Budaya

Masa Kecil Lao Zi

Patung perunggu filsuf Tiongkok Lao Tzu dipersembahkan kepada Dyffryn Gardens pada 1950-an (Gambar: Hywel Jenkins via Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0)
Patung perunggu filsuf Tiongkok Lao Tzu dipersembahkan kepada Dyffryn Gardens pada 1950-an (Gambar: Hywel Jenkins via Wikimedia Commons CC BY-SA 2.0)

Lao Zi (juga dikenal sebagai Lao Tzu), hidup antara sekitar tahun 600 dan 470 SM selama Periode Musim Semi dan Gugur, menulis Dao De Ching yang terkenal  dan merupakan tokoh sentral dalam perkembangan Taoisme.

Sebagai seorang anak, ia cerdas, banyak membaca, sering bertanya kepada keluarganya tentang naik turunnya negara, pertempuran antar negara, ritual dan ramalan, pengamatan astrologi, dan banyak lagi.

Menyadari kecerdasan luar biasa anak itu, ibunya mengundang cendekiawan terkenal Shang Rong untuk menjadi gurunya. Shang Rong berpengalaman dalam astronomi, geografi, dan ritual kuno dan modern dan sangat dihormati oleh keluarga.

Apa yang ada diatas makhluk paling murni?

Dalam pengajarannya, Shang pernah berkata, “Antara Langit dan Bumi, manusia adalah yang utama, dan diantara semua manusia, pemimpin adalah yang utama”. “Apa itu Surga?” Lao Zi bertanya, “Surga adalah makhluk murni yang tinggi diatas”, jawab gurunya. “Apa itu makhluk murni?” “Makhluk murni adalah cakrawala”. “Apa yang ada dibalik cakrawala?” Lao Zi bertanya lagi, “Makhluk yang lebih murni ada disana”.

“Apa yang ada diatas makhluk paling murni?” Lao Zi bertanya lebih jauh. “Saya tidak berani berspekulasi karena tidak ada yang diwariskan oleh orang bijak sebelumnya dan tidak ada catatan tentang ini di buku-buku kuno”, kata gurunya dengan rendah hati.

Malam itu, Lao Zi menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada keluarganya, tetapi tidak ada yang bisa menjawabnya. Menatap ke langit dan tenggelam dalam pikirannya, dia berbaring terjaga sepanjang malam.

Asal Usul Kekuatan Dewa

Di lain waktu, Guru Shang memberitahunya, “Surga, Bumi, manusia dan banyak hal lain ada di alam semesta. Surga memiliki prinsipnya, dan Bumi memiliki hukumnya; manusia memiliki etika, dan benda memiliki sifat fisik. Oleh karena itu, Surga memiliki matahari, bulan, dan bintang-bintang yang bergerak; Bumi memiliki laut, gunung, sungai dan lautan; ada atasan dan bawahan, tua dan muda diantara manusia; dan diantara benda-benda fisik, ada yang panjang, ada yang pendek, ada yang kuat dan ada yang rapuh”.

 “Lalu siapa yang menggerakkan matahari, bulan dan bintang?” Lao Zi bertanya, “Siapa yang menciptakan gunung, sungai dan lautan? Siapa yang mengurutkan manusia kedalam kategori-kategori itu, dan siapa yang memberikan atribut fisik pada objek?” “Semuanya dilakukan oleh Dewa”, jawab gurunya.

“Bagaimana Dewa bisa melakukan semua ini?” “Dewa memiliki kemampuan untuk mengubah dan kekuatan untuk menciptakan, sehingga mereka dapat melakukan semua hal ini”, jawab gurunya. “Tapi dari mana kekuatan itu berasal, dan kapan mereka mulai memiliki kekuatan ini?” “Saya tidak berani berspekulasi”, kata gurunya, “karena para guru dimasa lalu tidak mewariskan apapun dalam hal ini dan saya tidak melihat catatan tentang hal ini dalam buku-buku kuno”.

Di malam hari, Lao Zi menanyakan pertanyaan yang sama kepada ibunya dan anggota keluarganya yang lain, tetapi tidak ada yang bisa menjawabnya. Dia merenungkan apa yang dikatakan sang guru siang dan malam, begitu fokus sehingga dia tidak merasakan makanan yang dia makan selama tiga hari.

Suatu hari, Guru Shang mengajarkan, “Seorang pemimpin bertindak atas nama Surga; warganegara adalah mereka yang diperintah oleh pemimpin. Jika pemimpin bertentangan dengan kehendak Surga, maka dia harus diakhiri; jika warganegara menolak untuk mengikuti pemimpin, mereka melakukan dosa. Ini adalah cara pemerintahan”.

 “Warganegara berada disini bukan untuk pemimpin, dan tidak mematuhi pemimpin bisa dimengerti. Namun, jika seorang pemimpin dilahirkan oleh kehendak Surga. Bagaimana kalau dia bertindak melawan Surga?” Lao Zi bertanya.

 “Para Dewa mempercayakan pemimpin untuk mengurus urusan di dunia manusia atas nama mereka. Ketika seorang pemimpin lahir, itu seperti mengirim seorang jenderal ke medan perang yang jauh, jadi dia tidak terikat langsung dengan perintah dari penguasanya sendiri. Jadi, seorang pemimpin terkadang bertentangan dengan mandat surgawi”, jawab gurunya.

 “Dewa memiliki kemampuan untuk merubah dan kekuatan untuk menciptakan. Mengapa mereka tidak menciptakan penguasa yang bertindak sesuai dengan keinginan mereka?”

