Site icon NTD Indonesia

Kisah Tiongkok Kuno Tentang Keledai

Kisah-kisah historis dari Tiongkok hampir selalu memiliki karakter aneh dan plot yang menarik. Hewan-hewan yang bisa berbicara, kehidupan surgawi yang ajaib, naga dan hantu adalah beberapa contoh yang digunakan untuk memberikan suatu pelajaran dalam kisah historis Tiongkok. Kebanyakan legenda dan dongeng Tiongkok yang kita baca hari ini belum didokumentasikan di atas kertas selama ratusan tahun.

Banyak dari kisah-kisah ini terus dilestarikan dan dijaga agar tetap eksis dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berikut adalah salah satu kisah-kisah itu:

Dahulu kala, ada seekor keledai yang tinggal di sebuah kuil di atas gunung di mana keledai itu harus bekerja keras di penggilingan setiap hari. Seiring waktu, keledai itu begitu bosan dengan hidupnya yang menjemukan sehingga ia mulai bermimpi untuk melihat dunia luar alih-alih bekerja. Betapa indahnya apabila bisa terwujud!

Tak lama muncullah sebuah kesempatan. Seorang biksu ingin menggunakan keledai itu untuk membawa sesuatu turun gunung. Keledai itu sangat gembira.

Setelah sampai di lembah gunung, biksu itu meletakkan sesuatu di punggung keledai. Ketika mereka berjalan melewati desa, orang-orang di kedua sisi jalan berlutut ke arah keledai. Keledai tidak tahu harus berbuat apa sehingga dia memutuskan untuk menghindari orang-orang.

Namun, hal itu tidak menghentikan mereka untuk menyembah keledai. Perlahan-lahan, ego keledai muncul:

“Wow! Orang-orang benar-benar berpikir saya adalah orang penting!”

Karena itu, dia berjalan di tengah jalan dan bersikap arogan dengan kepala terangkat tinggi dan punggung tegak. Begitu keledai kembali ke kuil, dia berpikir bahwa dia harus hidup seperti bangsawan dan menolak untuk bekerja keras lagi. Sehingga para biksu tidak punya pilihan lain selain melepaskannya.

Ketika dia kembali turun gunung, keledai melihat sekelompok orang memukul genderang dan gong dari jauh. Dia berpikir: “Orang-orang datang untuk menyambut saya.” Dia berdiri di tengah jalan dan menunggu tetapi ternyata orang-orang tersebut sedang mengadakan prosesi pernikahan. Ketika mereka melihat seekor keledai menghalangi jalan mereka, mereka sangat marah dan memukulinya dengan batang dan tongkat untuk mengusirnya.

Keledai itu kembali ke kuil dengan tergesa-gesa. Luka-luka akibat pukulan, keledai itu memberi tahu biksu:

“Manusia itu sangat tidak bisa diprediksi dan berbahaya. Sebelumnya mereka menyembah saya tetapi hari ini mereka ingin membunuh saya.”

Biksu itu menghela nafas dan berkata:

“Kamu benar-benar bodoh! Orang-orang tidak memujamu waktu itu tetapi mereka berlutut kepada patung Sang Buddha yang ada di punggungmu, bukan kamu!!”

Kemalangan terbesar adalah orang yang tidak tahu siapa mereka. Begitu mereka kehilangan posisi, mereka menjadi bukan siapa-siapa. Setiap hari ketika kamu melihat ke cermin, tanyalah kepada diri sendiri: “Apakah saya tahu siapa saya?”

Jangan salah mengartikan kekaguman orang lain. Ketika kekayaan, kekuasaan dan kecantikan hilang, anda menjadi tidak berharga dan akan ditinggalkan karena orang lain hanya menggunakan anda untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Jadi sangatlah penting untuk mengetahui siapa anda sebenarnya!

Kecakapan itu sangat penting tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih penting dan itu adalah karakter. Karakter adalah harta yang langka di masyarakat saat ini dan karakter memberikan dasar untuk benar-benar mengembangkan kecakapan anda sepenuhnya sepanjang hidup. (Yi Ming/visiontimes/sia/eva)