untuk tidak pergi.

Dang yang gigih, meminta putranya untuk melakukan sembah sujud pada Hua Tuo, sambil memohon bantuannya hingga air mata membanjiri wajahnya. Melihat ketulusannya, Hua pun datang dan memeriksa sistem meridian Dang. Ia kemudian menuliskan dua resep dan memberikan instruksi agar ia meminumnya satu demi satu.

Setelah Hua pergi, Dang membaca resep pertama dan melihat bahwa resep terdiri dari delapan obat herbal: erwu, guoluhuang, xiangfuzi, lianqiao, wangbuliuxing, faxia, biba, dan zhusha. Karena paham dengan literatur, Dang merangkaikan setiap karakter huruf Mandarin pertama dari nama-nama obat tersebut, yang ternyata menjadi: “Er guo xiang lian, wang fa bi zhu” (Dengan dua kesalahan terhubung, [seseorang] akan dieksekusi).

Berpikir bahwa Hua Tuo mengetahui tentang rencananya, Dang ketakutan dan keringatnya mengucur deras. Namun, berkat hal ini, entah kenapa tiba-tiba ia merasa sumbatan di dadanya menghilang. Ia pun membatalkan rencananya untuk mengumpulkan lebih banyak uang dari transit pasokan yang akan datang.

Selanjutnya, ia mengambil resep kedua. Saat membacanya, ia menjerit, memuntahkan darah, lalu pingsan. Keluarganya panik dan mulai menangis. Enam obat herbal pada resep kedua itu adalah: chang [shang]shan, ruxiang, guangui, muxiang, yimucao, dan fukuai. Karakter huruf Mandarin pertama dari setiap obat tersebut jika dirangkaikan berbunyi: “Shang ni guan mu yi fu” (Ini adalah peti mati untuk Anda). Tak heran Dang bereaksi seperti itu!

Setelah beberapa lama, Dang siuman, dan ia melihat keluarganya masih menangisinya. Namun anehnya, ia merasa amat baik! Sumbatan di dadanya telah sepenuhnya hilang, ia telah sembuh!

Kali ini, Hua Tuo datang tanpa undangan. “Sumbatan di dada Anda disebabkan oleh aliran darah yang melambat, akibat keserakahan. Kini karena keserakahan telah keluar melalui keringat dan darah, Anda telah sembuh dari ‘penyakit’. Bagaimanapun, Anda masih sangat lemah, jadi saya akan menuliskan resep agar Anda benar-benar pulih,” katanya. Dang pun meminum obat yang diresepkan dan sembuh total. Sejak saat itu, ia sama sekali tidak berani mengambil keuntungan secara ilegal dari pasokan militer.

Ilmu pengobatan tradisional Tiongkok disebut diturunkan dari Langit (Dewa). Karena koneksi dengan langit inilah, dokter Tiongkok tradisional seperti Hua Tuo dikenal memiliki kemampuan supernormal dan kemampuan medis yang hebat. (minghui/lia)