Sepanjang sejarah, orang-orang percaya bahwa mereka yang berpegang teguh pada kebenaran diawasi oleh kekuatan yang lebih tinggi. Sebaliknya, orang yang jahat pada akhirnya akan menemui kemalangan. Pepatah lama “Tiga kaki di atas kepala anda, para dewa sedang mengawasi” berbicara tentang kebenaran universal: Makhluk surgawi tidak pernah jauh dari mereka yang berbuat baik.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat manusia masih memiliki landasan moral. Seandainya sepenuhnya rusak — dilucuti dari nilai-nilai seperti kebajikan, kebenaran, kepatutan, kebijaksanaan, dan kepercayaan — makhluk surgawi pasti akan meninggalkannya. Jika dibiarkan, dunia seperti itu akan membawa pada kehancurannya sendiri.
Keberanian Xu Shan di tengah ketidakadilan
Contoh yang menarik datang dari Catatan Para Dewa《稽神錄》, yang menceritakan kisah seorang pemuda bernama Xu Shan, seorang cendekiawan yang mengabdi pada masa periode Lima Dinasti di Tiongkok selatan di negara Wu. Menjadi yatim piatu di usia muda, Xu Shan dibesarkan di Kabupaten Yuzhang bersama adik perempuannya.
Setelah Yang Xingmi, penguasa Wu, menaklukkan wilayah tersebut, seorang perwira militer menculik adik perempuan Xu Shan. Berharap untuk menjadikannya sebagai istrinya, perwira tersebut mengirimkan hadiah pertunangan dan mencoba merundingkan pernikahan melalui Xu Shan. Namun Xu Shan menolaknya.
Ketika perwira itu mencoba lagi, Xu Shan tidak hanya menolak — ia membuang hadiah-hadiah itu. Dengan marah perwira itu menghunus pisau dan mengarahkannya ke leher Xu. Namun, Xu Shan tidak menunjukkan rasa takut. Akhirnya, perwira itu membawa adik perempuannya dengan paksa.
Xu Shan menolak untuk menyerah. Ia pergi ke ibu kota untuk menemui Yang Wo, putra dan penerus Yang Xingmi. Saat itu, Yang Wo baru saja mengambil alih kekuasaan dan memerintah dengan disiplin yang ketat. Ia tetap sulit dijangkau oleh warga biasa, membuat niat Xu Shan semakin sulit dilaksanakan.
Tepat pada hari Xu Shan tiba di Baisha, Yang Wo bermimpi dengan jelas. Di dalamnya, sesosok berkata: “Ada seorang cendekiawan berbakat bernama Xu Shan yang menginap di sebuah penginapan di Baisha. Ia ingin berbicara dengan anda tentang suatu hal penting. Perlakukan dia dengan baik.”
Setelah terbangun, Yang Wo menanggapi mimpi itu dengan serius dan segera memanggil Xu Shan.
Ketika mereka bertemu, Xu menceritakan semuanya—penculikan, ancaman, dan penderitaan keluarganya. Yang Wo murka. Ia memerintahkan sang perwira untuk mengembalikan adik perempuan Xu Shan kepada keluarganya. Gubernur Shezhou, Tao Ya, sangat terkesan dengan keberanian dan integritas moral Xu Shan sehingga ia mengangkatnya sebagai wakil pejabat daerah.
Tangan Tuhan yang Tak Terlihat
Kisah ini mencerminkan keyakinan budaya yang mendalam — bahwa kekuatan Tuhan membentuk dunia kita, seringkali tak kasat mata. Bahkan mimpi, baik dalam tradisi Timur maupun Barat, dipandang sebagai alat yang digunakan kekuatan yang lebih tinggi untuk campur tangan.
Dalam mitologi Yunani, Morpheus adalah dewa mimpi, yang mampu menampakkan diri dalam wujud manusia untuk menyampaikan pesan melalui tidur. Meskipun teks-teks Tiongkok kuno tidak menyebutkan dewa mimpi secara spesifik, teks-teks tersebut menunjukkan bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang acak, melainkan diarahkan oleh Tuhan.
Bagi mereka yang beriman, iman membawa ketenangan batin. Mereka merasa terlindungi, betapa pun parahnya situasinya. Namun, mereka yang tidak percaya pada kekuatan yang lebih tinggi seringkali hidup dalam ketakutan ketika krisis yang sesungguhnya melanda. Hanya mereka yang berintegritas moral dan percaya kepada Tuhan yang menemukan kedamaian sejati — karena mereka tahu bahwa, bahkan ketika tidak ada orang lain yang melihat, surga tetap melihatnya.

