Budaya

Kesombongan yang Menghancurkan Kesempatan

Pada masa Dinasti Tang, seorang pria bernama Zheng Youxuan tinggal di Kota Chang’an. Keluarga Zheng berstatus bangsawan, sementara keluarga tetangganya, Lu Qiushi, miskin dan dari kelas sosial yang lebih rendah.

Zheng belajar bersama dengan putra Lu. Sombong karena latar belakang keluarganya, Zheng sering berbicara dengan putra Lu dengan nada merendahkan. Dia berkata kepada putra Lu suatu hari, “Ayahmu tidak berada di kelas sosial yang sama dengan keluarga saya, namun kita belajar pada guru yang sama. Meskipun saya tidak mengatakan apa-apa, apakah anda tidak merasa malu?”

Putra Lu merasa terpukul setelah mendengar ini, dan beberapa tahun kemudian dia jatuh sakit dan meninggal.

Beberapa tahun setelah itu, Zheng lulus ujian kekaisaran dan menjadi administrator di Kabupaten Tang An. Dia berteman dengan seorang pria muda berusia 20 tahun bernama Qiu Sheng. Kedua pemuda itu saling bertemu setiap hari dan sering bepergian bersama.

Ayah Qiu adalah seorang pengusaha sukses yang propertinya berjumlah puluhan ribu, dan Qiu tidak ragu untuk berbagi kekayaannya dengan Zheng. Dia sering memberi Zheng uang dan apa pun yang mungkin dibutuhkan Zheng.

Namun, Qiu bukan dari keluarga bangsawan. Karena perbedaan kelas mereka, Zheng sering memperlakukan Qiu dengan tidak sopan, meskipun Qiu bermurah hati dan baik terhadapnya.

Suatu hari, Zheng mengadakan pesta makan malam dan mengundang semua temannya kecuali Qiu. Saat pesta, seseorang menyalahkan Zheng karena hal ini, menanyakan kepadanya mengapa Qiu tidak diundang meskipun mereka begitu dekat dan makan bersama setiap hari.

Zheng merasa bersalah dan segera mengundang Qiu ke pesta.

Setelah Qiu tiba, Zheng memberinya secangkir besar anggur dan memintanya untuk minum semuanya. Ketika Qiu menjawab bahwa dia tidak bisa minum, Zheng menjadi marah dan mencaci makinya.

“Kamu hanya seorang pria dari jalanan. Mengapa kamu tidak melepaskan status rendahmu dan hidup seperti bangsawan? Kamu seharusnya menganggap diri telah beruntung bisa berteman dengan saya, tapi kamu malah menolak minum anggur yang saya tawarkan?!” teriak Zheng.

Setalah meneriakkan kata-kata yang menyakitkan hati tersebut, Zheng bangkit dan meninggalkan pesta.

Qiu, merasa terhina, menundukkan kepalanya dan juga pergi. Tak lama terdengar kabar bahwa Qiu jatuh sakit dan meninggal.

Pada tahun berikutnya, Zheng dipecat dari jabatannya. Di sana, dia mendengar bahwa ada seseorang bernama Wu, seorang penganut Tao yang terkenal, tinggal di Gunung Shumen. Bertekad untuk memperbaiki diri, ia berangkat ke gunung mencari Wu untuk menjadi muridnya. Namun, setelah 15 tahun, Zheng menjadi kurang rajin.

“Jika anda tidak bertekad dalam kultivasi, maka anda hanya membuang-buang waktu di gunung”, kata Wu kepada Zheng.

Karena itu, Zheng meninggalkan gunung dan menghabiskan hari-harinya tanpa tujuan di Kabupaten Mengyang untuk waktu yang lama sebelum kembali ke Kota Chang’an.

Kebenaran Terungkap

Dalam perjalanannya ke Chang’an, Zheng melewati Kota Bao. Di sana, dia tinggal di sebuah penginapan dan dia bertemu dengan seorang bocah lelaki tampan yang berusia sekitar 12 tahun. Zheng berbicara dengan bocah itu dan mendapati dia sangat cerdas dan fasih berbicara.

Dalam percakapan, bocah itu bertanya pada Zheng, “Kita sudah lama berteman ya. Apakah anda masih mengingat saya?”

“Tidak, saya tidak ingat”, jawab Zheng.

“Saya pernah menjadi putra Lu Qiushi di Chang’an”, kata bocah itu. “Kita belajar bersama. Karena anda menganggap keluarga saya miskin dan rendah, anda memandang rendah saya”.

Bocah itu melanjutkan, “Belakangan, saya lahir di keluarga Qiu dan menjadi teman anda. Saya memberi anda semua uang dan hal-hal yang anda butuhkan. Anda tidak berterima kasih kepada saya tetapi malah mencaci saya sebagai pria dari jalanan. Kenapa anda begitu sombong?”

Karena terkejut, Zheng membungkuk dan meminta maaf. “Itu memang dosa saya. Anda tentunya orang suci. Jika tidak, bagaimana anda bisa tahu kejadian dari dua kehidupan sebelumnya?” kata Zheng.

“Saya seorang Tao sejati dari Surga Taiqing”, jawab bocah itu. “Karena kamu memiliki hubungan yang ditakdirkan dengan Taoisme, para dewa mengirimku ke dunia manusia untuk menjadi temanmu dan mengajarimu keterampilan untuk menjadi abadi di masa depan. Tapi anda terlalu sombong dan tidak mendapat kesempatan untuk mempelajari keterampilan itu. Sayang sekali!”

Setelah kata-kata ini, bocah itu menghilang.

Tiba-tiba Zheng memahami semua peristiwa masa lalu itu, tetapi sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Dia membenci dirinya sendiri dan merasa sangat malu. Karena terpukul, pada akhirnya, dia meninggal karena kesedihan dan penyesalan. (epochtimes/bud)