Bagi orang yang baru melihatnya, lukisan ini menakjubkan dan sangat indah, tetapi ternyata “La Primavera”, Fabel Musim Semi karya monumental Sandro Botticelli membuktikan dirinya merupakan karya yang tidak mudah dicerna bagi para sejarawan seni.
Isi luar biasa dari La Primavera (Musim semi) menjadikannya sebagai salah satu karya sejarah seni yang paling banyak didiskusikan, karena kehidupan tentang sang pelukis dan inspirasinya nyaris tidak diketahui publik. Bahwa Botticelli hingga wafatnya pada 1510 merupakan maha guru dari masyarakat rahasia “Priore Zion”, bagaimanapun telah mengilhami teori-teori tentang pemaknaan lukisan tersebut.
Bahan-bahan literatur dari zaman Antik, Neo-Platonisme, Astronomi Renaissance dan Model Penjelasan Esoterik telah berupaya untuk menemukan, siapakah yang ditampilkan (dalam lukisan tersebut) dan apa yang sebetulnya terjadi di situ?
Satu hal yang pasti, lukisan tersebut pernah tergantung di Istana Kota Pierfrancesco di Florenz dan dihadiahkan sebagai kado pernikahan sejoli belia, Lorenzo il Popolano dan Semiramide Appiani. Lukisan yang menggambarkan kebaikan pria terhadap wanita merupakan kado pernikahan yang paling populer di masa itu.
Rahasia hasil karya obyektif
La Primavera merupakan sebuah karya seni obyektif yang jarang ada dan semakin dicermati semakin mengungkap lebih banyak lagi pemaknaan majemuk yang memesona. Seperti terefleksi di dalamnya sesuatu keteraturan yang eksis secara obyektif tetapi tak bisa dijelaskan asal usulnya. Rasa ingin tahu orang yang mengamati gambar, dengan demikian senantiasa menerima asupan baru.
La Primavera: Musim Semi, kebangkitan kehidupan baru sudah menyapa kita melalui judulnya. Dunia yang digambarkannya terlihat begitu nyata, laiknya sebuah impian, apabila dari situ dirasakan secara batiniah bahwa semestinya ia benar-benar ada. Ketenangan yang senyap dan harmoni membelai taman tersebut, semuanya terjadi tanpa derita dan nestapa, dan toh perasaan menjadi saksi sebuah drama tak mau lepas begitu saja. Yang ditampilkan adalah tema besar, melebihi pemahaman manusia biasa.
Makna dalam lukisan
Makna lukisan ini dimulai dari arah kanan ke kiri: Siluman pria biru menyeruak dari pepohonan hendak menangkap seorang gadis. Sang gadis berlari menjauhinya dan nampaknya berteriak minta tolong, akan tetapi teriakannya tidak terdengar dan beralih-wujud ke bunga-bungaan. Di sampingnya nampak seorang perempuan yang penuh dihiasi bunga pada tubuhnya melangkah dengan penuh percaya diri.
Perempuan dipuja untuk kelembutan dan pengabdiannya sebagai sumber dari cinta dan kehidupan dan para figur tersebut mewakili momentum berbeda yang harus ia lalui dalam perjalanan hidupnya.
Taman atrium itu, Hortus conclusus, sekaligus menunjukkan jiwa dan badannya, jadi selain dunia lahir juga dunia batin. Bunga-bunga tersebut berkembang dengan sendirinya dan kehidupan baru itu tumbuh dari dalam tubuhnya secara alamiah bagaikan tanaman terhadap bumi.
Pada mulanya ia seorang gadis polos yang berupaya melarikan diri. Setelah itu ia berubah menjadi keadaan yang sebetulnya diperuntukkan baginya dan penuh dengan percaya diri, diperagakan melalui wanita yang ditaburi bunga di sebelah kanan dan pada bagian tengah dari lukisan adalah sang ratu yang nampaknya sedang hamil.
Sebuah inspirasi kuno
Kisah Dewi Chloris yang diculik oleh Dewa Angin Zephir dan memaafkannya, ditemukan sebagai inspirasi secara literaris di balik cerita dalam lukisan. Zephyr menyesali perbuatan buruknya dan memberikan kepada Chloris sebuah identitas baru sebagai Flora sang Dewi Bunga, yang tamannya senantiasa berbunga abadi. Mereka menjadi sepasang kekasih yang berbahagia, demikian diberitakan oleh Ovid di dalam metamorfosanya.
Dahan myrtus (tanaman lokal di wilayah Eropa Selatan dan Afrika Utara) mengelilingi Sang Dewi bagaikan sinar kudus dan membuatnya sebagai sosok sentral dalam lukisan tersebut. Selain itu mereka berpihak pada pernikahan dan kesucian.
Ia mengenakan sebuah jubah
merah yang sangat mirip dengan milik pemuda di sebelah kiri – sebuah hubungan
yang jelas antar keduanya. Ia berperan pada awalnya sebagai Dewa Angin yang
mengancam dan kemudian sebagai suami yang peduli.
Siklus kehidupan sebagai tarian
Di dekatnya terdapat 3 Dewi Grasia (kemungkinan mengacu pada lukisan Raphael, the three graces, tiga keanggunan) dengan damai membentuk lingkaran. Ini merupakan simbol untuk masa lampau, masa kini dan masa depan. Di sini ia mengindikasikan 3 tahapan dalam kehidupan seorang perempuan. Pertama dari kiri adalah gadis muda yang menyongsong kematangannya. Ia memandang dengan ramah dan grasia yang kedua berada di tengah, perempuan yang digambarkan berada pada puncak kesuburannya.
Nampak jelas sekali ia mengagumi sang ksatria tampan pada tepi lukisan. Sementara itu kedua tangannya saling genggam di atas kepalanya, yang menandakan bahwa mereka sedang berada dalam puncak kehidupannya. Juga panah dari Amor kecil ditujukan kepadanya, yang lebih menguatkan bahwa ia sedang jatuh cinta.
Grasia ketiga berpaling dari keduanya, seperti perempuan tua yang mengilas-balik masa remajanya. Sumber kehidupan tubuhnya telah terkuras dan tangannya bersinggungan dengan pendahulunya pada posisi terendah.
Pesan yang hendak disampaikan si misterius Botticelli bahwa kaum perempuan itu suci, karena mereka dapat melahirkan kehidupan baru dan bahwasanya menjadi kewajiban bagi kaum pria untuk menawarkan apresiasi, proteksi dan pengayoman.
Sama halnya dengan pria muda di sebelah kiri: Di mana ia sedang menggeser awan gelap, maka tarian dari masa lampau, masa kini dan masa depan – juga siklus kehidupan – dapat berlalu tanpa terganggu. (Epoch Times/Rosemarie/whs)

