Budaya

Kisah Asal Usul Mantou (Bakpao)

Bayangkan anda adalah seorang komandan militer yang memimpin pasukan melalui tanah selatan yang asing. Anda mencapai sungai yang lebar dan deras. Penduduk setempat memberi tahu anda bahwa satu-satunya cara untuk menyeberang dengan aman adalah dengan mempersembahkan 50 kepala manusia kepada roh-roh di bawah air. Apa yang akan anda lakukan?

Menurut legenda Tiongkok yang telah lama ada, inilah dilema yang dihadapi Kanselir Zhuge Liang hampir 1.800 tahun yang lalu pada periode Tiga Kerajaan. Alih-alih menerima tradisi yang mengerikan, cerita tersebut mengatakan bahwa ia memilih kecerdasan dan belas kasih, sehingga lahirlah roti kukus yang dikenal saat ini sebagai mantou (馒头).

Akar kuno: Sebelum roti kukus Tiongkok memiliki nama

Jauh sebelum mantou memiliki nama modernnya, orang-orang di Tiongkok kuno sudah bereksperimen dengan adonan tepung gandum untuk membuat roti kukus. Sumber-sumber sejarah menelusuri bentuk awal makanan roti kukus kembali ke periode Zhou Timur, sekitar 771 SM, ketika teknik fermentasi tepung sudah dikenal.

Selama berabad-abad, penyajian ini tetap relatif sederhana. Gandum tumbuh melimpah di seluruh Tiongkok utara, tetapi mengubahnya menjadi tepung membutuhkan penggilingan tangan yang melelahkan.

Semuanya berubah setelah Dinasti Han (206 SM hingga 220 M), ketika penggilingan batu menjadi lebih banyak tersedia. Penggilingan gandum menjadi tepung halus menjadi lebih cepat dan praktis, dan roti kukus (yang terbuat dari gandum) menyebar dengan cepat di wilayah Sungai Kuning.

Catatan dari era selanjutnya menggambarkan roti kukus awal terkadang diterjemahkan sebagai “mianqi,” yang oleh banyak sejarawan dianggap sebagai pendahulu roti kukus yang mengembang. Makanan ini tidak terbatas pada makanan sehari-hari. Makanan ini juga muncul dalam acara-acara seremonial dan jamuan kekaisaran, mengangkat apa yang awalnya merupakan makanan petani menjadi suatu hidangan yang layak untuk istana. Pada masa Tiga Kerajaan, makanan sudah sangat terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Yang belum dimilikinya adalah nama mantou.

Zhuge Liang dan sungai yang bergejolak: Kelahiran mantou

Bab paling terkenal dalam kisah mantou terjadi pada periode Tiga Kerajaan (220-280), salah satu era paling bergejolak dalam sejarah Tiongkok. Di tengah berdiri Zhuge Liang, kanselir kerajaan Shu Han, yang dikenang dalam budaya Tiongkok karena kecerdasan, strategi, dan integritas moralnya.

Menurut catatan selanjutnya yang dicatat oleh cendekiawan Dinasti Ming, Lang Ying, Zhuge Liang memimpin pasukan dalam penyerangan selatan ketika pasukannya mencapai Sungai Lu. Airnya bergejolak hebat, dan kepercayaan setempat menyatakan bahwa roh sungai menuntut pengorbanan manusia sebelum mengizinkan perjalanan yang aman.

Alih-alih menerima membunuh tentaranya, cerita tersebut mengatakan Zhuge Liang merancang alternatif. Ia memerintahkan ternak untuk disembelih dan dagingnya dibungkus dalam bola-bola adonan tepung yang dibentuk menyerupai kepala manusia. Beberapa versi cerita menggambarkan 49 roti ini disusun di atas meja di tepi sungai, dikelilingi lentera untuk memanggil dan menenangkan roh-roh.

Konon persembahan itu berhasil. Sungai menjadi tenang, dan pasukan menyeberang dengan selamat.

Dalam legenda, para prajurit menamai kreasi tersebut “man tou” (馒头), yang kadang-kadang diartikan sebagai “kepala barbar” atau “kepala penipu.” Seiring waktu, karakter tersebut berkembang menjadi kata modern mantou. Baik sebagai fakta sejarah maupun legenda moral, cerita tersebut mencerminkan tema budaya yang terus bergema: gagasan bahwa kebijaksanaan dan belas kasih harus menang atas rasa takut dan takhayul.

Penulis Jin Barat, Shu Xi, yang menggunakan kata mantou dalam puisinya sekitar abad ketiga. Ini menegaskan bahwa nama tersebut sudah digunakan pada saat itu.

Bahasa terus berkembang pada masa Dinasti Song (960-1279). Sebelum periode ini, mantou dapat merujuk pada roti kukus polos dan berisi. Seiring waktu, terminologi tersebut terpisah. Istilah ini kemudian berarti roti polos, sedangkan baozi (包子) menjadi istilah untuk roti dengan isian. Perbedaan ini tetap menjadi standar hingga saat ini.

