Site icon NTD Indonesia

Makna Pernikahan

Pernikahan, dalam pengertian tradisional, adalah penyatuan antara pria dan wanita. Ritual ini telah dipraktikkan oleh berbagai budaya di seluruh dunia selama berabad-abad. Ini adalah dasar untuk perwujudan sosial dari apa yang kita sebut sebagai keluarga, dengan tugas dan hak istimewa yang dibagi bersama.

Pernikahan sangat penting untuk manusia meneruskan keturunan, sementara juga menjadi komitmen kepada Tuhan, Surga, dan bumi, orang tua, serta sumpah untuk memenuhi janji saling setia. Kebiasaan dan etika pernikahan Timur dan Barat adalah perwujudan dari makna batin yang sakral ini.

Dalam sebagian besar budaya, standar pernikahan memandang bahwa pria dan wanita harus setia dan murni satu sama lain, baik dalam keadaan kaya, miskin, sakit, bencana, hidup dan mati.

Sepasang suami istri yang disatukan oleh ritual pernikahan tidak boleh meninggalkan dan mengkhianati satu sama lain dan harus mematuhi sumpah mereka kepada Tuhan. Ini adalah aspek lain dari perkawinan yang sama-sama dimiliki oleh Timur dan Barat antara suami dan istri. Mereka diminta untuk saling menghormati satu sama lain. Rasa saling menghormati adalah landasan pernikahan. Karena rasa hormat inilah maka pasangan yang sudah menikah akan saling melengkapi, saling mencintai, membantu, dan mendukung satu sama lain hingga usia lanjut, dan dengan demikian, pada akhirnya memenuhi janji mereka dan sumpah pernikahan yang sungguh-sungguh.

Di Tiongkok kuno, perkawinan dimaksudkan untuk keberlangsungan seumur hidup manusia, dan diyakini bahwa pengkhianatan sumpah pernikahan pada akhirnya akan menemui balasan.

Perlakukan pasangan anda dengan bermartabat dan kebajikan

Song Hong adalah seorang menteri terkenal selama awal Dinasti Han Timur. Song tidak korup dan dikenal sebagai orang yang bermartabat dan murah hati. Cara dia menangani hubungannya dengan istrinya dianggap oleh banyak orang sebagai contoh bagi generasi mendatang. Dia berkata: “Istri yang telah mengalami kesulitan dan masa-masa sulit bersama suaminya tidak dapat ditelantarkan”.

Kakak tertua Kaisar Guangwu adalah Putri Huyang. Ketika suami sang putri meninggal, Kaisar Guangwu berbicara dengan sang putri tentang keinginannya dalam memilih salah satu pejabat istana untuk menjadi suaminya. Putri Huyang berkata: “Song Hong memiliki kepribadian, berbakat, bermoral baik, dan semua menteri lainnya tidak dapat dibandingkan dengannya”. Itu sesuai dengan keinginan Kaisar Guangwu.

Kaisar Guangwu kemudian memanggil Song Hong dan membiarkan Putri Huyang duduk di belakang layar. Kaisar berkata kepada Song Hong: “Seperti kata pepatah, ketika seseorang menjadi terhormat, ia mengubah temannya; ketika orang itu menjadi kaya, dia mengubah istrinya. Apakah ini sifat manusia?” Song Hong menjawab: “Saya mendengar bahwa teman-teman selama masa penderitaan dan kesulitan tidak dapat dilupakan, jadi, istri yang telah mengalami penderitaan dan masa sulit dengan suaminya tidak dapat ditinggalkan. “Mendengar ini, Kaisar Guangwu membatalkan gagasan menjalin ikatan antara Putri Huyang dan Song Hong. (visiontimes/bud/ch)