Site icon NTD Indonesia

Legenda Danau Liangzi

Danau di kota Wuhan (Getty Images via Canva Pro)

Danau di kota Wuhan (Getty Images via Canva Pro)

Dengan ukuran lebar 22 km dan panjang 32 km, Danau Liangzi adalah salah satu danau terbesar di Tiongkok.

Terletak di kota Wuhan, Provinsi Hubei, danau ini memiliki cerita dari 1.000 tahun yang lalu ketika mendapat nama aslinya, Danau Ibu dan Anak. Lebih dari 1.000 tahun yang lalu, tidak ada danau disana, dan daerah itu dikenal sebagai daerah Gaotong.

Suatu hari, seorang hakim korup bernama He Hairen tiba untuk memimpin daerah tersebut. Dia menggelapkan dana, menculik wanita dan mabuk di kedai minuman. Akibatnya orang-orang memberinya julukan “Pembunuh Hidup”, yang merupakan plesetan dari nama Tionghoanya.

Seluruh daerah itu segera berada dalam kekacauan. Seperti kata pepatah, “ikan membusuk dari kepala”  dengan pejabat pemerintah memberikan contoh yang buruk, semua orang mengikuti dan menjadi egois dan serakah. Akibatnya warga menderita, terutama mereka yang berusaha menegakkan moralnya.

Satu keluarga yang baik hati tinggal di kaki bukit dan menolak mengubah cara hidup mereka. Sang suami telah mengikuti ujian kekaisaran untuk menjadi pejabat pemerintah, tetapi mereka harus menunggu lama untuk mendapatkan hasilnya. Sementara itu istrinya, Meng Yuhong, dan putranya, Liu Renhong, bekerja keras mencari nafkah dengan mengumpulkan dan menjual kayu bakar.

Mencari Payung

Suatu hari, seorang biksu yang memegang payung rusak berjalan-jalan di desa, memohon kepada orang-orang untuk menukar payung dengan payungnya yang rusak: “Tolong beri saya payung yang bagus, dan anda dapat memiliki yang ini! Tolong, saya butuh payung!”

Penduduk desa mengira dia orang gila dan mengabaikannya. Ketika dia melihat Meng dan putranya, biksu itu mendekati mereka dan berkata: “Tolong, sebentar lagi akan turun hujan, dan saya tidak memiliki perlindungan. Tolong beri saya payung utuh untuk perlindungan, sehingga saya bisa pergi”.

Meng merasa kasihan padanya dan meminta putranya pulang untuk mengambil payung mereka. Biksu itu berterima kasih kepada mereka berdua dan menanyakan arah. Meng meminta putranya untuk menunjukkan jalan keluar dari desa.

Saat mereka melewati balai desa, biksu itu menunjuk ke salah satu singa batu yang menjaga pintu masuk dan membisikkan beberapa patah kata kepada Liu saat dia meninggalkan desa. Liu berbagi rahasia dengan Meng ketika dia sampai di rumah.

Singa Batu

Keesokan paginya dan selama beberapa hari setelahnya, Liu pergi untuk melihat singa batu. Akhirnya pada hari ketiga, tukang daging setempat, yang tokonya dekat tempat itu, mendekati Liu dan bertanya mengapa dia datang untuk melihat singa setiap hari.

Liu menjawab: “Saya harus memeriksa setiap hari untuk melihat apakah mulutnya berdarah”. Tukang daging itu tertawa. “Bagaimana bisa hewan batu berdarah?” Malam itu, setelah menyembelih babi, dia teringat kata-kata Liu. Dia mengambil semangkuk penuh darah dan menuangkannya ke mulut singa.

Keesokan harinya, ketika Liu melihat darah, dia berlari pulang dan memberi tahu Meng apa yang telah terjadi. Segera mereka berlari melewati desa, menabuh genderang dan menyuruh semua orang untuk lari menyelamatkan diri. “Cepat, semuanya, pergi ke bukit; sesuatu yang buruk akan datang”. Orang-orang bertanya apa yang mereka bicarakan.

Meng dan Liu menceritakan apa yang dikatakan biksu itu kepada mereka. “Tiga hari yang lalu, seorang biksu memberi tahu kami bahwa desa kita akan tenggelam dalam tiga hari dan berakhir di dasar danau. Waktu yang tepat adalah ketika mulut singa batu mulai berdarah. Anak saya telah memeriksa singa setiap hari, dan hari ini ada darah. Tolong percaya kami! Lari ke bukit, tolong, sebelum terlambat! Bawa keluargamu, jangan tinggalkan siapa pun!”

Mengetahui betapa dapat dipercayanya Meng dan keluarganya, beberapa penduduk desa mempercayainya dan mulai bersiap untuk pergi, mengumpulkan perbekalan dan anggota keluarga untuk perjalanan ke pegunungan. Tetapi yang lain menolak untuk menerima, dengan mengatakan: “Ada apa denganmu? Anda berbicara omong kosong; tidak ada banjir. Kami seharusnya menangkapmu karena menyebarkan desas-desus dan memulai kepanikan”.

Meng dan Liu berjalan ke balai desa, menemukan Pembunuh Hidup sedang minum didalam, dikelilingi oleh kroni-kroninya. Meng dan Liu mencoba memperingatkan mereka, tetapi para penjaga menolak untuk membiarkan mereka memasuki aula dan mengabaikan permohonan mereka untuk lari dan menyelamatkan diri.

Menyerah dengan mereka, Meng dan Liu menyelamatkan diri ke atas bukit. Tak lama langit menjadi gelap saat langit dipenuhi pasir yang beterbangan dan kerikil yang menggelinding. Guntur meraung saat gelombang besar air bah menggulung kota, mengguncang tanah seperti gempa bumi saat segalanya dan semua orang menghilang di bawah air yang bergolak.

Saat air mencapai Meng dan Liu dan penduduk desa yang ikut mereka menyelamatkan diri, sehelai daun teratai raksasa melayang melewati mereka. Mereka mampu memanjat keatas daun. Anehnya, tidak peduli bagaimana air liar bergelombang disekitar mereka, daun itu tetap stabil dan tetap mengapung.

Desa Gaotong menghilang dibawah Danau Liangzi

Jadi, sekarang ada sebuah danau yang dikenal sebagai Danau Liangzi. Daun teratai raksasa yang menjadi perahu penyelamat berubah menjadi sebuah pulau kecil bernama Pulau Liangzi.

Saat ini, ada patung Meng dan salah satu Liu berdiri di Pulau Liangzi ditengah danau Liangzi untuk menghormati hati baik mereka dan upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan penduduk desa. Ketika anda mengunjungi pulau itu, anda dapat melihat kedalam perairan Danau Liangzi dan membayangkan Desa Gaotong, desa yang ada 1.000 tahun yang lalu.(nspirement)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI