Site icon NTD Indonesia

Kebajikan dalam Ilmu Bela Diri

Bagi siapapun terutama anak-anak yang belajar ilmu bela diri, pertama-tama harus mengetahui hal ini:

Moral dalam ilmu bela diri adalah untuk mencegah dan menghindari konflik. Karakter mandarin untuk bela diri adalah: Wu (武). Karakter ini terdiri dari dua huruf: “menghentikan” (止) and “perang” (戈). Ilmu bela diri Tiongkok kuno bukan tentang agresi, tapi untuk membela yang lemah dari kejahatan, tentang menjadi orang baik.

 “Memiliki puluhan bahkan ratusan kekuatan tanpa harus menggunakannya”, meskipun seseorang memiliki kemampuan dan senjata yang dapat menghadapi puluhan bahkan ratusan orang, ia akan selalu menjaga kebenaran dan tidak menggunakannya.

Kebajikan dalam ilmu bela diri berhubungan secara langsung dengan moral. Melakukan kebajikan berarti mengikuti hukum peredaran alam semesta. Seseorang yang memiliki kemampuan bela diri percaya akan hukum karma, dapat membedakan kebaikan dan kejahatan, mengutamakan nilai moral, memahami bahwa kebaikan dan kejahatan akan mendapat balasan yang setimpal, mengentaskan kejahatan dan menjunjung tinggi kebaikan, inilah yang disebut kebajikan dalam ilmu bela diri.

Meskipun ia memiliki senjata tajam dan pasukan bersenjata lengkap, ia akan tetap menjaga kebenaran dan tidak akan menggunakannya. Bahkan sebaliknya, ia akan selalu menggunakan kelembutan untuk mengalahkan kekerasan — ini adalah landasan kebajikan dalam ilmu bela diri.

Jika orang yang memiliki kemampuan bela diri memanfaatkannya untuk melakukan kejahatan, ia akan kehilangan kebajikan, dan juga akan kehilangan nama baik dan harga diri.

Kebajikan dalam ilmu bela diri akan hilang ketika seseorang tidak dapat membedakan kebaikan dan kejahatan, menggunakan kekuatan untuk menindas yang lemah, atau membantu yang jahat untuk melakukan kezaliman. Seseorang yang tidak memiliki kebajikan tidak hanya akan kehilangan kebajikan saja tapi juga akan kehilangan kebaikan dan keadilan, ia tidak akan mampu mempertahankan kemampuan bela dirinya lagi, dan hanya akan menerima akibat dari karma buruknya.

Seseorang akan mengumpulkan pahala dalam ilmu bela diri ketika ia percaya akan balasan hukum karma, dan dapat membedakan yang baik dari yang jahat serta yang benar dari yang sesat, memandang hambar pada ketenaran dan kemakmuran, dan berhati mulia serta teguh. Meskipun ia menghadapi berbagai kesulitan, ia tidak akan berhenti meskipun telah diuji berulang kali. Ketika menghadapi kekuatan dan kekuasaan jahat, atau pun menghadapi orang jahat, ia tidak akan takut.

Tanpa ketakutan, hati akan tetap tenang dan pikiran tetap terpusat. Seseorang dengan ketrampilan bela diri yang sempurna dapat mencegah kekerasan dan konflik. Jika ia berperilaku sesuai dengan kebajikan tradisional Tiongkok akan kesetiaan, memaafkan, kebaikan, keadilan, belas kasih, dan kejujuran, ia akan dapat meningkatkan kemampuan ilmu bela dirinya dan dengan sendirinya memiliki kebajikan dalam ilmu bela diri.

Seseorang yang mempraktekkan ilmu bela diri dan standar moral secara bersammaan, baru dapat mewarisi ilmu bela diri warisan dewa dalam budaya Tiongkok 5.000 tahun ini. (ntd.com/liyoufu/chr)