Ceng Beng (Qing Ming), yang artinya: Festival Bersih dan Cerah, dirayakan dengan mengenang para leluhur, dimana orang-orang mengunjungi kuburan untuk membersihkan makam kerabat mereka yang telah meninggal dan memberikan persembahan.
Pada masa Periode Musim Semi dan Musim Gugur Tiongkok kuno hampir 2.700 tahun lalu, ada seorang pejabat bernama Jie Zitui yang sangat loyal yang memotong daging pahanya sendiri untuk mempertahankan hidup calon raja Chong Er yang pingsan kelaparan di pelarian. Ketika Chong Er menjadi raja, ia ingin membalas budi Jie Zitui, namun Jie Zitui berada didalam hutan bersama ibunya, dipanggil tidak mau keluar karena tidak mau menerima penghargaan itu. Agar memaksa mereka keluar, hutan dibakar. Namun Jie Zitui tidak juga keluar sampai api padam selama tiga hari tiga malam, dan akhirnya raja sangat sedih menemukan jenazah Jie Zitui bersama ibunya didalam hutan.
Menurut legenda, kata-kata terakhir dari Jie Zitui itu berupa nasihat pada selembar kain yang dibawanya, sajak kepada raja untuk menjadi mengatur negeri menjadi bersih dan cerah” (Qing Ming). Sejak itu raja menetapkan perayaan Qing Ming untuk mengenang Jie Zitui dan juga para leluhur yang telah meninggal, sebuah istilah yang terus hidup hingga kini untuk dirayakan orang Tionghoa setiap musim semi, untuk setahun sekali mengunjungi tempat peristirahatan terakhir, mengenang jasa-jasa mereka, membersihkan makam dan mendoakan orangtua, kakek/nenek, saudara atau kerabat yang telah meninggal.
Tahun ini, Festival Ceng Beng (清明) atau Festival Bersih dan Cerah jatuh pada tanggal 5 April. Menghormati para leluhur adalah aspek penting dari kebajikan dan spiritualitas Tiongkok yang dipatuhi dengan cermat oleh semua kelas mulai dari petani hingga penguasa kekaisaran.
Ritual
Di dalam Di Zi Gui (弟子 規), buku etiket dan moralitas Konfusianisme, dikatakan:
Saat pemakaman lakukan tatacara
Dalam persembahan harus tulus
Layani mereka yang telah meninggal
Seolah mereka masih hidup
Salah satu cara memberikan pelayanan upacara kepada orang yang telah meninggal adalah dengan memberikan persembahan makanan kepada mereka. Ini termasuk menyiapkan makanan yang mereka sukai saat masih hidup, kemudian menempatkan makanan di atas altar selama periode berkabung. Persembahan kemudian dimakan atau disumbangkan untuk amal setelah upacara selesai.
Dalam etika makan orang Tionghoa, membiarkan sumpit tertancap di atas makanan dianggap tidak sopan dan membawa sial. Tindakan ini dilakukan untuk orang yang telah meninggal, yang tidak bisa mengangkat sumpit sendiri.
Persembahan lainnya termasuk upacara pembakaran uang kertas dan, meletakkan bunga di kuburan setelah masuknya budaya barat.
Di masa kekaisaran, ritual termegah dan sakral dilakukan oleh istana mewakili seluruh rakyat di hadapan kekuatan langit dan bumi. Ungkapan klasik Tiongkok merangkum skala peristiwa ini: “Langit bersih dan bumi cerah” (天 清 地 明).
Peringatan
Ceng Beng juga disebut Festival Pembersihan Makam. Menjaga makam leluhur tetap bersih menunjukkan bahwa mereka terus hidup – tidak hanya di alam baka, tetapi juga dalam ingatan dunia.
Festival Ceng Beng telah dirayakan dalam beberapa bentuk sejak era pra-kekaisaran, tetapi menjadi terkenal pada masa dinasti Tang dan Song di kisaran abad ke-7 hingga 13. Di masa Dinasti Yuan yang didirikan Penguasa Mongol, kaisar bahkan mengadakan upacara untuk menghormati mereka yang tidak memiliki keturunan atau mereka yang dilupakan oleh keturunannya. Dengan cara ini, mereka tidak akan menjadi roh pendendam yang menyakiti manusia.
Pada masa Dinasti Ming, upacara peringatan dibakukan untuk dilakukan setiap musim – Ceng Beng di musim semi, Festival Perahu Naga di musim panas, Festival Hantu di musim gugur, dan Dongzhi (titik balik matahari musim dingin) di musim dingin.
Festival Perahu Naga, yang dikenal sebagai Duanwu, secara tradisional dirayakan untuk mengenang pejabat jujur Qu Yuan, yang menenggelamkan dirinya sebagai aksi protes atas kehancuran negerinya.
Bahkan di zaman modern, Ceng Beng telah menjadi kesempatan untuk mengenang para pahlawan publik dan terkadang untuk membuat pernyataan politik. Menjelang akhir Revolusi Kebudayaan (kampanye komunis selama satu dekade yang menyerang adat dan kepercayaan tradisional Tiongkok), kerumunan orang berkumpul di Beijing untuk berkabung atas kematian Zhou Enlai, seorang pejabat Partai yang populer.
Zhou dianggap sebagai tokoh politik moderat di era fanatisme, setelah melindungi landmark nasional seperti Kota Terlarang agar tidak dihancurkan oleh Tentara Merah. Setelah kematiannya, orang banyak menghormatinya dan menjadi sebuah indikator hidup dari penderitaan besar yang telah ditimpakan oleh penguasa komunis kepada rakyat.
Kelahiran kembali
Jika Ceng Beng adalah waktu untuk menghormati dan mengenang mereka yang telah meninggal, maka yang sama pentingnya dalam festival adalah perayaan kehidupan.
Menurut kalender tradisional Tiongkok, Ceng Beng adalah salah satu dari 24 posisi matahari, 15 hari setelah equinox musim semi, yang dianggap sebagai pertengahan musim semi. Deskripsi kuno dari istilah matahari ini menyatakan bahwa Ceng Beng adalah masa ketika semua kehidupan berada dalam keadaan pembaruan, dengan berlalunya musim dingin.

Untuk alasan ini, hari Ceng Beng juga merupakan waktu bagi orang untuk berkumpul bersama melakukan kegiatan tradisional, termasuk naik gunung, bermain tarik tambang, menanam pohon willow atau menerbangkan layang-layang. Pria dan wanita muda juga menggunakan festival itu untuk berkenalan dan hari itu dihubungkan dengan gadis-gadis yang baru mencapai usia dewasa.
Dalam lukisan Dinasti Song yang terkenal berjudul Sepanjang Sungai Selama Festival Ceng Beng, seniman Zhang Zeduan (1085-1145) menggambarkan dengan sangat rinci pemandangan luas di ibukota kekaisaran Kaifeng. Semaraknya kota selaras dengan dinamisme musim, bahkan orang-orang digambarkan ikut terlibat dalam upacara khidmat hari itu.
Konfusius mengajarkan bahwa meskipun wajar dan perlu untuk mengungkapkan kesedihan bagi orang yang telah meninggal namun kematian itu sendiri tidak boleh dibiarkan menghalangi orang yang hidup. Dengan cara ini, “tugas rakyat terpenuhi, kewajiban selama hidup dan mati ada pada tempatnya dan pelayanan anak yang berbakti kepada orang tuanya terselesaikan.”
Bagi orang Tiongkok kuno, kesedihan dan kepedihan bukanlah fokus utama dalam menghormati orang yang sudah meninggal. Sebaliknya, Festival Ceng Beng adalah untuk membuat para leluhur bangga dengan merayakan kebersihan dan kecerahan dari dunia orang yang masih hidup. (visiontimes/sia/eva)
