Budaya

Legenda Yue Fei, Sosok Ksatria Yang Lembut dan Belas Kasih

Yue Fei
Yue Fei

Tiongkok masa lalu memiliki sejumlah jenderal militer yang berhasil mengukir prestasi bersejarah periode demi periode dan kisah mereka terus dikenang selama berabad-abad. Kisah-kisah ini meliputi pertahanan dalam berperang, kesetiaan terhadap negara serta kebijakan dan keberanian para pemuda. Diantara ribuan kisah, Yue Fei adalah yang paling terkenal.

Yue Fei hidup selama Dinasti Song. Meski dia dia gagal mengembalikan kejayaan Dinasti Song seperti sediakala, namun kesetiaan dan perilakunya telah menginspirasi rakyat Tiongkok dari generasi demi generasi.

Perjalanan Yue dimulai ketika Kinbyo (pemimpin orang-orang Jurchen) merebut ibu kota Jian Kang (sekarang dikenal sebagai Nanjing) menjelang akhir Dinasti Song (960-1279 M). Kinbyo menyebarkan kekacauan dengan serangannya dan membelah dinasti menjadi dua.

Yue berjuang sepenuh hati merebut kembali apa yang telah dirampas Jurchen dan mengembalikan Song ke posisi asal. Meski Yue hanyalah putra seorang petani, ia melihat kondisi negerinya, ia mulai mengajak dan merekrut orang-orang untuk dijadikan sebagai tentara dan pejuang tangguh untuk mempertahankan dinasti. Inilah awal terbentuknya “Laskar Keluarga Yue” (Yue Jia Jun dalam bahasa Tionghoa).

Di mata rakyatnya, perjuangan dan pengorbanan Yue Fei sangatlah berarti, kesetiaan dan komitmennya yang tak tergoyahkan untuk mengembalikan Dinasti Song ke masa kejayaannya. Meski misinya tidak berhasil, Yue Fei (1103-1142) menjalankan setiap perintah yang diberikan kepadanya, bahkan ketika dirinya tahu bahwa apa yang dihadapi hanya berarti ajal. Pada akhirnya Yue Fei mendapatkan tempat kehormatan di hati pasukannya atas upaya keras dan kebesaran hatinya.

Pasukan Yue harus menjalani kehidupan yang cukup keras. Mereka hanya makan bubur dengan tanaman liar sebagai penyedap rasa. Pada malam hari, mereka tidur di luar dalam cuaca dingin dan menggunakan senjata yang terbuat dari tebu. Yue menjalani kondisi yang sama dengan tentaranya. Sebagai seorang panglima perang di Tiongkok kala itu, sikap Yue dianggap tidak biasa.

Selama penugasannya, Yue menerapkan aturan ketat kepada pasukannya, salah satu diantaranya adalah:

“Jangan pernah membobol rumah bahkan jika kau mati kedinginan, jangan pernah menjarah bahkan jika kau mati kelaparan”.

Mereka yang melanggar aturan akan mendapat hukuman.

Aturan ini bagi sebagian orang mungkin tampak sulit, namun ini hanyalah satu sisi pribadinya. Yue juga dikenal sebagai sosok pria yang lembut dan berbelas kasih.

Setiap kali rekan jendralnya tewas dalam pertempuran, Yue akan mengadopsi dan menghidupi anak-anak mereka dan menganggap mereka bagian dari keluarga. Yue juga sering menjenguk prajurit yang sakit.

Dipercaya berkat perhatian Yue, tak satupun korban meninggal akibat wabah malaria yang melanda Guanxi dan Guangdong selama perang enam tahun. Akan tetapi, akibat kerja berlebihan yang tak ada hentinya, Yue menderita penyakit mata. Ketika pihak istana memberikan Yue imbalan atas jasanya, ia membagi-bagikannya kepada para tentara.

Di awal karir militernya, Yue menemukan dirinya harus memilih antara kesetiaannya pada negara dan merawat ibunya. Inilah awal dari kisah lain kehidupan Yue Fei.

Alkisah bahwa demi membujuk sang putra untuk ikut perang, ibu Yue menulis aksara Tionghoa “jin zhong bao guo” (setia mengabdi untuk negara) di punggung Yue Fei menggunakan kuas kaligrafi, kemudian dengan hati-hati menindik bekas goresan itu dengan jarum, dan menutupi lukanya dengan tinta dan cuka.

Demikianlah Yue Fei menerima tato legendarisnya, ‘Setia mengabdi untuk negara’

Selama pertempuran, Laskar Keluarga Yue adalah kekuatan yang ditakuti dan dihormati. Putra Yue, Yun, diangkat menjadi komandan Pasukan Beiwei, yang merupakan kelompok terkuat dalam pasukan, dan saat itu usianya belum mencapai 20 tahun.

Pasukan elit ini hanya beranggotakan 800 tentara untuk melawan 120.000 tentara. Untuk memenangkan pertempuran, Yun memilih untuk tidak mengarahkan mereka berhadapan muka, tetapi meminta pasukannya menyerbu garis musuh, membantai hampir 100 jenderal Jin (dinasti yang diambil oleh Jurchen), termasuk menantu lelaki dari salah satu pemimpin militer Jin yang paling terkenal.

Pertempuran ini mengejutkan seluruh orang-orang Dinasti Jin. Pimpinan mereka, Wanyan Wuzhu, melakukan serangan balasan dan mengerahkan 500.000 armada perang. Dengan hanya beranggotakan 500 orang tentara, Laskar Keluarga Yue berhasil melumpuhkan pasukan Jin, Wanyan dibuat kebingungan dengan kecepatan dan kekuatan musuhnya.

Inilah yang membuat Wanyan akhirnya menyerah dan mengaku: “Yue Yun mengalahkan 500.000 pasukanku dengan hanya 500 tentara.”

“Sangat mudah bagiku untuk mengguncang gunung, tetapi mengguncang Laskar Keluarga Yue? Begitu sulitnya”

Saat Yue Fei tengah berjuang merebut kembali tanah negerinya yang masih diduduki orang-orang Jurchen, ia mendadak dipanggil untuk kembali ke ibukota. Semua prestasi militernya membuat partai pejabat istana yang korup iri padanya. Para pejabat korup menemukan cara untuk menghapus pangkat militer Yue. Mereka memenjarakannya, mengarang tuduhan palsu dan menjatuhkan hukuman mati pada Yue Fei.

Kaisar Xiaozong membebaskan Yue Fei dua dekade setelah kematiannya, dan integritas Yue Fei dipulihkan sebagai jenderal yang setia. Sebagai hukuman atas pengkhianatan para pejabat, Kaisar Xiaozong membuat patung-patung besi para pejabat yang bersalah berlutut di depan makam Yue Fei.

Ketika ditanya apa prinsip yang dipegangnya dalam memimpin pasukannya, Yue Fei menjawab, “kebajikan, kebijakan, kehormatan, keberanian, dan ketegasan. Semua sangat diperlukan.” Inilah kunci moral menyebabkan Yue Fei berulang kali menorehkan kemenangan.

Misi Jenderal Yue Fei untuk memulihkan kerajaan berakhir dengan dirinya dibunuh oleh seorang perdana menteri yang korup, dan pasukannya dibubarkan. Namun karena tekad, patriotisme, ketegaran dan pengabdiannya yang luar biasa demi kepentingan negara, ia adalah dinobatkan sebagai satu pahlawan paling dikenang di Tiongkok. (visiontimes/bud/may)

slot gacor

situs slot gacor