Pada Dinasti Qing, ada seorang pemuda bernama Qin Dacheng yang tinggal di Jiading, selatan Sungai Yangtze, menunjukkan rasa hormat dan bakti kepada ibunya dan selalu berpikiran baik terhadap orang lain. Ketika ibunya merasa tidak berkenan akibat kesalahannya, Dacheng selalu berlutut untuk meminta maaf padanya. Dengan penghasilan keluarga yang rendah, ia makan dengan sangat sederhana supaya ibunya dapat makan dengan layak. Sikap baktinya ini menjadi tauladan bagi banyak orang di sekitarnya. Kehidupannya semakin lama semakin meningkat.
Tidak lama setelah kematian istrinya, Dacheng ingin menikah lagi. Pada malam pernikahan mereka, pengantin wanita menangis sedih. Dacheng menanyakan alasannya dan menemukan bahwa ternyata pengantin wanitanya telah bertunangan dengan seorang pemuda yang mencintainya, tetapi karena keluarga tunangannya terlalu miskin, orang tuanya memaksanya untuk menikah dengan keluarga Qin.
Setelah memahami seluruh situasi, Dacheng segera menghubungi pria itu dan meminta mereka untuk menikah malam itu juga. Dia memberikan mas kawin yang dibelinya untuk pernikahan kepada pasangan ini. Dia juga mengambil inisiatif untuk pergi ke keluarga pengantin wanita, memberi tahu orang tuanya apa yang terjadi, dan meminta mereka untuk tidak menyalahkan pasangan baru ini. Orang tua kedua keluarga itu merasa senang dengan apa yang telah terjadi.
Pada tahun ke-28 Qianlong, Dacheng lulus ujian provinsi. Namun menurut Dai Diyuan sebagai penilai, kaligrafi Dacheng yang ia tulis di kertas ujian tidak begitu bagus dan mengatakan kepadanya: “Level kaligrafi Anda saat ini hanya bisa mendapatkan kelas tiga jika anda menghadiri ujian di kemudian hari. Jika anda lebih banyak berlatih, mungkin anda bisa mendapatkan kelas dua. ”
Setelah itu, Dacheng rajin berlatih kaligrafi dan membuat banyak kemajuan. Kemudian, ketika dia menghadiri ujian, kaligrafinya benar-benar baik.
Liu Tongxun yang bertanggung jawab atas ujian adalah pejabat yang saleh. Saat penilaian, Chu Tingzhang menduduki peringkat pertama, sedangkan Dacheng adalah nomor 11. Ketika 10 makalah ujian teratas disiapkan untuk dikirim ke kaisar untuk ditinjau dan disetujui, salah seorang penguji lain mengatakan kepada Liu Tongxun: “Masyarakat sudah tahu kok 10 kandidat teratas yang kamu pilih dan telah siap menyambut mereka.”
Saat mendengar berita itu, pemeriksa Liu merasa jengkel dan berkata, “Apakah mereka pikir saya telah menunjukkan pilih kasih untuk memilih nilai ujian?” Jadi pemeriksa Liu mengganti kertas ujian dari 10 besar dengan yang berperingkat 11 hingga 20 dan menyerahkannya ke kaisar untuk diperiksa. Dacheng di nomor 11 dengan demikian menjadi nomor 1 dan mengambil tempat pertama di ujian.
Pada akhirnya orang-orang yang mengetahui kisah ini berseru: “Surga telah memilih! Qin Dacheng yang berbakti dan bijaksana terpilih mendapat peringkat pertama dalam ujian sehingga menjadi pejabat negara, ini adalah perwujudan kebenaran Surga.”
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
