Di Tiongkok Kekaisaran, peran seorang bupati sangat berbeda dengan peran hakim atau kepala kepolisian modern. Dikenal dengan sebutan yang penuh kasih sayang sebagai “Pejabat Ayah dan Ibu” (fumu guan), seorang bupati bertanggung jawab penuh atas administrasi, pemungutan pajak, dan penegakan keadilan di wilayah kekuasaannya. Ketika terjadi kejahatan keji, bupati tersebut menghadapi tekanan yang sangat besar baik dari atasan birokrasinya maupun masyarakat setempat untuk memulihkan ketertiban.
Pada masa Dinasti Ming (1368–1644), sebuah periode yang ditandai oleh tradisi sastra yang dinamis dan ketertarikan budaya yang mendalam terhadap keadilan, kisah-kisah tentang pejabat yang bijaksana menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita rakyat. Kisah-kisah ini sering menyoroti perpaduan unik antara kecerdasan manusia yang tajam dan campur tangan Yang Maha Kuasa, yang menggambarkan keyakinan luas bahwa Tuhan akan selalu membantu pejabat yang jujur dalam mengungkap kebenaran.
Salah satu tokoh paling terkenal dalam tradisi ini pada masa Dinasti Ming adalah Ma Yingxiang, yang kisah-kisah heroiknya tercatat dalam buku-buku catatan sejarah.
Saat Ma Yingxiang menjabat sebagai bupati Kabupaten She (di bagian tenggara Provinsi Anhui), terjadi sebuah kasus pembunuhan di wilayah tersebut. Kasus itu tak terpecahkan dalam waktu yang lama, dan si pembunuh tak kunjung tertangkap. Atasan-atasannya pun menyerahkan kasus rumit ini kepada Ma Yingxiang.
Ma Yingxiang adalah seorang yang sangat taat beragama. Ia terlebih dahulu menjalani masa puasa dan pantang, lalu pergi ke sebuah kuil untuk beribadah. Di sana ia berdoa dengan sungguh-sungguh, seraya berkata, “Jika Yang Maha Kuasa mengizinkan aku mengetahui kebenaran, kirimkanlah hujan untuk mengungkapkannya kepadaku!”
Malam itu, hujan lebat memang turun dari langit. Ma Yingxiang tahu bahwa dewa akan mengungkapkan kebenaran kepadanya dan membantunya memecahkan kasus tersebut.
Keesokan harinya, Ma Yingxiang memerintahkan para tersangka yang terlibat dalam kasus itu untuk berlutut satu per satu di satu sisi aula, sementara peti mati yang berisi jenazah diletakkan di sisi lainnya. Ia berkata kepada para tersangka mengenai hujan yang turun setelah ia berdoa minta petunjuk Yang Kuasa. Ia kemudian memerintahkan para petugas untuk membuka tutup peti mati tersebut. Seekor tikus bergegas keluar dan melesat langsung ke bawah jubah seorang tersangka yang sedang berlutut di dekatnya, lalu menghilang.
Sebuah wawasan tiba-tiba menyadarkan Ma Yingxiang. Ia langsung menunjuk pria itu dan berseru, “Ini adalah pertanda dari para dewa, Anda pelakunya!” Wajah pria itu langsung pucat. Setelah menjalani serangkaian interogasi, pria itu segera mengaku dan diadili.
Pada kesempatan lain, seorang pria dibunuh di pinggiran kota, dan tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Ma Yingxiang memerintahkan agar jenazahnya dipindahkan ke dalam gerbang kabupaten. Ia mengumumkan kepada masyarakat: “Pria ini belum menghembuskan napas terakhirnya. Masyarakat diperbolehkan melihatnya secara bebas, dan keluarganya diundang untuk mengambil jenazahnya.”
Tak lama kemudian, seorang pria tiba di gerbang kabupaten. Ia berdiri di sudut dan menghela napas panjang berulang kali. Ketika ia melihat tak ada yang memperhatikan, ia memanfaatkan kesempatan itu untuk melangkah maju, mencengkeram leher korban, dan mencekiknya sekuat tenaga.
Sebenarnya, Ma Yingxiang telah menempatkan beberapa orang secara tersembunyi untuk mengawasi daerah tersebut. Begitu melihat tindakan pria itu, para petugas segera melaporkannya. Setelah mengetahui situasi tersebut, Ma Yingxiang segera mengirimkan pasukannya untuk menangkap pria itu. Ternyata, pria tersebut melakukan pembunuhan demi keuntungan finansial. Karena takut korban belum benar-benar meninggal dan bisa membongkar kebenaran, ia kembali ke tempat kejadian untuk mencekik korban guna memastikan kematiannya.
Sejak saat itu, semua orang di kabupaten itu membicarakan kemampuan Ma Yingxiang dalam memecahkan kasus seolah-olah ia dipandu oleh petunjuk ilahi dan strategi yang cerdik. Ma Yingxiang, yang selalu taat beragama dan memiliki wawasan yang mendalam, tentu saja mampu menghasilkan ide-ide luar biasa dan mendapat pertolongan Tuhan.
Komentar sejarah di zaman modern
Jika ditelaah dari sudut pandang modern, teks ini memperlihatkan perpaduan yang brilian antara spiritualitas tradisional dan psikologi kriminal yang canggih.
Dalam kasus pertama, Ma Yingxiang dengan cermat menangani kegelisahan spiritual yang mendalam yang dialami tersangka. Melalui permohonannya kepada Yang Maha Kuasa agar turun hujan yang terkabul serta pertunjukan pembukaan peti mati yang dilakukannya di depan umum, ia menciptakan suasana yang mencekam dan dipenuhi rasa takut akan hal-hal gaib.
Ketika tikus itu tiba-tiba muncul, seorang penyidik yang kurang berpengalaman mungkin akan menganggapnya sekadar gangguan belaka. Namun, Ma Yingxiang memiliki kecerdasan yang tajam sehingga langsung menganggapnya sebagai pertanda dari langit, yang berhasil meruntuhkan pertahanan psikologis tersangka yang bersalah dan memaksanya untuk segera mengaku.
Kasus kedua ini menunjukkan operasi penyamaran yang sangat cerdik, yang sudah ada berabad-abad sebelum psikologi forensik modern berkembang. Ma Yingxiang menyadari bahwa seorang penjahat yang didorong oleh keserakahan finansial pada dasarnya akan merasa paranoid akan tertangkap. Dengan menyebarkan kabar bohong bahwa korban masih hidup, ia menjebak korban secara psikologis dengan sempurna. Rasa takut si pembunuh sendiri memaksanya untuk kembali ke tempat kejadian perkara, sehingga secara efektif ia membuktikan kesalahannya sendiri di hadapan para saksi mata yang bersembunyi.
Pada akhirnya, teks ini berfungsi sebagai perumpamaan moral yang mendalam. Meskipun penduduk setempat sepenuhnya mengaitkan kejeniusan Ma Yingxiang dengan “bantuan ilahi,” kisah ini justru menonjolkan wawasan kemanusiaan yang sejati dari sang bupati, yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan terletak pada pemahaman akan kerumitan hati manusia.