Bagaimana mantou berkeliling dunia: dari Tiongkok Utara hingga setiap sudut Asia

Dari akarnya di Tiongkok utara, mantou menyebar luas ke seluruh Asia. Kekaisaran Mongol memainkan peran penting dalam perjalanan ini. Pada masa Dinasti Yuan (1271-1368), tradisi makanan bergerak di sepanjang jalur militer dan perdagangan yang membentang di seluruh benua.

Roti kukus adalah makanan perjalanan yang ideal. Roti ini mudah dibawa, mengenyangkan, dan mudah diproduksi dalam jumlah besar. Teks-teks sejarah dari istana Yuan, termasuk tulisan tentang pola makan oleh dokter Hu Sihui, mendokumentasikan persiapannya dan perannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring dengan menyebarnya mantou, setiap daerah mengadaptasi nama roti kukus ini sesuai selera lokal:

  • Korea: Mandu, yang berkembang menjadi keluarga pangsit
  • Jepang: Manju, biasanya manis dan diisi dengan pasta kacang merah
  • Mongolia: Buuz dan mantuun buuz, pangsit kukus berisi daging yang lezat
  • Tibet dan Nepal: Momo, mungkin adaptasi yang paling terkenal, kini dicintai di seluruh dunia.
  • Vietnam: Banh bao, roti kukus besar yang sering diisi dengan daging babi dan telur rebus
  • Indonesia: Bakpao, roti kukus besar yang sering diisi dengan daging ayam atau sapi, ayam charsiu, coklat, kacang hijau atau kacang merah
  • Filipina: Siyopaw, tradisi roti kukus yang dibawa oleh imigran Tiongkok
  • Thailand: Salopao, camilan kukus manis atau gurih yang ditemukan di makanan kaki lima
  • Hawaii: Manapua, makanan rumahan lokal yang dicintai dengan akar Tiongkok

Akar linguistik yang sama di antara makanan-makanan ini menunjukkan sejarah panjang pertukaran budaya dan migrasi.

Mantou dalam festival dan kehidupan sehari-hari Tiongkok

Di Tiongkok utara, di mana gandum adalah biji-bijian utama, mantou memainkan peran yang mirip dengan roti dalam masakan Barat. Keluarga merobek roti putih lembut dan menggunakannya untuk menemani sup, semur, dan hidangan tumis.

Mantou juga memiliki makna khusus selama Tahun Baru Imlek. Tradisi mengatakan bahwa hari-hari terakhir kalender lunar adalah waktu untuk mengukus roti sebagai persiapan untuk liburan. Kata dalam bahasa Mandarin untuk “mengukus” terdengar mirip dengan frasa yang terkait dengan meningkatnya kemakmuran, sehingga praktik ini memiliki makna simbolis.

Selama perayaan, mantou sering menjadi seni yang dapat dimakan. Koki rumahan membentuk adonan menjadi bunga, kelinci, kupu-kupu, dan naga, menghiasinya dengan kurma merah dan warna-warna cerah untuk melambangkan keberuntungan. Dalam beberapa tahun terakhir, roti festival yang rumit telah menarik perhatian secara online karena desainnya yang rumit.

Dalam masakan modern, mantou terus berkembang. Mantou goreng yang disajikan dengan susu kental manis telah menjadi hidangan restoran yang populer, dan koki terkadang menggunakan irisan mantou sebagai dasar untuk sandwich kreatif yang diisi dengan daging atau sayuran.

Mantou vs. Baozi: Memahami Roti Kukus Tiongkok

Bagi pendatang baru di dunia kuliner Tiongkok, perbedaan antara mantou dan baozi bisa membingungkan.

Mantou adalah roti kukus polos tanpa isian. Teksturnya lembut, rasanya sedikit manis karena fermentasi, dan biasanya disajikan sebagai pelengkap.

Baozi adalah roti kukus yang diisi dengan isian gurih atau manis, seperti daging babi, sayuran, atau pasta kacang merah. Roti ini sering dimakan sebagai makanan utama atau camilan. Ini mirip bakpao di Indonesia.

Kedua makanan ini memiliki sejarah yang sama, dan catatan-catatan sebelumnya terkadang menggunakan kata mantou secara lebih luas sebelum perbedaan modern berkembang.

Roti sederhana dengan warisan yang panjang

Kisah mantou membentang dari ladang gandum kuno hingga dapur modern di seluruh Asia dan sekitarnya. Kisah ini memadukan tradisi makanan awal, bahasa yang berkembang, dan legenda tentang memilih belas kasih daripada pengorbanan.

Baik didekati sebagai sejarah, cerita rakyat, atau ingatan budaya, mantou tetap menjadi salah satu makanan pokok masakan Tiongkok yang paling abadi — roti kukus sederhana dengan kisah yang terus diceritakan.