Site icon NTD Indonesia

Kisah Cao-Cao Mendidik Anak Menjadi Sukses

Caocao dan anaknya (ilustrasi)

Caocao dan anaknya (ilustrasi)

Berharap anak menjadi yang sukses serta tersohor, merupakan dambaan bersama semua orang tua di dunia. Di Tiongkok, “naga” dianggap sebagai simbol kemuliaan, dan para kaisar senantiasa mengklaim dirinya sebagai “Putra Langit Naga Sejati”. Dengan demikian, di Tiongkok terdapat ungkapan : “mengharapkan anak menjadi naga” (望子成龍 – Wang Zi Cheng Long).

Sepanjang zaman, tidak sedikit orang yang “Mengharapkan anak menjadi naga”, tapi yang benar- benar dapat merealisasikan harapannya tidaklah banyak. Dalam sejarah Tiongkok, Cao-Cao, kaisar pada periode Zaman Tiga Kerajaan adalah salah satu dari sejumlah kecil orang yang berhasil dalam merealisasi dambaan tersebut. Bagaimana caranya?

Periode Samkok, merupakan zaman munculnya para ksatria yang berbakat. Di antara sekian banyaknya pendekar dan ksatria, Cao Cao paling mengagumi Sun Quan (alias Sun Zhongmou). Di mata Cao Cao, Sun Quan adalah seseorarng yang layak menyandang gelar “seekor naga” pada era feodal itu. Sun sudah memegang kekuasaan sejak berusia 18 tahun, dan menguasai wilayah Jiangnan (se- belah selatan Sungai Yangce), yang berlangsung lebih dari 50 tahun, sangat berbakat untuk memerintah negara dalam situasi kacau, yang dikenal sebagai “penguasa agung yang pandai, bijak, berani dan strategis”. Meskipun Sun Quan merupakan “saingan kuat” Cao Cao, tapi Cao Cao masih sangat mengagumi kemampuan Sun Quan, dia pernah secara tidak tertahankan menghela nafas dan berkata: “Punya anak hendaknya seperti Sun Quan!” Ini adalah standar konkrit “naga” yang diharapakan Cao Cao.

Bagaimana cara mewujudkan anak cucu yang memiliki moral dan bakat seperti Sun Quan? Cao Cao memahami bahwa “naga” tidak datang karena hanya “diharapkan”, kuncinya terletak pada pendidikan dan pembinaan. Pada zaman itu, sebagai kaisar (de facto), Cao Cao mudah sekali melakukan nepotisme dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk membuat anak-anaknya menerima pahala tanpa harus berjasa lebih dulu, memperoleh kedudukan tanpa memiliki kemampuan, dan menerima kehormatan tanpa memiliki akhlak tinggi. Tapi Cao Cao justru tidak mau melakukannya, juga tidak mengizinkan anak- anaknya mempunyai pandangan seperti itu. Ia secara khusus menerbitkan “Dekrit terhadap anak-anak” guna mengumumkan pernyataannya.

Dia berkata kepada anak- anaknya: “Pada waktu kalian masih anak-anak, walaupun semuanya saya cintai, tapi setelah dewasa, siapa yang mempunyai bakat dan pengetahuan yang nyata, baru akan saya tempatkan pada kedudukan penting. Terhadap bawahan saya tidak berat sebelah, bahkan juga terhadap darah dagingku sendiri, juga tidak ingin memihak.”

Dalam mendidik anak-anaknya secara konkrit, Cao Cao juga melakukan banyak usaha. Dalam kesibukannya mengurus urusan negara, setiap hari ia tidak lupa menemani anaknya membaca, berlatih ilmu silat (kemiliteran), bahkan memberi perhatian khusus sesuai minat dan bakat anak- anaknya, membimbing selaras dengan derap langkah perkembangan situasi dan mengajar sesuai dengan keadaan konkrit mereka.

Cao Zhang, sang putra sulung gemar memanah dan berkuda, “cocok menjadi seorang jenderal”, Cao Cao membimbingnya dalam aspek pengembangan seorang “jenderal militer”, dan memintanya belajar seni bela diri dan mengajarnya pengetahuan militer. Putra kedua, Cao Pi, adalah putra mahkota, Cao Cao berfokus untuk membinanya dalam kemampuan pemerintahan dan kemiliteran, strategi dan pengambilan keputusan. Putra ketiga Cao Zhi menyukai sastra, Cao Cao menempanya dalam bidang sastra, dengan sasaran pembinaan sebagai seorang sastrawan terkemuka.

Pandai memanfaatkan peluang yang menguntungkan untuk merangsang ambisi anak-anaknya, ini merupakan ciri khas Cao Cao dalam mengajar. Sebagai contoh, ketika Cao Zhi berusia 23 tahun, Cao Cao berkata pada anaknya sebagai berikut: “Dulu saya pernah menjabat sebagai bupati di wilayah Dun Qiu, pada usia 23 tahun. Sekarang kamu juga telah berusia 23 tahun, bukankah juga harus bekerja keras?” Cao Cao menggunakan apa yang telah dilakukan pada masa mudanya untuk merangsang Cao Zhi. Harus bertitik-tolak dari bakat anak, namun juga dituntut dengan persyaratan ketat, ini merupakan ciri utama Cao Cao dalam mendidik. Akhirnya dengan dorongan Ayahnya, Cao Zhi berhasil menerbitkan buku.

Ketika Cao Zhang menerima perintah melakukan operasi militer ke wilayah Utara, Cao Cao dengan serius berkata kepadanya: “Kita di rumah adalah ayah dan anak, dalam menerima tugas adalah pemimpin dan anak buah, segala tindak tanduk kita akan ditangani dengan hukum kekaisaran. Kamu hendaknya berwaspada!” Cao Cao menghendaki Cao Zhang tahu, sama sekali jangan pernah berpikir bahwa dia adalah putra kaisar, dan bisa se-enaknya memanjakan diri, jika sampai berdampak negatif terhadap kemiliteran, akan tetap dihukum berat. Tidak hanya membimbing secara lisan, tapi juga mementingkan pendidikan dalam kehidupan nyata bagi anak-anaknya, ini merupakan ciri khas ke dua pengajaran Cao Cao.

Terhadap Cao Pi, Cao Cao tidak mengizinkannya tinggal sepanjang hari di istana, melainkan membawa Cao Pi disampingnya, sehingga kehidupan dan pembelajarannya, sering bertemu rakyat, sering berada di barak militer, serta terlatih dalam peperangan. Menggembleng diri tak kenal lelah, memperluas wawasan dan pengalaman dalam lingkungan yang kompleks dan sulit. Tidak membiarkan anak hidup santai dan mewah. Inilah ciri khas ketiga pembelajaran Cao Cao.

Tindakan dengan ketulusan hati akhirnya membuahkan hasil yang baik. Pembinaan Cao Cao yang seksama telah memperoleh hasil. Anak-anaknya, baik dalam hal kesusastraan ataupun ilmu silat (kemiliteran), semuanya sukses dengan baik. Putra sulung Cao Zhang, menjadi jenderal yang berani dan terampil, pernah memimpin pasukan di Ibukota Chang’an, setelahnya diangkat sebagai raja penanggung jawab kota. Putra kedua Cao Pi dan putra ketiga Cao Zhi, menjadi sastrawan yang sangat sukses. Kedua putra ini bersama Cao Cao sendiri, dikenal sebagai “tiga Cao”, dalam sejarah sastra Tiongkok, dan menempati posisi yang menonjol. Cao Pi di kemudian hari mewarisi tahta Cao Cao, dia inilah yang dalam sejarah disebut kaisar Wen dari Wei (Wei Wen Di).

Di sini, sekalian dibahas sosok lain yang “mengharapkan anak menjadi naga”, dia adalah Yuan Shu orang sezaman dengan Cao Cao. Yuan Shu juga merupakan seorang yang sangat berbakat. Yuan Shu pernah mengeluh: “Andaikan aku memiliki anak laki-laki seperti Sun Quan, matipun tidak ada yang disesalkan!” Sayangnya, pengharapan Yuan Shu hanya berhenti sampai “kekaguman” dan “menghela napas”, namun terhadap anak- anaknya ada “pengharapan” tanpa “pembinaan”. Hasilnya, keturunan Yuan Shu, tidak ada yang mempunyai masa depan cemerlang, semuanya biasa-biasa saja. Harapan Yuan Shu “mempunyai anak seperti Sun Quan”, dengan sendirinya hanya impian belaka.

Cao Cao dan Yuan Shu, keduanya memiliki harapan yang sama. Tapi hasilnya sangatlah berlainan, dan perbedaannya besar sekali. Tampaknya hanya memiliki hati yang “mengharapkan anak menjadi naga” saja, tanpa “pembinaan” untuk membuat anak menjadi naga, pengharapan itu tidak mungkin dicapai. Ini adalah hikmah dari kisah Cao Cao dan Yuan Shu yang diberikan kepada generasi mendatang, baik dari sisi positif maupun negatifnya. (epochtimes/pur)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI