Budaya

Lukisan ‘Pedang Damocles’

Lukisan 'Pedang Damocles' @Wikipedia
Lukisan 'Pedang Damocles' @Wikipedia

Kisah “Pedang Damocles” adalah kisah moral yang berasal dari cendekia era Romawi, Cicero. Damocles adalah seorang pelayan raja Dionysius II.

Raja Dionysius II memerintah kerajaannya dengan hati dingin. Dia selalu merasa takut akan dibunuh, oleh karena itu dia membuat parit perlindungan disekeliling tempat tinggalnya.

Suatu ketika, seorang pelayan istana dan penyanjung bernama Damocles, telah membuat sang Raja kesal atas sanjungannya. Damocles mengatakan kepada raja bahwa raja memiliki salah satu kehidupan yang paling menakjubkan dan menyenangkan.

Frustrasi dengan kenaifan Damocles, maka Dionysius II menjawab: “Karena hidup [saya] ini menyenangkan bagi Anda, apakah Anda ingin mencicipinya dan mencoba keberuntungan saya?”

Tentu saja, Damocles heran dengan tanggapan sang Raja dan segera menerima tawarannya. Pada awalnya, Dionysius II mendudukkan Damocles di takhta emas dan memiliki pelayan yang melayaninya seperti raja. Damocles disuguhi makanan, minuman, dan kesenangan terbaik dalam hidup seorang raja.

Namun, begitu Damocles mulai menikmati kehidupan barunya yang mewah, dia melihat bahwa dia diancam oleh pedang yang tergantung di langit- langit. Di atas kepala Damocles, Dionysius II menggantungkan sebuah pedang yang sangat tajam pada sehelai rambut kuda.

Karena matanya menatap pedang dengan perasaan was-was, Damocles tidak bisa lagi menikmati kemewahan di sekelilingnya. Tidak lama kemudian dia bertanya apakah raja akan memaafkannya.

‘Pedang Damocles’ karya Richard Westall

Richard Westall, pelukis dari Inggris abad ke-18 dan ke-19 yang bekerja untuk Ratu Victoria, melukis adegan hebat yang menggambarkan momen klimaks dalam kisah tersebut.

Titik fokus lukisan itu adalah Raja Dionysius II, yang mengenakan jubah merah, berdiri di tengah komposisi. Salah satu tangannya bertumpu pada apa yang tampak seperti tongkat kerajaan, dan tangan lainnya menunjuk ke arah pedang yang tergantung di kiri atas komposisi.

Pedang mengarahkan mata kita ke Damocles, yang diawasi Dionysius II. Damocles mengenakan pakaian mewah seperti raja, duduk di atas takhta emas, dan meraih segelas anggur yang disajikan kepadanya oleh seorang pelayan wanita. Dia baru saja menyadari ada pedang tergantung di atas kepalanya saat dia meraih gelas.

Di latar depan adalah karangan bunga dan tongkat kerajaan. Sepertinya Damocles pernah mengenakan karangan bunga kepala dan memegang tongkat kerajaan itu, yang keduanya mungkin terjatuh saat Damocles menatap pedang.

Damocles dikelilingi oleh kemewahan. Ada piring indah, perabotan emas, dan karya seni indah di sekelilingnya. Ada buah di atas meja di sampingnya, dan pelayan lainnya menunggu untuk membawakannya hidangan. Wanita di latar belakang di sisi kiri komposisi memegang alat musik, dan kita dapat berasumsi bahwa mereka bermain untuk Damocles.

Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau

Richard menggambarkan Damocles saat dia menyadari bahwa rumput tetangga tidak selalu lebih hijau. Damocles percaya bahwa kehidupan raja lebih menyenangkan daripada hidupnya sendiri.

Hanya setelah mengalami kesulitan hidup sebagai raja, dia baru mulai menghargai hidupnya sendiri, yang datang dengan kenyamanannya sendiri.

Saya pikir Dionysius II menunjuk ke arah pedang tidak hanya untuk membuktikan pendapat- nya bahwa menjadi raja tidaklah menyenangkan seperti yang dipikirkan Damocles, tetapi juga untuk dipahami.

Meskipun sang raja berhati dingin, Dionysius II memberi Damocles pelajaran secara belas kasih: Bahkan seorang raja seperti Dionysius II ingin seseorang memahaminya dan mempertimbangkan kesulitannya.

Terkadang, kita melihat orang-orang yang tampaknya menjalani kehidupan yang baik dan memiliki semua hal yang kita inginkan. Kita juga menginginkan kehidupan seperti itu.

Tetapi kita mungkin gagal untuk benar-benar memikirkan apa yang mereka lalui untuk mencapai jenis kehidupan itu; kita mungkin gagal memahami penderitaan mereka.

Sebagai manusia, setiap orang pasti menderita, dan tidak ada seorang pun di atas selalu menerima kebahagiaan hidup; yang kaya, yang berkuasa, yang terkenal, dan raja semua pasti memiliki kesulitannya sendiri dan mereka ingin dimengerti.

Lukisan itu menawarkan suatu kebijaksanaan lain: Semua hal yang kita pikir kita butuhkan untuk membuat hidup kita lebih menyenangkan adalah fana.

Damocles menyadari bahwa kesenangan yang baru saja diperolehnya tidak berharga ketika potensi kematiannya ada dihadapannya. Dia bahkan tidak bisa melihat anggur yang ingin diraih tangannya, dan dia tidak menyadari bahwa karangan bunganya telah jatuh dari kepalanya atau musiknya telah berhenti. Semua kesenangan di sekitarnya menjadi tidak penting dibandingkan dengan ancaman pedang gantung itu.

Kita tidak dapat membawa harta benda, kesenangan, ketenaran, atau kekuasaan saat kita mati. Mungkin lebih bijaksana untuk memandang hal- hal ini sedikit lebih ringan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Damocles perlu menghadapi potensi kematiannya agar dia menghargai hidupnya dan tidak lagi berpikir bahwa rumput tetangga lebih hijau. Mudah-mudahan, kita tidak perlu tindakan ekstrem seperti itu untuk memiliki rasa syukur yang mendalam atas hidup kita sendiri. (epochtimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI