Site icon NTD Indonesia

Kisah Ajaib Tabib Tiongkok Kuno: Hu Gong dan Labunya

Banyak kebudayaan Tiongkok yang asal-usulnya berasal dari Ilahi. Termasuk juga, bidang pengobatan dan kedokteran. Pada zaman dahulu, ada sebuah ungkapan untuk menggambarkan praktek para tabib hebat, yang disebut “menggantung labu, menyelamatkan dunia” (Xuanhu Jishi). Apa maksud dari ungkapan ini? Berikut adalah kisah asal-muasalnya.

Adalah seorang pria bernama Hu Gong, yang hidup pada zaman Dinasti Han. Ia berlatih pengobatan di daerah Runan (Provinsi Henan kini), dan selalu membawa sebuah labu kemana-mana. Di pasar, ia akan menjual obat yang diambilnya dari dalam labu tersebut, dengan harga yang tidak pernah dinegosiasikan. Tidak ada yang tahu siapa dia, tapi obatnya selalu bekerja dan sangat mujarab.

Saat menjual obatnya, Hu Gong akan memberitahu orang yang membelinya: setelah obat diminum, pasien akan memuntahkan sesuatu, dan setelah beberapa lama pasien akan sembuh. Orang-orang menurutinya, dan kata-kata Hu Gong terbukti benar.

Cerita tentang obat Hu Gong yang mujarab telah menjadi buah bibir dan menyebar luas. Semakin banyak orang yang tahu tentang dia dan membeli obatnya. Namun Hu Gong hanya menyimpan sebagian kecil dari uang hasil jualan obatnya, dan menyumbangkan sisanya kepada orang-orang di pasar yang miskin, kedinginan atau kelaparan.

Setelah matahari terbenam, ketika semua obatnya telah terjual dan labu telah kosong, Hu Gong akan selalu menggantung labu itu di atap rumah seseorang, kemudian ia akan melompat ke dalam labu dan menghilang.

Didalam Labu

Fei Changfang, seorang pejabat rendah yang bertanggung jawab di pasar tersebut, pernah melihat Hu Gong menghilang ke dalam labu. Saat itulah ia tahu bahwa Hu Gong bukanlah orang biasa, dan telah menguasai Tao (jalan kebenaran -red)

Berpikir untuk belajar dari Hu Gong, Fei kemudian selalu memperlakukan Hu dengan baik setiap hari, membersihkan lantai di depannya dan memberinya makanan. Hu Gong pun tidak menolak kebaikannya. Waktu telah lama berlalu, dan Fei masih berlaku sangat baik pada Hu.

Suatu hari, Hu Gong berkata pada Fei, “Ketika tidak ada orang, bisakah kamu datang ke tempat saya malam ini?” Fei pun menyanggupi dan tiba tepat waktu. Hu berkata, “Saya akan melompat ke labu sekarang. Apakah kamu mau mencobanya juga? Kalau mau, kamu pasti juga akan bisa masuk.” Seperti yang disarankan Hu Gong, Fei pun melompat ke dalam labu setelah Hu.

Begitu berada di dalam labu, Fei menemukan bahwa labu yang tampaknya kecil itu ternyata berisi dunia lain di dalamnya. Terlihat ribuan bangunan dan paviliun yang sangat cantik dan indah, dengan latar belakang jembatan yang apik dan pelangi berwarna-warni, seperti di surga.

Hu Gong berkata pada Fei, “Saya sebenarnya berasal dari dunia Dewa. Karena saya malas dalam melakukan tugas, saya diturunkan ke dunia manusia. Kamu memiliki kualitas bawaan yang bagus, karena itulah kamu bisa bertemu saya dan melihat semua ini.”

Fei pun bersujud padanya dan menjawab, “Saya adalah orang yang kotor dari dunia fana. Saya sungguh beruntung bisa menerima belas kasih dan ajaran Anda.” Hu Gong berpesan padanya, “Kamu adalah orang yang sangat baik, tolong jangan beritahu siapapun tentang apa yang kamu lihat hari ini.”

Keajaiban Kendi Anggur

Setelah kembali dari labu, Fei mulai belajar Tao dari Hu Gong.

Pada suatu hari, Hu Gong pergi mengunjungi Fei dan mereka pergi ke sebuah kedai minuman. Hu Gong berkata, “Saya punya anggur di lantai bawah. Kita bisa minum bersama”.

Fei meminta seorang pelayan untuk mengambil kendi anggur tersebut, tetapi anehnya, pelayan itu tidak kuat untuk mengangkat kendi. Beberapa orang mencoba membantunya, tetapi kendi anggur tersebut tetap tidak bergeming. Orang-orang di kedai yang penasaran, hingga belasan orang, semuanya mencoba untuk mengangkat kendi anggur tersebut tetapi tetap tidak berhasil.

Pelayan itu kembali dan menceritakan kejadian ini kepada Hu Gong dan Fei. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hu Gong langsung turun ke bawah dan mengambil kendi anggur tersebut dengan satu jari, dan membawanya ke atas. Mereka yang melihat hal ini menjadi terkejut dan merasa kagum.

Hu Gong dan Fei kemudian mulai minum. Kendi anggur yang tampaknya kecil itu terus-menerus mereka tuang sepanjang hari, namun isinya tidak pernah habis.

Beberapa Ujian

Ada ungkapan bahwa untuk mempelajari Tao di zaman kuno, seseorang harus diuji terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa ia benar-benar pantas menerima ajaran dari Sang Master.

Suatu hari Hu Gong berkata kepada Fei, “Saya akan melakukan perjalanan dalam beberapa hari. Maukah anda menemani saya?”

Fei tidak mengkhawatirkan apapun juga, kecuali tentang apa yang akan dipikirkan keluarganya. “Apakah ada cara agar keluarga saya tidak mengetahui tentang hal ini?” dia bertanya.

“Itu mudah,” jawab Hu Gong. Ia lalu memungut sepotong tongkat bambu hijau yang diberikannya pada Fei. “Bawalah ini pulang dan beritahu keluargamu bahwa kamu sakit. Tempatkan batang bambu ini di tempat tidurmu, dan pergilah dengan tenang.”

Fei mengikuti instruksi yang diberikan kepadanya, dan kemudian kembali ke Hu Gong. Keluarga Fei yang mengira bahwa Fei sakit parah, menemukan batang bambu yang berwujud Fei, telah “meninggal” di tempat tidurnya. Mereka menangis sedih, kemudian mengubur tubuhnya.

Sementara itu, Fei yang asli, telah mengikuti Hu Gong dan tengah mendapatkan berbagai ujian. Dalam perjalanan, ia tiba-tiba tersesat. Hu Gong tidak kelihatan batang hidungnya, dan tiba-tiba muncul beberapa ekor harimau yang mengaum sangat mengerikan dan terlihat akan menyerangnya. Namun Fei tetap tenang dan berdiri diam. Setelah beberapa saat, harimau-harimau itu dengan misterius menghilang. Saat itu, Hu Gong muncul kembali.

Keesokan harinya, Hu Gong membawa Fei ke sebuah gua di mana terdapat sebuah batu besar tergantung di langit-langit gua dengan tali jerami. Hu Gong kemudian meninggalkannya disana. Tiba-tiba muncul banyak ular di dekat batu besar yang tergantung itu, dan ular-ular tersebut mulai mengigiti tali jeraminya. Fei tidak goyah, ia tidak takut dan tidak bergeming sama sekali.

Setelah beberapa lama, Hu Gong muncul kembali, ia menepuk pundak Fei dan berkata, “Kamu dapat dididik.”

Hu Gong kemudian menyerahkan kepada Fei sebuah gulungan yang disegel dan berkata, “dengan ini, kamu dapat memanggil Dewa dan hantu, serta menyembuhkan penyakit dan mengusir bencana.”

Telah tiba saatnya untuk pulang ke rumah, namun Fei terlihat khawatir. Hu Gong yang paham, mengeluarkan sebatang bambu dan berkata, “Naiklah ini, kamu akan segera sampai di rumah!”

Fei mengucapkan selamat tinggal pada Hu Gong dan mengendarai tongkat bambu pemberiannya. Tahu-tahu, seperti terbangun dari mimpi, Fei membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada di rumah.

Keluarga Fei kaget bukan main, merasa takut serta mengira Fei adalah hantu. Namun setelah Fei menceritakan semua kisahnya dan mereka membuka peti matinya serta hanya mendapati tongkat bambu di dalamnya, baru mereka percaya dan kembali merasa tenang.

Mengusir Hantu

Meskipun Fei berpikir bahwa dia hanya mengikuti Hu Gong selama sekitar satu hari, namun keluarganya mengatakan bahwa dia telah pergi selama satu tahun.

Ketika dia membuang tongkat bambu yang ditumpanginya di hutan bambu, tongkat itu tiba-tiba berubah menjadi naga biru dan terbang menjauh.

Setelah itu, Fei sering melakukan perbuatan baik dengan membantu orang mengusir setan dan menyembuhkan penyakit. Setiap pasien yang dirawatnya selalu sembuh. Terkadang Fei berbicara dengan keras kepada pasiennya; sebenarnya Fei sedang memarahi hantu yang berada di belakang pasiennya itu, dia tidak benar-benar memarahi pasiennya.

Selain beberapa kemampuan diatas, menurut legenda, kemampuan supernormal Fei sangat luar biasa. Misalnya, ia dapat mengambil gunung sepanjang seribu mil dan membuatnya menjadi sangat kecil, menempatkannya di depan orang-orang seperti sekotak lanskap dengan detail. Tentunya, gunung itu juga dapat ia kembalikan ke ukuran aslinya. (minghui/ron/lia)