Tidak ada seorang pun yang sempurna. Semua orang berbuat salah.
Bahkan mereka yang berprestasi juga tidak luput dari kesalahan. Maka, tidaklah bijak apabila seseorang itu tidak bisa memaklumi kesalahan orang lain.
Jika seseorang selalu menyalahkan orang lain setiap kali ada perselisihan, ia akan membuat musuh. Hampir tidak mungkin untuk berteman jika seseorang tidak memiliki kebajikan untuk megampuni dan bermurah hati. Dan sebaliknya, orang lain kemungkinan juga tidak akan memaafkan atau bermurah hati kepada Anda.
Beberapa tokoh di era Dinasti Tang Tiongkok (618-907 M) menyelesaikan dendam dengan kemurahan hati, seperti dalam kisah Du Chuke.
Membalas Kebencian dengan Pengampunan
Du Chuke bersama pamannya Du Yan bertugas dalam pasukan Wang Shichong . Saat itu, kemungkinan Du Chuke akan dipromosikan adalah kecil, karena Wang, yang sangat dikenal setelah memecat Kaisar terakhir Dinasti Sui (581-618 M), dikepung oleh pasukan Tang di wilayah barat.
Pamannya, Du Yan membenci Du Chuke dan juga saudara laki-lakinya. Kakak sulungnya dibunuh atas perintah Wang Shichong, karena Du Yan membencinya. Du Chuke sendiri dijebloskan ke penjara, di mana dia hampir mati kelaparan. Meskipun demikian, dia tidak menyimpan dendam pada pamannya.
Setelah Jenderal Tang, Li Shimin, mengalahkan Wang Shichong, Du Yan (598-649 AD) menghadapi eksekusi hukuman mati karena mengabdi pada Wang Shichong.
Saudara laki-laki Du Chuke yang lain, Du Ruhui, adalah seorang penasihat senior Li Shimin. Du Chuke pergi menemui saudaranya itu dan memohon padanya untuk menyelamatkan nyawa paman mereka. Awalnya Du Ruhui menolak.
”Paman kita sudah membunuh saudara sulung kita,” ujar Du Chuke. “Jika kau membunuhnya, itu akan mempercepat akhir garis keturunan keluarga kita. Sungguh menyedihkan.”
Du Ruhui tersentuh. Dia melepaskan kebenciannya dan membalas kebencian kepada paman mereka dengan kemurahan hati. Atas permintaan Du Ruhui, Li Shimin menyelamatkan nyawa Du Yan.
Disalahkan Secara Tidak Adil karena Perselisihan
Setelah dibebaskan, Du Yan bergabung dengan kamp Pangeran Li Jiancheng, yang merupakan saudara laki-laki tertua Li Shimin dan lawannya. Fang Xuanling, penasihat utama Li Shimin, khawatir mengenai ancaman yang akan ditimbulkan Li Jiancheng jika dia merekrut Du Yan. Fang menyarankan agar Li Shimin menugaskan Du Yan ke posisi di mana bakatnya dapat digunakan dengan baik.
Pada tahun 625, terjadilah pemberontakan. Setelah ditekan, para pemberontak mengaku bahwa mereka mengikuti perintah dari Pangeran Li Jiancheng, tetapi mereka menyalahkan Du Yan karena dianggap memicu perselisihan antara Li Shimin dan Pangeran Li Jiancheng. Li Shimin sadar benar bahwa Du Yan tidak bersalah dan memberinya hadiah 300 ons emas.
Setelah Li Shimin menjabat sebagai Kaisar Taizong pada tahun 626, ia menunjuk Du Yan sebagai menteri yang bertanggung jawab atas seluruh hierarki pejabat pemerintah. Atas rekomendasi Du Yan, lebih dari 40 pejabat dipromosikan untuk bekerja di pengadilan kekaisaran, dan banyak dari mereka unggul dalam melayani negara.
Hidup yang Diselamatkan
Setelah menyelamatkan nyawa pamannya, Du Chuke hidup sebagai pertapa di pegunungan Song yang kini terletak di Provinsi Henan, berjarak ratusan mil di wilayah timur ibukota Tang. Dia lalu kembali bekerja di istana kekaisaran pada tahun 630, hingga naik pangkat menjadi menteri.
Du Chuke ketahuan menyuap pejabat istana atas nama putra keempat Kaisar Taizong, yang dianggap mengganggu suksesi pemerintahan kekaisaran yang sudah direncanakan oleh Kaisar Taizong.
Ketika Taizong mengetahui peran Du Chuke dalam kasus tersebut, ia merahasiakannya. Dia mengumumkan keterlibatan Du Chuke setelah kejahatan itu terungkap, tetapi Taizong menyelamatkan hidupnya. Ia menempatkan Du Chuke pada posisi komisaris wilayah, agar Du Chuke bisa menebus kesalahannya dengan melayani negara.
Jadi, Du Chuke, yang telah memperlakukan pamannya dengan adil di masa lalu, pada akhirnya mendapatkan hadiah dalam bentuk kebaikan.
Ini adalah kisah bagaimana orang-orang dengan latar belakang berbeda di era Dinasti Tang memulihkan dendam mereka dengan mengampuni dan memaklumi kesalahan orang lain. Itulah mengapa Dinasti Tang berjaya di masa pemerintahan Kaisar Taizong.
Diadaptasi dari Old Book of Tang, Biography Volume 16
(minghui.org/tia/eva)
