Banyak cerita, mitos, dan tradisi yang telah diturunkan dari Tiongkok kuno. Kisah terkenal ini melibatkan kesalehan anak. Dalam budaya Tiongkok kuno, kesalehan anak dianggap sebagai prinsip dasar etika Konfusianisme. Itu diakui sebagai sumber dari semua kebajikan.
Prinsip-prinsip moral tradisional ini sebagian besar terdegradasi ketika Revolusi Kebudayaan membentuk kembali nilai-nilai Tiongkok. Partai Komunis Tiongkok menuntut kesetiaan kepada otoritas pusat dan mengutuk nilai-nilai tradisional sebagai peninggalan feodal untuk dimusnahkan. Seseorang diharapkan untuk setia kepada Partai, daripada kepada keluarganya.
Menjelang akhir Dinasti Han Timur, seorang bayi laki-laki bernama Wang Xiang lahir dari pasangan Wang Rong dan Nyonya Xue. Ini adalah periode kacau balau ketika banyak panglima perang berlomba-lomba untuk menguasai sumber daya negara.
Nyonya Xue terserang penyakit dan meninggal ketika anak laki-laki itu masih muda, dan Wang Rong menikahi Nyonya Zhu yang melahirkan seorang putra bernama Wang Lan. Nyonya Zhu tidak suka kepada Wang Xiang. Bukannya menyayangi Wang Xiang, ibu tirinya itu malah membencinya dan memperlakukannya dengan tidak baik. Ia sering marah-marah dan menyalahkan Wang Xiang untuk hal-hal kecil. Karena jarang di rumah akibat bekerja, ayahnya terpengaruh olehnya dan ikut memarahinya.
Ibu tirinya terus memperlakukan Wang Xiang dengan buruk. Dia dipaksa menyapu kandang sapi setiap hari, dan harus mengerjakan semua tugas rumah tangga yang berat. Wang Xiang selalu mematuhi instruksi ibu tirinya tanpa mengeluh sedikitpun. Semua yang dia kerjakan dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan penuh ketulusan. Pengabdian berbakti untuk kedua orang tuanya ditunjukkan meskipun dia diperlakukan dengan buruk.
Suatu kali pada musim dingin, Nyonya Zhu jatuh sakit sehingga dia terbaring di tempat tidurnya, tubuhnya menggigil, dan dia menginginkan sup ikan mas yang hangat untuk makan malamnya. Karena saat itu musim dingin, semua sungai membeku. Namun Wang Xiang tetap berusaha dan berpikir keras supaya bisa mendapatkan sup ikan untuk ibunya.
Dia berjalan ke sungai, menanggalkan pakaiannya dan berbaring di atas es sehingga panas tubuhnya akan melelehkan es. Biru dan menggigil kedinginan, Wang Xiang berdoa kepada Tuhan untuk membantunya memenuhi keinginannya untuk berbakti. Setelah beberapa saat, es di bawahnya tiba-tiba mencair, dan dari kedalamannya yang beku, meloncatlah seekor ikan mas!
Dedikasi Wang untuk berbakti menjadi terkenal dan dijadikan pepatahTiongkok “Berbaring di Es untuk Ikan Mas.”
Seiring pertumbuhan Wang Xiang, Dinasti Han akhirnya terkoyak oleh pemberontakan dan perang saudara. Wang Rong tewas dalam perang, dan Wang muda membawa ibu tiri dan adiknya melarikan diri jauh dari kota mereka. Dia merawat mereka selama 30 tahun.
Seorang gubernur setempat sangat tersentuh oleh pengabdian Wang Xiang sehingga dia mengangkatnya sebagai pejabat negara. Inisiatifnya membuatnya mendapatkan banyak rasa hormat dan kekaguman dari publik. Ia juga menjadi menteri seremoni dan penasihat Kaisar muda Cao Mao.
Wang Xiang meninggal pada tahun 269 pada usia 85 tahun, setelah mengabdi selama beberapa dekade sebagai negarawan yang setia. Dia dianugerahi gelar “Adipati Yuan.” Wang Xiang dihargai sebagai contoh teladan sempurna dari semua kebajikan berbakti. Kisahnya secara luas masih diwariskan sampai sekarang.
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
