Budaya

Kebijaksanaan Mozi yang Mencegah Peperangan

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, keyakinan seseorang mencegah perang yang menghancurkan. Namanya Mozi — seorang filsuf yang kebijaksaan dan keberaniannya mengubah nasib seluruh bangsa.

Mozi, yang nama kecilnya adalah Zhai, hidup di masa periode Negara-negara Berperang (475-221 SM). Ia kemudian menjabat sebagai menteri Song, menulis teks-teks filsafat, dan mendirikan mazhab Mohist — sebuah gerakan yang menekankan cinta kasih universal, kesederhanaan, dan kebijaksanaan praktis.

Tidak seperti banyak pemikir pada masanya yang berfokus pada pengembangan diri atau kebajikan abstrak, filosofi Mozi didasarkan pada tindakan. Ketika ia mendengar bahwa pengrajin ternama Lu Ban— telah membangun tangga pengepungan bagi Negara Chu yang kuat untuk menyerang Song, ia tidak bisa tinggal diam.

Tanpa menunda, Mozi berangkat ke Chu. Setelah tujuh hari tujuh malam perjalanan yang berat, kakinya melepuh. Ia merobek kain jubahnya untuk membalutnya, terus maju meskipun kesakitan. Tujuannya sederhana namun mendesak: menghentikan perang sebelum dimulai.

Menemui Lu Ban

Ketika Mozi akhirnya tiba di Chu, ia pertama-tama pergi menemui Lu Ban. Ia memohon “Mengapa kau membangun tangga pengepungan untuk membantu Chu menyerang Song?” “Kesalahan apa yang telah diperbuat Song?”

“Chu sudah memiliki wilayah yang luas, tetapi penduduknya terlalu sedikit. Mengorbankan pendudukmu yang sedikit demi wilayah yang lebih luas bukanlah kebijaksanaan. Menyerang negara yang tidak mengganggumu bukanlah kebajikan. Mengetahui ini adalah sesuatu yang salah tetapi gagal menasihati rajamu tidak bisa disebut kesetiaan. Dan berjuang untuk kemenangan tetapi tidak mencapai apa pun tidak bisa disebut kekuatan.”

Lu Ban menggelengkan kepalanya. “Keputusan untuk menyerang Song sudah dibuat oleh Raja Chu,” katanya. “Itu bukan urusanku.” Mozi menyadari bahwa akal sehat saja tidak akan mampu menggoyahkan sang pengrajin. Untuk melindungi tanah airnya, ia perlu meyakinkan raja secara langsung.

Menemui Raja Chu

Di hadapan Raja Chu, Mozi tidak berbicara tentang perang atau politik, melainkan tentang akal sehat. “Yang Mulia, bayangkan seseorang yang meninggalkan kereta kudanya yang bagus untuk mencuri kereta tetangganya yang rusak, dan membiarkan jubah brokatnya tak tersentuh demi mengambil kemeja kasar milik orang lain, dan yang meninggalkan ikan dan daging di rumahnya sendiri demi mencuri sayuran liar dari panci tetangga. Orang macam apa ini?”

Raja tertawa. “Orang seperti itu pastilah orang gila.”

“Memang,” kata Mozi. “Negara Chu memiliki rusa terbaik dari Rawa Yunmeng, ikan dan udang yang melimpah dari Sungai Yangtze dan Han — kekayaan yang tak tertandingi. Sebaliknya, Song, negara yang tandus, tidak memiliki pohon-pohon besar, tidak ada hewan buruan, hampir tidak ada ikan atau kelinci. Jika Yang Mulia menyerang Song, itu seperti orang gila yang meninggalkan kekayaan demi mencuri kemiskinan.”

Sang Raja terdiam, terkesan dengan argumen tersebut. “Bagus sekali! Tapi Lu Ban sudah membuat tangga pengepungan untukku. Dia bilang dengan itu, aku pasti memenangkan pertempuran.”

Adu Kecerdasan, Bukan Senjata

Bertekad untuk meneruskan usahanya, Mozi bertemu lagi dengan Lu Ban. Ia membuka selempangnya dan membentangkannya di atas meja, yang melambangkan tembok ibu kota Song. Ia kemudian meletakkan ikat kepalanya di atasnya, melambangkan para prajurit dan pertahanan. Kemudian dia mengajak Lu Ban adu strategi, disaksikan raja.

Lu Ban mendemonstrasikan taktik pengepungannya sembilan kali, menggunakan model untuk menunjukkan bagaimana pasukan Chu akan menyerang. Setiap kali, Mozi membalas dengan manuver pertahanan baru, menangkis setiap serangan. Akhirnya, sang pengrajin kehabisan ide, sementara Mozi masih memiliki strategi cadangan.

“Aku tahu cara menembus pertahananmu,” Lu Ban mengakui, “tapi aku tidak akan mengatakannya.”
“Aku juga tahu langkahmu selanjutnya,” jawab Mozi, “tapi aku juga akan tetap diam.”

Ketika Raja Chu bertanya apa maksud mereka, Mozi menjelaskan: “Lu Ban percaya bahwa jika dia membunuhku, Song akan jatuh. Namun dia tidak tahu bahwa murid-muridku—dua ratus orang—telah memasang mekanisme pertahananku di tembok kota Song, siap menghadapi serangan apa pun. Sekalipun aku terbunuh, kemenangan bagi Chu tetap mustahil.”

Sang Raja tercengang. Melihat kesia-siaan perang, ia pun mengurungkan niatnya untuk menyerang Song.

Keberanian dan kebijaksanaan Mozi telah mencegah pertumpahan darah. Kisahnya abadi bukan hanya sebagai kisah tentang kemenangan intelektual atas agresi, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kekuatan sejati terletak pada akal sehat, kasih sayang, dan tekad untuk melindungi sesama melalui cara-cara damai.