Tetapi sekali lagi Guru Shang berkata: “Saya tidak berani berspekulasi, karena orang-orang bijak dimasa lalu tidak mewariskan apapun dalam hal ini dan tidak ada catatan tentang ini dalam buku-buku kuno”.

Di malam hari, Lao Zi mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada orang-orang dirumah tangganya, dan sekali lagi, tidak seorangpun dari mereka yang dapat memberikan jawaban kepadanya.

Dia mengunjungi semua cendekiawan lokal terkemuka untuk mencari pengetahuan, begitu terkonsentrasi dalam pencariannya sehingga dia tidak merasakan basah karena hujan atau kering karena angin.

Mengapa Dewa Mengizinkan Perang?

Pada kesempatan lain, sang guru mengatakan kepadanya, “Mengenai segala sesuatu dibawah Surga, harmoni adalah pilihan terbaik. Tanpa harmoni, akan ada perang. Dalam perang, kedua belah pihak menderita dan tidak ada yang diuntungkan. Oleh karena itu, berbuat baik kepada orang lain benar-benar menguntungkan diri sendiri, dan menyakiti orang lain sama dengan menyakiti diri sendiri”.

Lao Zi bertanya, “Kehilangan harmoni menyebabkan kerugian besar bagi orang-orang. Jadi mengapa pemimpin tidak melakukan sesuatu tentang itu?” Gurunya menjawab, “Ketika orang berkelahi diantara mereka sendiri, itu hanya sedikit mengganggu keharmonisan; masalahnya tidak signifikan, dan tidak perlu pemimpin menanganinya. Jika pertarungan terjadi antar negara, maka harmoni jungkir balik, konsekuensinya sangat besar, bagaimana pemimpin bisa menanganinya?

Lao Zi bertanya-tanya dengan serius, “Jika pemimpin tidak bisa menanganinya, mengapa Dewa tidak menghentikannya?”

Sekali lagi kata-kata rendah hati yang sama dari gurunya: “Saya tidak berani berspekulasi, karena orang-orang besar dimasa lalu tidak mewariskan apapun dalam hal ini dan tidak ada catatan tentang ini dalam buku-buku kuno”.

Di malam hari, Lao Zi menanyakan pertanyaan yang sama kepada anggota keluarganya, dan tetap tidak ada yang dapat menjawab. Sekali lagi, dia mengunjungi semua cendekiawan lokal terkemuka dan membaca semua buku yang tersedia untuk mencari jawaban, begitu terpaku sehingga dia tidak merasakan panas atau dingin.

Lao Zi Melampaui Gurunya

Tiga tahun berlalu. Suatu hari, Shang Rong menemui ibu Lao Zi dan berkata, “Pengetahuan saya terlalu dangkal untuk terus mengajar putra anda yang sangat cerdas. Saya disini untuk mengucapkan selamat tinggal, bukan karena saya tidak ingin mengajarinya atau karena dia tidak rajin, tetapi karena saya telah mengajarinya semua yang saya tahu, namun itu tidak cukup untuk memuaskan dahaganya yang tak ada habisnya akan pengetahuan”.

 “Saya merasa sulit untuk melanjutkan”, guru itu mengakui, “Putra anda adalah anak laki-laki dengan cita-cita yang sangat tinggi namun tinggal didaerah terpencil. Jika anda ingin memoles potensinya yang luar biasa, anda harus mengirimnya ke ibu kota, dimana terdapat banyak buku dan kumpulan cendekiawan yang besar. Itu adalah tanah suci dibawah Surga; dia tidak akan bisa mencapai kesuksesan besar tanpa pergi ke sana”.

Ibu Lao Zi menjadi khawatir dengan saran ini dan berpikir, “Lao Tzu baru berusia 13 tahun dan dia adalah putra satu-satunya. Bagaimana saya bisa membiarkan dia pergi sejauh itu sendirian? Dan saya tidak mampu memberinya bekal”.

Merasakan kekhawatiran sang ibu, Guru Shang berkata, “Anda tahu, seorang teman saya sedang bertugas di perguruan tinggi kekaisaran dari istana Dinasti Zhou. Sebagai seorang sarjana, ia menghargai orang-orang berbakat. Saya telah memberi tahu dia tentang putra anda dan dia bisa mendampingi anak ini dibawah asuhannya.”

Dengan demikian, hal itu terselesaikan. Lao Zi meninggalkan kampung halamannya menuju Zhou. Dia diterima di universitas kekaisaran dan mempelajari semua disiplin ilmu, termasuk astronomi, geografi dan etika. Ia juga mempelajari peninggalan budaya, berbagai dekrit, peraturan dan buku-buku sejarah.

Lao Zi membuat kemajuan yang signifikan dan menjadi juru tulis di Kamar Arsip istana Zhou tiga tahun kemudian. Itu memungkinkan dia mengakses koleksi besar klasik, esai dan buku. Dia benar-benar dalam kegemarannya; setiap hari ia membenamkan dirinya dalam lautan buku, ritual dan musik, serta esensi prinsip moral dan etika.

Tiga tahun setelah itu, pada usia 19 tahun, ia dipromosikan menjadi pejabat istana kerajaan Zhou. Dia menjadi terkenal, dan namanya menyebar ke seluruh negeri.

Namun, Lao Zi masih tidak dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang membingungkan Guru Shang. Pencariannya akan jawaban inilah yang akan menuntunnya untuk menemukan Tao atau Jalan Kehidupan.(visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI