Site icon NTD Indonesia

Membuka Kekuatan Penetrasi Dupa

Dupa

Dupa. (Pixabay)

Selama ribuan tahun, manusia telah membakar tumbuhan untuk upacara sakral dan tujuan spiritual lainnya. Secara kolektif dikenal sebagai dupa, tradisi turun temurun ini berlanjut tidak hanya dalam lingkungan keagamaan, tetapi juga mendapatkan popularitas di kalangan individu sebagai ritual kesadaran (mindful) dengan niat positif; tapi berapa banyak yang memahami kekuatan dupa? Dapatkah asap harumnya menembus dimensi lain?

Sejarah Penggunaan Dupa

Mesir

Beberapa catatan sejarah paling awal, yaitu Firaun di Mesir kuno sudah mencatat perihal penggunaan dupa. Tidak hanya direpresentasikan dalam seni dan didokumentasikan dalam hieroglif, namun sisa-sisa resin dan abu menunjukkan bahwa dupa digunakan dalam penguburan dan upacara lainnya lebih dari 5.000 tahun yang lalu. Bahkan terbukti bahwa resin dan tumbuhan tertentu mempunyai tujuan masing-masing, baik untuk pengobatan maupun keagamaan.

Asia

Seiring dengan semakin maraknya perdagangan, bahan-bahan dupa berkembang melampaui herbal dan resin lokal hingga mencakup rempah-rempah eksotis yang harum. Penggunaan dupa menyebar ke India, Tiongkok, dan Jepang, di mana praktik tersebut berkembang sesuai dengan adat istiadat budaya yang berbeda, namun tetap bersifat spiritual, dan meluas.

Eropa

Penggunaan dupa upacara secara alami diadopsi oleh banyak agama Barat. Di Gereja dupa digunakan untuk memberkati, menguduskan, dan menghormati.

Bagian Bawah Formulir

Di Yunani kuno, roh jahat diusir dengan dupa dari damar yang dibakar. Demikian pula, ritual kuno Skotlandia yang disebut saining menggunakan tanaman juniper yang dibakar untuk menghilangkan pengaruh yang tidak diinginkan, memurnikan, dan melindungi.

Amerika

Di masa awal benua Amerika, masyarakat adat juga memasukkan tumbuhan yang membara ke dalam banyak ritual mereka. Masyarakat Mesoamerika pra-Columbus membakar resin aromatik, yang dikenal sebagai kopal untuk tujuan pengobatan dan upacara.

Di Amerika Selatan, palo santo, atau “kayu suci”, dari pohon Bursera Graveolens dibakar untuk ritual sakral, serta sebagai obat penyucian tubuh dan pembersihan energi bagi jiwa.

Suku-suku di Amerika Utara menggunakan sage putih, atau “sage suci”, dari semak gurun asli mereka, Salvia apiana, untuk tujuan serupa. Sage putih, cedar merah, rumput manis, dan tembakau dianggap sebagai empat tumbuhan suci, dan dibakar dalam upacara doa, penyembuhan, dan penyucian.

Meskipun dupa masih digunakan secara luas hingga saat ini, simbolisme mendalamnya sering kali diabaikan.

Kekuatan Penetrasi Dupa

Seseorang dapat dengan mudah merasakan bahwa suasana suatu ruangan berubah dengan pembakaran dupa. Ketika energi negatif dihilangkan, ruangan menjadi lebih tenang dan membangkitkan semangat. Secara simbolis, aksi membakar dupa melambangkan transformasi.

Dengan energi pemurnian dari api, material padat diubah menjadi gumpalan asap dan sedikit abu. Kita juga bisa menjadi murni secara spiritual, melonggarkan ikatan kita dengan dunia material, dan mewujudkan tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Asap dupa yang harum, selain memfasilitasi relaksasi tubuh dan memberikan fokus ketenangan pada pikiran, juga naik dari fisik menuju spiritual. Ini mewakili kemurnian pengabdian kita, dan diyakini membawa doa dan niat kita kepada Tuhan.

Di Gereja, dupa adalah kegiatan persembahan, atau menyembah kepada Tuhan, melambangkan doa dan pengorbanan. Asap dapat dipandang sebagai simbol Tuhan yang menghubungkan Langit dan Bumi. Kemenyan, resin yang berharga namun sering digunakan, melambangkan keilahian Kristus, sedangkan getah harum resin coklat kekeningan atau kemerahan (myrrh) mengingatkan kita akan pengorbanan dan penderitaan-Nya.

Dalam agama Buddha, saripati yang dikeluarkan dari pembakaran dupa dikatakan dapat memperkuat kebajikan kita; membersihkan semua pikiran negatif dan keterikatan sehingga perilaku kita sehari-hari dapat mendekati kemurnian seorang Buddha. Gabungan tiga batang dupa melambangkan Triratna: Buddha, Dhamma dan Sangha.

Membuat Persembahan Dupa

Jika anda baru memulai membakar dupa, atau ingin menghadirkan lebih banyak upacara dalam praktik anda di rumah, pertimbangkan untuk menerapkan beberapa saran berikut:

Memilih Dupa

Tentu saja, bahan tumbuhan yang berbeda memiliki sifat yang berbeda, dan cara penggunaannya juga dapat memberikan pengaruh. Dupa tidak terbatas pada jenis batang saja, meskipun itu adalah bentuk yang paling populer dan termudah untuk digunakan.

Anda juga dapat menemukan dupa dalam bentuk kerucut, gulungan, batang rapuh tanpa inti kayu, dan bahan mentah seperti damar dan serbuk kayu. Ketika anda mempelajari lebih lanjut tentang dupa, anda akan menemukan mana yang terbaik bagi anda.

Masing-masing dari kita memiliki bidang berbeda yang memerlukan upaya untuk pertumbuhan rohani. Dupa dapat memberi kita sedikit dorongan ke arah yang benar. Berikut adalah beberapa “rasa” dupa umum yang disukai untuk setiap fokus:

Gunakan Dupa dengan Aman

Meskipun ada banyak manfaat dari membakar dupa, hal ini juga menimbulkan beberapa bahaya bagi keselamatan. Barang apa pun yang terbakar harus dijaga dengan hati-hati, dan digunakan di lingkungan yang bebas dari barang berserakan untuk mencegah risiko kebakaran.

Selain itu, beberapa penelitian menemukan kesamaan antara asap dupa dan asap rokok bekas. Seperti banyak hal lainnya, dupa harus dikonsumsi secukupnya. Hindari menghirup asap secara langsung, jaga produk anda sealami mungkin, dan batasi penggunaannya hanya untuk keperluan seremonial. Membakar dupa sepanjang hari tidak hanya menimbulkan bahaya kesehatan pernapasan, tetapi juga dapat mengurangi nilai spiritualnya. (visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI