Budaya

Mengapa Harus Mempelajari Tata Krama

Tata krama (Karolina Grabowska @Pexels)
Tata krama (Karolina Grabowska @Pexels)

Awal Dinasti Zhou Barat, Boqin, putra Zhou Gong tidak memberikan hormat saat menemui sang ayah, bertemu tiga kali, dipukuli tiga kali oleh ayahnya.

Lalu Boqin meminta nasihat kepada Shang Zi. Saat menemui ayahnya lagi, ia langsung berlutut begitu masuk ke aula, Zhou Gong memuji Boqin telah mendapat didikan dari seorang cendekiawan.

Mengapa orang dahulu begitu mementingkan tata krama? Konfusius berkata: “Ritual tata susila dijalankan raja leluhur sesuai kehendak Langit, demi mengatur perasaan orang. Oleh karenanya, barang siapa yang kehilangan tata krama sama dengan kehilangan kehidupan, barang siapa yang memperolehnya dapat bertahan hidup.” “Sutra” mengatakan: Tikus sekalipun memiliki fisik, manusia tak boleh tanpa etika, sebagai manusia jika tidak menjaga tata susila dan etika, maka akan segera mati.

Barang siapa yang beretika maka akan selamat, yang tidak beretika maka dalam bahaya. Moralitas, kebajikan, kemanusiaan, keadilan, tanpa etika tidak ada pencapaian. Oleh karenanya, jika bertindak sesuai etika, korelasi antara raja-menteri, tua-muda, atasan-bawahan akan tertib, masyarakat akan damai, dan negara akan makmur; sebaliknya jika hukum negara dan ketertiban masyarakat diabaikan, maka korelasi antarmanusia akan kacau, berbagai kekacauan akan muncul di masyarakat.

Tata krama dalam hubungan antarmanusia disebut juga keadilan dalam hubungan manusia, yaitu, ayah baik menyayangi, anak berbakti, adik menurut serta hormat ke yang lebih tua, suami menjaga keadilan, istri patuh, yang tua menyayangi yang muda, yang muda menurut ke yang sepuh, sang raja adil dan baik, sang abdi setia.

Zhou Gong Mendidik Keponakan

Zhou Gong, putra keempat Jichang Zhouwen Wang, marga Ji nama Dan. Ia membantu adiknya Zhou Wu Wang berperang menaklukkan Zhou Wang, merumuskan tata krama dan ritual musik, ia dianggap pelopor ajaran Konfusius, dan dihormati dengan sebutan “Yang Dimuliakan”.

Aturan keluarga dari Zhou Gong untuk keponakannya tertuang dalam “Aturan Keluarga Ji Dan”, termasuk “Nasihat untuk putra Bo Qin” dan “Petuah bagi keponakan Cheng Wang”. Cao Cao memuji kebijakan Zhou Gong mengatur keluarga “Zhou Gong mengeluarkan makan, semua hati bermuara” (Zhou Gong langsung memuntahkan makanan sekalipun sedang makan agar ksatria tidak lama menunggu, Zhou Gong amat sangat menghargai para ksatria).

Suatu ketika, Zhou Cheng Wang berdiri di bawah pohon bersama adiknya. Ia mengambil selembar daun fortune paulownia diberikan ke adiknya dan berkata, “Aku menobatkanmu.” Terdengar oleh Zhou Gong, ia bertemu dan memuji Raja, “Paduka menobatkan adik laki-laki, itu sangat baik.” Cheng Wang berkata: “Saya hanya bergurau dengannya.” Zhou Gong berkata dengan serius: “Paduka raja tidak boleh salah dalam bertindak, tidak sepatutnya bergurau, yang terucap harus dijalani.” Artinya, kata-kata dan perbuatan raja tidak boleh salah, dan tidak boleh ada gurauan (lelucon), Anda harus melakukan apa yang telah Anda katakan. Maka, Cheng Wang menobatkan adik laki-lakinya sebagai Ying Hou (sebutan bangsawan). Ini asal usul kisah “Menobatkan adik dengan daun paulownia”.

Cheng Wang menobatkan Bo Qin sebagai Lu Gong (Sebutan bangsawan). Zhou Gong menuliskan “Kitab Ajaran bagi Bo Qin”, mengingatkan putranya menjaga tata krama: Jangan meremehkan bakat karena dinobatkan sebagai bangsawan Lu, saat saya mandi dan makan pun, saya harus merefleksi diri kehilangan orang-orang berbakat akibat kelalaian (saya), berbudi tinggi menghormati orang akan mendapatkan kemuliaan; orang yang memiliki kekayaan besar namun hemat, maka tidak akan menimbulkan bahaya; orang yang dijunjung namun sangat rendah hati, selalu dapat mempertahankan kekayaan dan kehormatan; yang memiliki banyak orang dan tentara yang kuat namun hati penuh rasa hormat, maka akan berpijak pada posisi tak terkalahkan; pintar, bijaksana namun tidak sombong, adalah orang yang punya filosofi dan wawasan jauh; Berwawasan luas ingatan kuat namun tidak pamer, barulah orang yang sungguh-sungguh pandai.

Bo Qin mengingat ajaran ayahnya, negara Lu dalam penanganan Bo Qin, menjadi bangsa yang menjunjung tinggi tata krama, rakyat hidup sederhana dan saling hormat.

Seorang Putra yang Dikenal Karena Berbakti kepada OrangTua

Selama akhir Dinasti Shang, Raja Tai dari Zhou memiliki tiga putra — putra tertua Taibo, putra kedua Zhongyong, dan putra ketiga Jili. Jili memiliki seorang putra bernama Jichang, yang kemudian menjadi Raja Wen dari Zhou.

Ketika Jichang lahir, seekor burung pipit merah berhenti di pintu depan dengan huruf merah di mulutnya. Melihat tanda keberuntungan ini, Raja Tai berencana untuk menyerahkan tahta kepada Jili, yang kemudian meneruskannya kepada Jichang. Ini tidak khas di zaman kuno, karena takhta biasanya diberikan kepada putra tertua.

Mengetahui rencana ayahnya, Taibo membawa saudaranya Zhongyong dan mengasingkan diri ke daerah terpencil untuk mendukung keputusan ayahnya. Dia juga memotong rambutnya dan membuat tato sebagai tanda keputusannya untuk menjauh dari peradaban. Dengan cara ini, Raja Tai menyerahkan takhta kepada Jili dan kemudian ke Jichang tanpa gangguan apapun.

Taibo segera menamai wilayah tempat dia mengasingkan diri negara bagian Wu, yang sekarang menjadi Provinsi Jiangsu. Sekitar 1.000 keluarga setempat mengangkatnya sebagai raja di wilayah tersebut.

Delapan generasi kemudian, takhta Wu diserahkan kepada Shoumeng, raja Wu ke-19. Shoumeng berencana untuk memberikan takhta kepada putra keempatnya Jizha karena reputasi baik Jizha. Tetapi Jizha menolak takhta karena itu akan menjadi pelanggaran terhadap aturan masyarakat yang selayaknya. Shoumeng meminta Jizha tiga kali, tetapi dia selalu menolak. Rakyat Wu juga ingin Jizha menjadi raja. Pada akhirnya, Jizha pergi dan menjadi petani.

Konfusius sangat memuji Taibo, memuji karakter dan kerendahan hatinya.

Kebaikan Seorang Kakak

Menurut Jia Fan (Pengajaran Keluarga) oleh Sima Guang, orang bijak kuno Shun selalu memperlakukan orang lain dengan baik bahkan ketika dia menghadapi permusuhan dari mereka.

Ayah, ibu tiri, dan adik laki-laki Shun, Xiang, sering menganiaya Shun. Setelah Raja Yao menunjuk Shun sebagai penggantinya, kecemburuan mereka meningkat dan mereka berencana untuk membunuh Shun dan mengambil hartanya.

