Budaya

Kisah Si Dua Gayung

Labu (Getty Images via Canva Pro)
Labu (Getty Images via Canva Pro)

Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di Tiongkok. Pada zaman dahulu kala, ada sebuah desa kecil yang indah dan sederhana di pegunungan, namanya Desa Tian Hui, hidup satu keluarga kaya bermarga Yang. Keluarga Yang turun temurun adalah keluarga yang sangat baik hati, yang senang membantu orang lain.

Jika bertemu dengan Bhikkhu, Pendeta Tao, maka Tuan Yang pasti akan memberikan nasi dan lauk pauk yang banyak untuk dimakan oleh para Bhikkhu dan Pendeta Tao.

Kadang kala, para tetangga juga datang untuk meminjam bahan makanan pada Tuan Yang saat musim panen belum tiba.

Namun pada saat mereka hendak mengembalikan bahan makanan yang dulu dipinjam kepada Tuan Yang, beliau tidak menerimanya karena para tetangganya miskin.

Para tetangga yang meminjam bahan makanan dari Tuan Yang merasa telah sangat dibantu dengan dipinjamkannya makanan tersebut, mana boleh bahan makanan yang telah dipinjam dari orang lain tidak dikembalikan? Mereka merasa harus mengembalikannya.

Oleh karena itu Tuan Yang mengambil sebuah labu besar yang ada di rumahnya dan dibelah menjadi dua belahan (seperti gayung), yang sebelah besar, sedangkan belahan lainnya kecil.

Ketika tetangga datang untuk meminjam bahan makanan lagi, Tuan Yang menggunakan belahan gayung yang besar itu, setangkup demi setangkup besar gayung yang berisi bahan makanan itu dipinjamkannya kepada tetangga.

Lalu pada saat tetangga datang lagi untuk mengembalikan bahan makanan, Tuan Yang menggunakan belahan gayung yang kecil, hanya menerima kembali dalam jumlah sedikit. Lama kelamaan, para penduduk menyebut beliau “Si Dua Gayung”.

Pada saat ‘Si Dua Gayung’ berusia 80 tahun di suatu musim gugur ketika itu, biji gandum di ladangnya telah matang, ‘Si Dua Gayung’ hendak melihat – lihat ladang gandumnya.

Oleh karena itu, ia seorang diri dengan melangkah tertatih – tatih dibantu oleh tongkatnya datang ke ladang. Tiba – tiba, awan hitam yang pekat menggulung menyelimuti ladangnnya, halilintar menyambar dan guntur menggelegar.

 ‘Si Dua Gayung’ yang melihat keadaan ini, berpikir, “Saya sudah tua, tidak mampu melarikan diri lagi, biarlah saya mati disini saja!”

Waktu itu, ‘Si Dua Gayung’ mendengar sebuah suara yang luar biasa besar di ladangnya, “Tuan Guntur, Nyonya Halilintar, Naga Air, kalian dengarkan baik – baik, sekarang ‘Si Dua Gayung’ sedang berada di ladang gandumnya, kalian sama sekali tidak boleh meneteskan air barang setitik pun di atas gandumnya!”

Setelah lewat lama sekali, hujan dan halilintar pun berhenti sudah, ‘Si Dua Gayung’ bangun dari ladang gandumnya dan melihat sekeliling, di ladang gandum tempat ia terbaring tidak ada setetes air pun, sementara gandum milik orang lain semuanya telah roboh terendam air lumpur.

 ‘Si Dua Gayung’ pulang ke rumahnya dan menceritakan kejadian tersebut kepada anak – anaknya, lalu membawa serta semua anak – anaknya untuk bersujud berterima kasih pada Sang Maha Pencipta yang telah memberikan perlindungan kepadanya.

Mengapa sambaran halilintar dan guntur yang menggelegar tidak melukai Tuan Yang? Karena dia seumur hidupnya telah banyak melakukan kebaikan kepada orang lain, dia telah memikirkan orang lain dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Di zaman Tiongkok kuno, semua orang memahami prinsip bahwa kebaikan dan kejahatan pasti ada balasannya, percaya bahwa setiap hal yang dilakukan oleh setiap orang, tidak peduli hal besar atau pun kecil, semuanya dilihat dengan jelas oleh Sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, semua orang berusaha untuk berbuat baik, dan tidak melakukan kejahatan.(minghui school)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI