Dahulu kala hidup sepasang suami istri yang rajin dan ramah bernama Dajiange dan Shuishe. Suatu hari ketika pasangan itu sedang bekerja di ladang di bawah terik matahari, bumi bergerak dan gunung-gunung bergetar, langit serta bumi menjadi gelap.
Malamnya, bulan muncul di malam hari, sehingga ada cukup cahaya bulan bagi semua orang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tapi kemalangan terjadi lagi, keesokan harinya bulan juga menghilang. Karena hal tersebut maka setiap orang memutuskan untuk mengadakan pertemuan dan membahas cara mengatasi masalah ini.
Dajiange dan Shuishe menawarkan untuk membantu suku pedalaman untuk menemukan matahari dan bulan agar mereka bisa melanjutkan kehidupan normal mereka. Dengan membawa makanan sederhana mereka melakukan perjalanan berhari-hari sehingga akhirnya menemukan bulan dan matahari yang berada di bawah kolam air yang besar. Namun ketika mereka melihat lebih dekat, ternyata dua naga berwarna-warni sedang mempermainkan bulan dan matahari di air. Mereka berhenti dan saling memandang kebingungan karena mereka tidak tahu bagaimana cara menaklukkan kedua naga ini dan merebut kembali matahari dan bulan.

Ketika mereka kebingungan, seorang lelaki tua yang ditangkap oleh kedua naga untuk menjadi budak mereka, mengatakan kepada pasangan tersebut untuk menemukan gunting emas dan kapak emas di gunung Ali (Alishan), dan dengan kedua alat tersebut mereka dapat menaklukkan naga. Tentu saja menemukan kedua alat itu bukanlah tugas yang mudah. Setelah mendengarkan lelaki tua itu, pasangan tersebut bergegas ke Alishan dan dengan sekop mereka menggali tanah sedikit demi sedikit. Setelah perjuangan keras, mereka menemukan kedua alat tersebut lalu kembali ke kolam dan membunuh kedua naga tersebut.
Ketika pasangan itu sedang berpikir tentang bagaimana mengembalikan matahari dan bulan ke langit, lelaki tua itu muncul lagi. Dia memberi selamat kepada mereka karena telah melenyapkan makhluk berbahaya itu dan mengatakan bahwa mereka bisa menjadi raksasa jika memakan mata naga. Lalu bulan dan matahari bisa diletakkan kembali ke langit. Maka masing-masing dari mereka memakan mata sang naga dan menjadi raksasa. Mereka lalu mengambil matahari dan bulan dan melemparkannya ke atas. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mereka berhasil mengembalikan matahari dan bulan ke posisi semula di langit, langit dan bumi kembali normal.

Sejak itu, kolam air tempat jatuhnya matahari dan disebut “Danau Sun Moon”. Di kedua sisi danau ada dua gunung besar bernama Dajian-shan dan Shuishe-shan yang dipercaya merupakan inkarnasi dari suami istri yang menjaga Danau Sun Moon. Sampai hari ini, orang-orang Thao mengadakan tari “lempar bola” setiap tahun di tepi danau untuk memberi penghargaan atas jasa-jasa pasangan itu. (Yi Ming/visiontimes/sia/eva)
