Site icon NTD Indonesia

Kisah Perempuan Brahman yang Dijatuhkan ke Dalam Neraka

Cinca Memfitnah

Cinca Memfitnah

Biksu Tang Xuanzang biksu yang menjadi tokoh dalam kisah Kera Sakti karya Wu Cheng En) yang hidup pada masa Dinasti Tang banyak menulis catatan tentang “Perjalanan ke Barat”, terutama ke India dan sekitarnya. Saat melakukan perjalanan ke India menemukan tiga lubang besar yang sangat dalam, di luar biara Buddha di Hutan Jetavanna. Lubang-lubang tersebut begitu dalam sehingga tak seorang pun dapat melihat bagian dasarnya. Jika turun hujan lebat, semua saluran dan kolam pasti akan dipenuhi dengan air, tetapi di lubang tersebut sama sekali tidak terlihat genangan air, yang menandakan bahwa lubang tersebut teramat dalam.

Xuanzang bertanya kepada penduduk setempat tentang asal muasal lubang, dan dari cerita yang diperoleh, dia mendapatkan pemahaman dari kisah legenda tiga orang jahat yang dijatuhkan hidup-hidup ke dalam Neraka Avici (neraka tingkat terendah dalam ajaran Buddhisme) akibat memfitnah Sang Buddha.

Seorang perempuan Brahman bernama Cinca, adalah salah satu dari tiga orang jahat yang dijatuhkan ke dalam Neraka Avici itu. Alkisah, pada masa itu Sang Buddha Shakyamuni (Siddharta Gautama) memperkenalkan prinsip hukum “Berpantang, Samadhi, Kebijakan” yang telah ia sadari. Kian hari kian banyak orang yang datang untuk mendengarkan ceramah-Nya, karena mereka mengakui bahwa apa yang Dia ajarkan adalah baik. Di sisi lain, meskipun Brahmanisme masih memiliki pengaruh yang sangat besar pada masa itu di India, namun semakin lama semakin sedikit orang yang mempercayainya karena ajaran-ajarannya dinilai sudah benar-benar mengalami degradasi.

Ada seorang bernama Cinca, seorang perempuan aliran Brahman, yang melihat semakin banyaknya massa yang berbondong-bondong datang untuk mendengar ceramah Sang Buddha dengan hati tulus dan hormat, menjadi cemburu bukan main. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Saya akan memfitnah Shakyamuni, dan merusak nama baiknya. Sehingga Brahmanisme akan kembali menjadi satu-satunya ajaran yang dipuja!”

Dia mengikatkan sebuah mangkuk kayu besar di bawah pakaian dan pergi ke biara Sang Buddha di Hutan Jetavanna. Dia berteriak-teriak dengan keras di tengah massa yang berkumpul di sana, “Orang yang sedang mengajar kalian itu telah berselingkuh dengan saya. Bayi di perut saya ini adalah anak Sang Buddha Shakyamuni yang kalian hormati itu!” Mendengar seruan itu, massa yang sedang mendengarkan ceramah langsung terpecah-belah. Yang tidak memiliki keyakinan teguh, lantas goyah hatinya: beberapa dari mereka saling berbisik satu sama lain, ada yang tampak menggeleng-gelengkan kepala dan mendesah, ada pula yang menirukan ucapan sang perempuan Brahman, dan yang sama sekali tidak memiliki keyakinan teguh langsung bangkit dan pergi meninggalkan biara. Namun, pengikut dengan keyakinan teguh mengetahui bahwa hal itu hanyalah fitnah, dan mereka terus mendengarkan ceramah Shakyamuni.

Untuk menghapus keraguan orang-orang terhadap Sang Buddha, salah satu Dewa langit menjelma menjadi seekor tikus putih. Tikus itu lalu mengunyah tali yang mengikat mangkuk kayu pada perut perempuan Brahman itu, sehingga tali pun putus, dan mangkuk kayu jatuh dengan keras ke lantai, yang langsung mengejutkan orang-orang di sekelilingnya. Kebenaran segera tampak di depan mata semua orang, yang langsung menyadari apa yang terjadi. Seseorang mengangkat mangkuk kayu itu, dan menunjukkannya kepada perempuan Brahman  seraya tertawa, “Apakah ini anak Anda?” Yang segera disusul gelak tawa semua orang yang berada di sana.

Dan tiba-tiba semua orang dikejutkan dengan tanah yang retak dan terbuka tepat di bawah perempuan Brahman, yang langsung jatuh ke dalam lubang. Dia jatuh hingga ke tingkat terendah neraka, yaitu neraka Avici. Dikatakan bahwa di Avici, penderitaan akibat membayar hutang karma (dosa) seolah tidak akan pernah berakhir, dan orang jahat sedang dimusnahkan total jiwa dan raganya, tanpa kesempatan untuk dilahirkan kembali.

Namun, hukum langit mengatur bahwa kejahatan selamanya tidak akan dapat mengalahkan kebaikan. Walaupun mungkin awalnya terlihat seolah kejahatan sedang mengalami kejayaan dan keberhasilan, pada akhirnya kebaikan akan selalu dapat mengatasi kejahatan. Dan mereka-mereka yang hingga kini masih tetap mencoba untuk merusak suatu kebenaran, maupun menganiaya orang-orang baik, satu-satunya akhir yang terpampang di hadapan mereka adalah neraka tingkat terendah. (Epochtimes/huangrong/osc)