Budaya

Judge Bao dan Mimpinya Tentang Kupu-Kupu

Di antara kisah panggung pentas Dinasti Yuan, salah satunya berjudul “Mimpi Bao Gong (Judge Bao) Tentang Kupu-Kupu”. Kisahnya ditulis oleh Guan Hanqing, seorang penulis naskah terkenal (1225-1320).

Seorang pria yang biasa dipanggil Wang pergi ke pasar untuk membeli keperluan bagi ketiga putranya di kota. Saat dia beristirahat, tanpa disadari dia bertabrakan dengan Ge Biao, seorang pria yang memiliki hubungan jauh dengan kaisar. Kemudian terjadi ribut-ribut dan berakhir dengan tewasnya Wang dalam sebuah perkelahian yang brutal.

Tiga putra Wang, Jinhe, Tiehe, dan Shihe, menangis ketika mengetahui tentang kematian ayah mereka. Di Tiongkok kuno, pembunuh terancam dihukum eksekusi (nyawa dibayar nyawa), terlepas dari statusnya. Dari laporan saksi mata, ketiga putra Wang mengetahui Ge Biao-lah yang memukuli ayah mereka hingga mati. Mereka bertekad untuk membuatnya membayar kejahatannya, dan hari itu juga pergi mencari Ge Biao untuk menangkapnya.

Ge Biao sedang dalam perjalanan pulang dan sedang mabuk berat ketika dia bertemu dengan tiga bersaudara itu. Saudara laki-laki tertua memukulnya agar menyerah, dan tanpa disangka pada pukulan pertama, Ge Biao langsung terkapar tak bernyawa. Padahal awalnya mereka hanya bermaksud menangkapnya dan menyerahkannya kepada pihak berwenang. Tak disangka ternyata nasib mereka berakhir dalam kurungan penjara oleh hakim Wilayah Zhongmu.

Bao Zheng (999-1062), umumnya dikenal sebagai Bao Gong (Judge Bao), adalah seorang hakim di Kaifeng, ibu kota Dinasti Song Utara. Ia baru saja menyelesaikan kasus pencurian kuda dan merasa kelelahan, dan menyandarkan kepalanya ke kursi.

Dia tertidur dalam waktu singkat dan bermimpi. Dalam mimpi, dia mendatangi kebunnya. Ini adalah musim semi dan bunga-bunga penuh bermekaran. Dia berjalan ke paviliun dan melihat jaring laba-laba di dalamnya. Seekor kupu-kupu terbang dan tersangkut di jaring. Bao Gong tidak bisa membantu hanya meratap: “Kematian datang untuk semua. Bahkan tanaman dan serangga pun tak luput.”

Saat itu, ada seekor kupu-kupu besar datang dan menyelamatkan kupu-kupu pertama dari jaring. Tidak lama setelah itu, seekor kupu-kupu lain terbang dan tersangkut. Kupu-kupu besar juga menyelamatkannya.

Kemudian kupu-kupu ketiga tertangkap di jaring. Bao Gong yakin kupu-kupu besar itu akan menyelamatkannya, tetapi ternyata tidak. Ia hanya melesat dari satu bunga ke bunga lain dan akhirnya terbang.

Semua manusia dilahirkan dengan belas kasih. Bao Gong bertanya: “Mengapa kamu tidak mau menyelamatkannya? Saya mau. “Saat itu juga, dia terbangun dari mimpinya.

Polisi Zhang Qian datang melapor saat jam makan siang. Bao Gong bertanya kepadanya, “Adakah kasus yang harus saya pelajari?”

Zhang Qian memberitahunya tentang kasus tiga putra Wang yang membunuh Ge Biao. Bao Gong memanggil ketiga saudara laki-laki dan ibu mereka ke pengadilan. Bao Gong adalah pejabat yang tidak memihak dan tidak pernah mengambil pendekatan yang ceroboh dalam persidangan, tidak seperti hakim di Kabupaten Zhongmu.

Jika salah satu dari saudara itu terbukti melakukan pembunuhan, orang itu akan dieksekusi. Namun, karena ingin melindungi saudara mereka, semua berjuang untuk mengaku sebagai pihak yang bersalah di pengadilan. Masing-masing dari mereka mengklaim sebagai orang yang mengalahkan Ge Biao sampai mati, mengatakan bahwa dua saudara lainnya tidak bersalah. Bao Gong terjebak dalam dilema.

Sang ibu menjelaskan bahwa ketiga bersaudara itu belajar musik klasik dan diajari sopan santun serta perilaku yang baik ketika mereka masih muda. Meskipun keluarganya tidak mampu, mereka adalah putra yang berbakti. Sang ibu berkata bahwa putra tertua, Jinhe adalah anak yang berbakti, dan jika dia mati, tidak akan ada yang membantu hidupnya. Dia juga mengatakan bahwa putra kedua, Tiehe, adalah pencari nafkah keluarga dan juga harus selamat. Namun, dia setuju untuk mempersilahkan putra bungsunya, Shihe, dieksekusi.

Bao Gong bingung. Mungkinkah si putra bungsu adalah anak tirinya? Itukah sebabnya sang ibu setuju untuk membiarkannya dieksekusi? Bao Gong merasa agak sedih. Ketika dia bertanya lebih dalam, sang ibu menjelaskan bahwa si putra bungsu sebenarnya adalah putra kandungnya. Kedua kakak laki-laki itu ternyata adalah putra angkat. Namun ia memohon agar dua putra angkatnya dibebaskan, agar terbebas dari beban moral.

Ibu ini sangat berbudi luhur seperti ibu Tao Kan* dan Meng Guang**, dua wanita dalam sejarah Tiongkok yang terkenal karena kebajikan mereka. Ketiga putranya juga seperti Zeng Shen dan Min Sun, murid-murid Konfusius yang terkenal karena saleh dan berbakti pada orang tua.

Bao Gong menghubungkan kasus itu dengan mimpi yang baru saja dialaminya tentang tiga kupu-kupu. Ia terkejut mengetahui bahwa mimpi itu adalah petunjuk dari Langit baginya untuk menyelamatkan putra ketiga.

Dia melaporkan kasus itu ke pengadilan kekaisaran. Kaisar memaafkan ketiga saudara laki-laki itu dan bahkan menempatkan mereka di posisi penting. Jinhe diangkat menjadi pejabat di istana kekaisaran, dan Tiehe juga diberi posisi. Shihe dijadikan hakim di Kabupaten Zhongmu. Julukan “Lady of Virtue” diberikan kepada ibu mereka. Pengadilan kekaisaran sangat menghormati wanita berbudi luhur dan keturunan yang berbakti. (epochtimes/eva)

*Tao Kan adalah seorang jenderal terkenal selama Dinasti Jin Timur. Ibunya, Zhan, adalah salah satu dari Four Great Mothers di Tiongkok kuno. Dia memberi contoh bagi Tao Kan dengan menolak toples ikan yang diasinkan yang dimaksudkan untuk menyuap Tao Kan.

**Meng Guang adalah wanita jelek dan gemuk yang bersikeras menikahi Liang Hong, pria yang berbudi luhur.