Kali ini kita tidak bicara tentang keindahan alam Flores yang memang indah, tetapi kerajinan masyarakatnya: tenun ikat, yang sesungguhnya juga tidak kalah indahnya.
Diceritakan oleh pemandu lokal kami, perempuan Flores rata-rata pandai atau setidaknya bisa menenun, mereka belajar sejak kecil. Benar, bila kita mengunjungi desa-desa adat yang tersebar di daerah Manggarai, Ngada dan Kabupaten Sikka, alat tenun tradisional diletakkan persis di beranda rumah. Penulis berpikir, barangkali karena pekerjaan ini menyita demikian banyak waktu, bila dilakukan di beranda depan, sambil menenun tentu bisa menyapa tetangga, juga dapat melihat-lihat pemandangan atau keramaian di luar. Dan dari pengamatan: para penenun umumnya juga mengunyah sirih, setidaknya yang usia agak lanjut.
Sebenarnya juga tidaklah mengherankan: kain tenun tidaklah terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Flores, apakah untuk pesta, upacara dan kegiatan sosial penting lainnya, bahkan menjadi bagian dari mas kawin dan penutup jenazah.
Saat berada di Kabupaten Sikka, penulis berkesempatan menyaksikan proses pembuatan tenun ikat tradisional: mulai dari bahan baku kapas, dipintal menjadi benang (tentu saja banyak yang telah beralih menggunakan benang buatan pabrik), kemudian proses pembuatan motif/desain melalui teknik ikat benang-benang lungsi (benang yang disusun sejajar), serta proses pencelupan (mewarnai) dan lainnya.
Karena proses pewarnaan dengan bahan-bahan alami amat memakan waktu, belakangan ini banyak digunakan pewarna sintetis yang mampu menghasilkan beragam warna yang pewarna alami tidak mungkin hasilkan dalam tempo singkat. Diceritakan, proses pencelupan tradisional dilakukan berulang-ulang memakan waktu mingguan, bulanan atau bahkan tahunan. Di balik selembar selendang, selimut, sebelumnya tidak pernah terbayang oleh penulis – betapa besar upaya, perhatian, dan detail yang dicurahkan.
Penulis sempat mengunjungi daerah Manggarai, Ngada dan Sikka. Pertama kali membeli kain tenun di sebuah pasar di Manggarai, penulis membeli tenun dari pewarna sintetis, meskipun istri pesan yang alami. Setelah “salah” beli, barulah mengerti.
Lain waktu jalan-jalan ke Flores, janganlah lupa membawakan selendang untuk istri, atau selimut untuk suami di rumah. Bon voyage! (kar)