Suatu kali, mereka meminta Shun untuk memperbaiki gudang. Namun, setelah dia naik ke atap, mereka memindahkan tangga dan membakar gudang. Untungnya, Shun bisa melarikan diri dengan selamat.

Di lain waktu, mereka meminta Shun untuk menggali sumur. Ketika dia berada di dalam sumur, keluarganya mulai menguburnya. Setelah sumur itu penuh dengan tanah, Xiang berencana untuk memberikan ternak dan biji-bijian Shun kepada orang tuanya, sambil menyimpan sisa harta Shun untuk dirinya sendiri. Dia juga ingin mengambil istri Shun.

Ajaibnya, Shun dapat melarikan diri melalui terowongan di samping sumur. Ketika dia kembali ke rumah, Xiang terkejut. Tetapi dia tetap memasang wajah datar dan berkata, “Aku sangat merindukanmu!”

Shun memaafkannya dan memintanya untuk membantu mengelola negara.

Warisan Shun dihormati sepanjang sejarah Tiongkok. Meskipun dia tinggal di lingkungan yang buruk, dia mampu memperlakukan semua orang dengan hormat dan kebaikan. Shang Shu (Kitab Dokumen) menyatakan, “Shun naik ke tempat yang sangat tinggi tanpa memanjat, dan [reputasinya] pergi jauh tanpa dia harus bepergian.”

Karena kebajikannya, orang-orang secara alami mencarinya. Ke mana pun Shun pergi, legenda mengatakan bahwa tempat itu akan menjadi desa dalam satu tahun, kabupaten dalam dua tahun, dan kota dalam tiga tahun.

Adik yang Rendah Hati

Di Dinasti Jin, ada sepasang saudara: Wang Xiang dan Wang Lan. Ibu Lan adalah ibu tiri Xiang. Akibatnya, dia lebih menyukai Lan daripada Xiang.

Ketika Lan berusia beberapa tahun, dia sering melihat ibunya Zhu mencambuk kakak tirinya Xiang dengan ranting pohon. Setiap kali itu terjadi, dia akan memeluk Xiang untuk melindunginya dari cambukan Zhu.

Saat kakak beradik itu tumbuh dewasa, Lan sering meminta ibunya untuk tidak memukuli Xiang, dan keadaan sedikit membaik. Kemudian, kedua saudara laki-laki itu menikah, dan Zhu selalu menuntut agar Xiang dan istrinya melakukan sesuatu untuknya. Dan Lan akan membantu pasangan itu kapan pun dia bisa.

Setelah ayah mereka meninggal, Xiang menjadi terkenal karena kebajikan dan karakternya yang baik. Zhu menjadi iri dan berencana untuk membunuh anak tirinya dengan anggur beracun.

Lan mengetahui rencana ini dan meraih cangkir anggur itu. Xiang juga menyadari ada yang tidak beres dan tidak ingin adiknya mati. Melihat kedua saudara berebut anggur beracun, sang ibu takut Lan akan meminumnya, jadi dia membuang anggur itu.

Kemudian, setiap kali Zhu menyajikan makanan Xiang, Lan selalu mencicipinya terlebih dahulu. Dengan demikian, sang ibu berhenti mencoba menyakiti Xiang.

Jenderal Lu Qin mengagumi karakter Xiang dan memberinya sebilah pedang, mengatakan bahwa hanya pejabat tinggi yang diizinkan menggunakan pedang seperti itu. Setelah kematiannya, Xiang mewariskan pedang itu kepada Lan, berharap dia dan keturunannya mendapatkan keberuntungan.

Benar saja, beberapa anak Lan menjadi pejabat tinggi. Cicitnya, Wang Xizhi, menjadi salah satu kaligrafer paling terkenal dalam sejarah Tiongkok. (id.minghui.org)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI