Budaya

Istri yang Berbagi Kesulitan Tidak Boleh Ditinggalkan

Pasangan (Aleksandr Neplokhov @ Pexels)
Pasangan (Aleksandr Neplokhov @ Pexels)

Su Dongpo, penulis besar saat Dinasti Song, pernah berkata: “Ketika seorang pria menjadi kaya, dia tidak boleh meninggalkan istrinya yang setia mendampingi selama ini, meskipun istri itu kehilangan kecantikannya.”

Seorang menteri Song, Zi Zhongzi, adalah menteri terkenal di awal Dinasti Han Timur. Ia tidak hanya dikenal karena kebajikan dan integritasnya, tetapi juga karena perlakuannya terhadap hubungan antara suami dan istri.

Setelah Kaisar Guangwu naik takhta, Zi Zhongzi bekerja dikantor Wakil Perdana Menteri. Sebagai pejabat yang cakap dan jujur, dia sangat dihormati oleh Kaisar Guangwu dan kemudian diangkat menjadi mentri.

Pada tahun itu, suami dari Putri Huyang, adik Kaisar Guangwu, meninggal dunia. Putri itu sangat manis dan masih muda. Setelah masa berkabung berlalu, Kaisar ingin mencarikan adiknya jodoh, jadi dia berbicara dengannya tentang para menteri. Putri berkata: “Menteri dari Song, Zi Zhongzi adalah pria bermartabat dengan kebajikan dan bakat yang luar biasa, dan tidak ada menteri lain pada dinasti ini yang sebanding.” Kaisar Guangwu menjawab: “Biar saya yang mengurusnya!”

Kemudian, Kaisar Guangwu memanggil Zi Zhongzi dan mendudukkan Putri Huyang di belakang layar. Kaisar Guangwu berkata kepada menterinya: “Seperti kata pepatah, ketika seorang pria menjadi makmur, dia mengganti teman-temannya, dan ketika dia menjadi mapan, dia mengganti istrinya yang lebih sebanding.”

Sang Menteri berkata: “Seorang sahabat yang miskin tidak dapat dilupakan, dan seorang istri yang setia tidak ditinggalkan.”

Dia dengan sopan dan santun memberi tahu Kaisar bahwa dia tidak akan berpisah dengan istrinya yang setia selama bertahun-tahun yang berbagi banyak kesulitan selama pernikahan mereka dan kesulitan di masa miskin. Seketika Kaisar Guangwu kagum dan membuang ide untuk menjodohkan adiknya dengan menteri teladan ini.

Yanying, juga dikenal sebagai Yanzi, adalah seorang intelektual dan diplomat terkenal pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur. Ketika Kaisar Qi Jinggong berkuasa, Yanzi sangat dihormati oleh Jinggong.

Suatu hari, ketika Qi Jinggong menjadi tamu di rumah Yanzi, setelah dia minum banyak anggur dan tidak sengaja melihat istri Yanzi, dia bertanya kepada Yanzi: “Apakah itu istrimu?” Yanzi menjawab: “Ya”.

Jinggong tersenyum dan berkata: “Hehe, sudah tua dan jelek! Saya memiliki seorang putri yang muda dan cantik, maukah kukenalkan?”

Mendengar ini, Yanzi berdiri dengan hormat, meninggalkan kursinya, dan memberi hormat kepada Jinggong: “Yang Mulia, meskipun istri saya sudah berumur dan tak lagi secantik dulu, saya telah tinggal bersamanya sejak lama dan secara alami melihatnya di masa mudanya dan hari-hari indahnya, dan dialah yang mengurus saya selama ini.”

 “Ketika dia masih muda dan cantik, istri saya mempercayakan hidupnya kepada saya, dan saya berjanji kepada ayah dan ibunya ketika mengambilnya dari keluarganya untuk hidup bersama saya dalam pernikahan yang disaksikan tak hanya manusia, tetapi juga Tuhan.”

Yanzi membungkuk dua kali dan berterima kasih kepada Jinggong, Ketika Jinggong melihat betapa Yanying sangat menghargai hubungan dan pernikahan antara suami dan istri, dia berhenti membicarakannya.

Di lain waktu, ketika Tian Wuyu menasihati Yanzi untuk berpoligami, Yanzi berkata: “Menurut saya, mengambil selir muda dan cantik adalah perbuatan cabul, melupakan kesetiaan di hadapan nafsu dan melepaskan moralitas ketika seseorang kaya disebut dosa.” Saya tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati istri dan anak-anak saya bila saya melakukannya.” Tian Wuyu terdiam dan tidak pernah menyinggung hal itu lagi. (nspirement.com)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor

situs slot gacor