Budaya

Nasib Berbalik Seketika Saat Kebaikan Muncul

Penggambaran Dewa Keberuntungan dan para pengiringnya, berdiri di antara surga (Image: Zhang Lu (1464–1538) via Wikimedia Commons Public domain)
Penggambaran Dewa Keberuntungan dan para pengiringnya, berdiri di antara surga (Image: Zhang Lu (1464–1538) via Wikimedia Commons Public domain)

Kadang-kadang, seseorang dapat sembuh secara tiba-tiba dan tidak terduga dari penyakit serius, dan kita menganggapnya sebagai kejadian kebetulan; tetapi dalam budaya tradisional Tiongkok, tidak ada yang terjadi “secara kebetulan”, selalu ada alasan dibaliknya. Bagaimana nasib orang bisa berubah?

Di Tiongkok kuno, masyarakat percaya bahwa para dewa mengetahui setiap pikiran setiap orang dan akan memberkati mereka yang berpikiran baik dan menghukum mereka yang berpikiran jahat. Seringkali, satu pikiran dapat membawa perubahan yang ajaib, seperti yang dapat kita lihat dalam rekaman kejadian berikut:

Nasib Berubah Setelah Satu Pemikiran yang Baik

Pada akhir Dinasti Qing, seorang pria bernama Wei Yu (1860-1927) hebat dalam kaligrafi dan musik. Dia juga pandai seni bela diri. Sebagai salah satu dari sedikit kandidat yang lulus ujian provinsi dalam sistem ujian kekaisaran Tiongkok pada tahun 1885, ia menjabat sebagai Inspektur Jenderal dan salah satu dari delapan Raja Muda regional selama dua dinasti terakhir Imperial Tiongkok, dinasti Ming dan Qing.

Wei mulai belajar seni bela diri pada usia muda dan sebagai remaja ia terkenal karena pemberani dan baik hati. Ketika dia akan mengikuti ujian kekaisaran pada musim gugur tahun 1882, dia bertemu dengan seorang peramal bernama Guang Wen, yang sangat pandai membaca wajah seseorang untuk memprediksi masa depan orang tersebut. Guang memberi tahu Wei bahwa dia melihat kemungkinan kemalangan dan yakin bahwa Wei akan gagal dalam ujian.

Seperti yang diperkirakan, Wei gagal dalam ujian, dan setelah itu menjadi depresi dan mulai minum-minum. Seorang wanita tua bernama Nyonya Qi menggunjingkan perilaku buruknya sehingga semua orang menjadi tahu. Wei sangat marah dan ingin membalas dendam.

Suatu malam, dia pergi ke daerah rumah Nyonya Qi dengan niat membakar rumahnya. Ketika dia melihat bahwa wanita itu memiliki banyak tetangga miskin dengan rumah kayu, dia berubah pikiran. “Meskipun wanita itu keji”, desahnya, “aku tidak bisa membiarkan kemarahanku menghancurkan tetangganya”. Dia membatalkan rencananya.

Tiga tahun kemudian, pada tahun 1885, Wei mengikuti ujian kekaisaran lagi. Dan lagi-lagi dia bertemu dengan Guang Wen. Guang Wen sangat terkejut setelah mempelajari wajahnya. “Aneh sekali”, katanya. “Wajahmu berubah. Tidak hanya kemalangan anda telah dihilangkan, tetapi anda akan lulus ujian kekaisaran. Anda pasti telah melakukan sesuatu yang baik. Apa itu?”

Setelah mendengar bagaimana Wei membatalkan rencananya untuk membalas dendam pada wanita tua itu dengan mempertimbangkan keluarga miskin disebelahnya, Guang Wen berkata, “Pikiran itu menyelamatkan banyak nyawa, dan hidupmu telah berubah karenanya”.

Wei lulus ujian kekaisaran tahun itu, dan kemudian menjadi teman baik Cao Rulin, Wakil Menteri Luar Negeri Pemerintah Beiyang.

Pepatah Tiongkok kuno mengatakan bahwa “Keberuntungan ada pada orang yang membawa pikiran lurus, sama seperti kemalangan mengikuti orang dengan pikiran jahat”. Prinsip ini juga berlaku di zaman modern.

Penyakit Kronis Hilang Setelah Mengucapkan Perkataan yang Baik

Nenek Zhang, berusia 60-an, tinggal disebuah desa di kota Mengying, Provinsi Shandong. Dia telah menderita sakit punggung kronis selama bertahun-tahun. Selain itu, punggungnya dipenuhi benjolan kecil yang terasa gatal dan nyeri.

Tetangga Zhang, yang merupakan pasangan paruh baya, didenda sejumlah besar uang oleh pemerintah partai komunis China karena sang istri berlatih Falun Gong, sebuah kultivasi pikiran dan tubuh yang sangat efektif untuk meningkatkan kesehatan. Latihan ini juga meningkatkan karakter moral, dengan mengikuti prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Karena latihan ini menjadi sangat populer, dengan sekitar 100 juta orang belajar Falun Dafa di Tiongkok saja, Partai Komunis Tiongkok mulai menganiaya peserta latihan tersebut dan menyebarkan fitnahan untuk menimbulkan kebencian terhadap praktisi. Oleh karena itu, sang suami sering marah pada istrinya, dan secara verbal melecehkannya dengan sangat keras sehingga Zhang sebagai tetangga sebelah rumahnya bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Dia ingin membantu tetapi tidak tahu caranya.

Suatu hari ketika sang suami mulai memaki-maki istrinya lagi, Zhang tidak tahan lagi, dan mendatangi rumah mereka.

Dia berkata kepada suaminya dengan ramah, “Tolong tenang dan dengarkan aku. Tidak baik bagimu untuk berteriak-teriak kepada istrimu didepan anak-anakmu yang sudah mulai besar. Pikirkan betapa buruknya kesehatannya dulu, dia bahkan tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sederhana; tapi sekarang lihat dia. Setelah dia mulai berlatih Falun Dafa, dia mendapatkan kembali kesehatannya dan dapat melakukan semua pekerjaan rumah ditambah bekerja di ladang”.

Sang suami masih menggerutu, “Bagaimana saya tidak marah? Kerja keras setahun penuh tidak akan cukup untuk membayar dendanya”. Zhang melanjutkan, “Tapi itu bukan salah istrimu. Pihak berwenanglah yang memeras uang dari orang-orang yang tidak bersalah”.

“Pikirkan tentang itu. Sejak istri anda telah berlatih Falun Dafa, dia tidak pernah membalas ketika dia dihina atau membalas ketika dia diserang, kan? Dan dengan semua penyakitnya hilang, pernahkah anda memikirkan berapa banyak uang yang dia hemat untuk anda? Lihat saya. Saya telah menghabiskan banyak uang untuk perawatan selama bertahun-tahun, tetapi saya belum membaik sama sekali. Saya mungkin juga telah memboroskan uang hasil kerja keras saya setahun hanya untuk biaya pengobatan penyakit yang tak kunjung sembuh”.

Kata-kata tulus dari Zhang membuat sang suami tidak bisa berkata-kata, dan kemarahannya mereda, ia mulai menyadari apa yang dikatakan tetangganya itu benar. Saat Zhang berbicara, dia secara tidak sadar telah berdiri lebih tegak dari tahun-tahun sebelumnya. Setelah dia kembali ke rumah, dia menyadari bahwa semua benjolan yang gatal dan nyeri di punggungnya telah hilang.

Bercampur senang dan bingung, Zhang kemudian menemui sang istri untuk bertanya apakah dia bisa menjelaskan apa yang telah terjadi. Sang istri tersenyum dan berkata, “Saya bertanya-tanya mengapa suami saya tiba-tiba berubah sikap. Terima kasih banyak! Apa yang terjadi padamu bukanlah hal yang mengejutkan. Karena anda memiliki keberanian untuk membela seorang praktisi Falun Dafa terlepas dari penganiayaan, anda telah diberkati, kebaikan hati anda telah mengubah nasib anda.”(visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI