Sejarah Tiongkok yang berusia 5.000 tahun kaya dengan ribuan cerita, banyak ilustrasi yang menggambarkan nilai-nilai dan kebajikan yang melekat pada budaya asli tradisional Tiongkok. Salah satu kebajikan ini adalah kebaikan dan kedermawanan, yang dianggap paling penting oleh rakyat Tiongkok kuno. Sedangkan iri hati dianggap sebagai sifat tercela.
Pang Juan dan Sun Bin hidup selama Periode Negara-Negara Berperang. Keduanya dilatih oleh pertapa Guiguzi (鬼谷 子) di masa muda mereka.
Sun Bin yang lebih tua mempunyai sifat pandai, jujur dan rajin mempelajari strategi militer. Sebaliknya, Pang Juan mempunyai sifat egois, tidak jujur haus kekuasaan, dan selalu mencari jalan pintas dalam studinya. Karena itu, Pang Juan sering ditegur oleh Guiguzi , membuat Pang Juan berpikir bahwa gurunya pilih kasih. Ini membuatnya terus-menerus iri hati pada Sun Bin.
Pang Juan kemudian menjadi jenderal Negara Wei. Sambil menikmati posisinya, Pang Juan tidak bisa melupakan Sun Bin. Dia tahu bahwa Sun Bin adalah yang lebih pintar, dan dia khawatir Sun Bin pada akhirnya akan mengancam posisinya. Maka Pang Juan menyusun rencana untuk menyingkirkan Sun Bin.
Pang Juan pertama-tama membujuk Sun Bin ke Negara Bagian Wei, dengan menjanjikannya pekerjaan sebagai jenderal. Tetapi ketika Sun Bin tiba, Pang Juan menjebak Sun Bin di depan Raja Wei, menuduhnya melakukan pengkhianatan. Sun Bin dihukum dengan ditato wajahnya (sebagai penanda kriminal) dan diremukkan lututnya, sehingga menjadi cacat.
Menyadari bahwa dia telah disabotase oleh Pang Juan, Sun Bin melarikan diri dari Negara Wei dan kembali ke Negara Qi. Dengan kecerdasan dan penguasaan strategi militernya, Sun Bin naik pangkat dan menjadi ahli strategi dan negarawan penting bagi Negara Qi.
Pertarungan dimulai antara Pang Juan dan Sun Bin, yang akhirnya memuncak dalam Pertempuran Maling. Pang Juan dan tentara Wei telah menyerang beberapa negara tetangga yang lebih lemah, yang kemudian meminta bantuan kepada Negara Qi.
Sun Bin pertama-tama memasang perangkap untuk Pang Juan dan pasukannya di lembah Maling yang sempit saat malam tiba. Dia memiliki sepuluh ribu pemanah berbaring untuk penyergapan di kedua sisi lembah, dan memerintahkan mereka untuk menyerang dengan tanda sinyal obor.
Sun Bin kemudian memilih sebatang pohon di sepanjang lembah, dan mengukir kalimat di batangnya “Pang Juan akan mati di Lembah Maling, di bawah pohon ini”. Ini adalah ramalan yang dibagikan pertapa Guiguzi kepada Sun Bin, saat mereka masih berlatih padanya.
Saat berperang melawan Pang Juan dan tentara Wei, Sun Bin memerintahkan pasukan Qi untuk berpura-pura kalah dan mundur. Pang Juan dan pasukannya mengejar tentara Qi ke lembah Maling yang sempit.
Malam sudah turun di lembah. Pang Juan memperhatikan pohon dengan kata-kata terukir, dan menginstruksikan anak buahnya untuk menyalakan obor sehingga dia bisa membaca kata-kata itu. Tapi sebelum dia selesai membaca, para pemanah Qi menyerang, memusnahkan tentara Wei. Menyadari bahwa dia telah kalah, Pang Juan yang takut bunuh diri di bawah pohon itu.
Sebelum bunuh diri, Pang Juan mengerang, “Pertempuran ini telah membuat Sun Bin malah semakin tenar”. Bahkan pada saat-saat terakhirnya, pikiran dan iri hati yang picik tetap melekat pada sifatnya.
Shen Gongbao yang Abadi (申 公 豹) Kehilangan Ribuan Tahun Kultivasi Dalam Semalam
Dalam novel Tiongkok abad ke-16 berjudul Pelantikan Dewa (Fengshen Yanyi [封神 演义]), Shen Gongbao dan Jiang Ziya (姜子牙) keduanya adalah murid abadi Dewa Surgawi Primitif. Shen Gongbao telah berkultivasi Taoisme selama ribuan tahun, dan sangat bangga akan dirinya sendiri.
Shen Gongbao sangat iri ketika dia mengetahui Dewa Langit Primitif telah mempercayakan Jiang Ziya dengan memberikan gelar kehidupan abadi dan membantu Raja Wu mendirikan Dinasti Zhou. Shen Gongbao merasa bahwa karena dia memiliki kemampuan magis yang lebih besar, dia lebih pantas menjadi orang yang menyelesaikan misi penting ini.
Maka Shen Gongbao menemui Jiang Ziya, dan bertanya kepadanya raja mana yang ingin ia bantu. Jiang Ziya menjawab, “Saya akan membantu Raja Wu dari Zhou menggulingkan Raja Zhou dari Shang, sesuai kehendak Surga. Raja Wu memiliki semua kebajikan kaisar agung pada zaman kuno. Sebaliknya, Raja Zhou larut dalam pesta pora dan tidak memikirkan rakyat”.
Shen Gongbao kemudian berkata, “Karena Anda ingin membantu Raja Wu maka saya akan menentang anda dan membantu Raja Zhou sebagai gantinya.”
“Itu konyol,” kata Jiang Ziya. “Bagaimana Anda bisa menentang kehendak Surga?”
Shen Gong Bao menjawab dengan marah, “Saya bisa memenggal kepala saya sendiri, melemparkannya ke udara dan memasangnya lagi. Anda bahkan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Dengan kultivasi Anda yang sebatas empat puluh tahun, bagaimana anda dapat membantu Raja Wu menggulingkan Raja Zhou? “
Sejak saat itu, Shen Gongbao terus berselisih dengan Jiang Ziya, menciptakan banyak perang dan bahkan menghasut kehidupan abadi lainnya untuk menyakiti Jiang Ziya. Dalam satu kasus, ia meminta Raja Neraka menyerang Jiang Ziya, menghalangi upaya Raja Wu untuk mengalahkan Raja Zhou. Kecemburuannya menyebabkan hilangnya ribuan nyawa tak berdosa.
Sebagai hukuman atas kejahatan Shen Gongbao, Dewa Surga Primitif memukul jatuh Shen Gongbao dan memasukkannya ke dalam lubang di Laut Utara. Shen Gongbao menderita karena kesalahannya sendiri.
Hal ini mengilustrasikan bagaimana iri hati seseorang dapat menyebabkan kematian ribuan orang tak berdosa, dan dapat membuat kehidupan abadi kehilangan ribuan tahun kultivasi yang berharga dalam semalam. Sementara iri hati dapat mendorong orang untuk menang pada awalnya, hal itu akhirnya menjadi kehancuran mereka ketika pembalasan Langit menimpa mereka. (Zhou Huixin/epochtimes/bud/eva)

