Budaya

Pelajaran dari Tokoh Shogun Jepang, Tokugawa Ieyasu

Sage Lord of Japan
Ilustrasi. Sage Lord of Japan

Shibusawa Eiichi (1840-1931) adalah bapak ekonomi kapitalis Jepang, seorang industrialis Jepang yang sangat dihormati. Menggunakan studinya atas kitab Analek Konfusius, sebagai panduan, Shibusawa membawa kapitalisme Barat ke Jepang, tetapi dengan penekanan utama pada moralitas dan etika bisnis.

Portrait_of_Shibusawa_Eiichi
Shibusawa Eiichi, sebelum tahun 1913. Dihormati sebagai bapak ekonomi modern Jepang, Shibusawa mempelajari dan menggunakan prinsip-prinsip Konfusianisme untuk mereformasi dan menumbuhkan ekonomi kapitalis Jepang setelah Periode Restorasi Meiji.

Pengabdian seumur hidup Shibusawa adalah untuk membimbing seluruh Jepang dalam menciptakan ekonomi modernnya – yang tetap sangat sukses hingga kini. Sementara ia menganggap pencapaiannya karena mempelajari dan menerapkan ajaran Konfusius, ia juga mendapatkan pencerahan dari seorang tokoh Shogun Jepang — Tokugawa Ieyasu (1543-1616 M).

Dalam bukunya The Analects and the Abacus, di bawah bab “Semangat Bushido dan Ketajaman Berbisnis”, Shibusawa menulis: “Memperlakukan diri dengan baik di masyarakat tidaklah mudah, tetapi seseorang dapat mencari bimbingan dengan mempelajari Analek Konfusius dan dengan hati-hati menghargai makna mendalamnya dengan seksama.

 “Sejak zaman kuno, Jepang memiliki banyak orang bijak dan tokoh-tokoh besar. Salah satu tokoh yang unggul dalam pertempuran dan dalam memperlakukan dirinya adalah Tokugawa Ieyasu. Justru karena dia unggul dalam memperlakukan dirinya sendiri barulah dia memperoleh dukungan dari banyak tokoh besar, yang membantunya dalam membangun Keshogunan Tokugawa yang berlangsung 15 generasi. Dia memberi rakyat lebih dari 200 tahun kedamaian dan kemakmuran, dan dia memang sosok yang hebat. ”

 ‘Teachings from The Sage Lord’ Tokugawa Berasal Dari Analek Konfusius

Tokugawa meninggalkan banyak ajaran. Di antaranya, buku Teachings From the Sage Lord memiliki dampak paling besar terhadap generasi Jepang berikutnya, termasuk Shibusawa.

Shibusawa berkata bahwa dia pernah membaca Teachings From the Sage Lord bersama dengan Analek Konfusius, dan menemukan bahwa sebagian besar isinya mencerminkan Analek Konfusius.

Salah satu contoh adalah kalimat berikut yang dikutip dari Teachings From the Sage Lord: “Keseluruhan hidup seseorang mirip dengan memikul beban berat saat menempuh jalan yang panjang,” tulis Shibusawa.

Kalimat ini mencerminkan kutipan dari Zengzi dalam Analek Konfusius:

“Pejabat mungkin tidak memiliki pikiran yang luas dan daya tahan yang kuat. Bebannya berat dan perjalanannya panjang. Kebajikan sempurna adalah beban yang ia anggap sebagai tanggung jawabnya – tidakkah ini berat?

Melalui ini, Shibusawa menyadari bahwa Tokugawa pasti telah mempelajari dan menerapkan Analek Konfusius dalam hidupnya, itulah sebabnya ia dapat memiliki prestasi luar biasa.

Shibusawa menyadari bahwa Tokugawa pasti telah mempelajari dan menerapkan Analek Konfusius dalam hidupnya, itulah sebabnya ia dapat memiliki prestasi luar biasa.

Shibusawa dengan cerdas mengikuti jejak Tokugawa yaitu menerapkan nilai-nilai Konfusius dalam pekerjaannya sebagai seorang ekonom, sehingga dengan sendirinya menjadi orang hebat.

Ketika Para Pemimpin Korup, Masyarakat Juga Merosot

Tulisan Shibusawa mengungkapkan kebenaran: ketika atasannya korup, orang-orang yang di bawahnya akan mengikuti jejak mereka. Dengan kata lain, jika masyarakat memiliki budaya yang tidak sehat, itu karena kompas moral kepemimpinan negara telah menyimpang.

Orang di puncak hierarki memikul tanggung jawab terberat, dan kondisi masyarakat mencerminkan kondisi pemimpin itu sendiri.

Orang Jepang percaya bahwa anak-anak mencerminkan perilaku dan moralitas orang tua mereka. Tidak peduli apakah Anda orang tua, menteri, atau bos sebuah perusahaan, Anda memiliki pengaruh besar terhadap mereka yang berada di bawah pengawasan Anda, apakah itu anak-anak Anda, rakyat, atau karyawan.

Selama beberapa dekade, pemerintah Tiongkok telah menghancurkan budaya tradisional Tiongkok, dari Revolusi Kebudayaan hingga produksi drama media propaganda modern yang membengkokkan dan menjelekkan tokoh-tokoh dalam sejarah Tiongkok. Orang Tiongkok kuno digambarkan licik, menikam punggung, dan bertarung menggunakan taktik curang.

Tetapi Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak dapat menghancurkan fakta bahwa, selama 5.000 tahun, Tiongkok pernah dikenal sebagai lahan kebaikan dan kebenaran. Budaya tradisional Tiongkok telah menyebar ke seluruh dunia dan mendapat penghargaan sejarah. Jika Tiongkok kuno benar-benar hancur, bagaimana mereka bisa membangun peradaban yang begitu agung, yang ditinggikan dan ditiru oleh Jepang?

Di Tiongkok hari ini, moralitas tidak lagi dihargai dan orang tidak lagi saling percaya. Ketika hati orang-orang menjadi begitu korup, bukankah itu merupakan cerminan dari manajemen puncak — alias PKT — yang penuh korupsi dan degradasi? Bukankah ini hasil yang menyedihkan atas penghancuran nilai-nilai tradisional yang dilakukan PKT?

Banyak orang Tiongkok mengagumi Jepang yang modern, tanpa menyadari bahwa Jepang dibangun di atas dasar kearifan tradisional Tiongkok. Jika Jepang tidak memeluk Konfusianisme, Buddha dan Taoisme, dan jika Tokugawa tidak memulai pendidikan berbasis Konfusianisme bagi kaum bangsawan, Keshogunan Tokugawa tidak akan menikmati era keemasan 260 tahun.

Meskipun Tokugawa adalah penguasa shogun-nya, ia menjalani kehidupan yang sederhana dan rendah hati, dengan kebajikannya berhasil memperoleh dukungan rakyat. Sebagai pemimpin yang murah hati dan disiplin, ia menginspirasi masyarakat untuk memiliki kepercayaan pada pemimpin mereka. Dia mengintegrasikan praktik Konfusianisme dalam masyarakat Jepang, menggabungkannya dengan Shinto dan Zen Buddhisme untuk membentuk bushido — kode kehormatan samurai yang sangat dihargai di Jepang.

Generasi Jepang selanjutnya, termasuk Shibusawa, semua diuntungkan oleh pengaruh Tokugawa. Ketika para pemimpin mengambil jalan yang benar, orang-orang akan meniru teladan mereka dan mengambil jalan yang benar juga.

Ketika para pemimpin mengambil jalan yang benar, orang-orang akan meniru teladan mereka dan mengambil jalan yang benar juga. (Liu Ru/epochtimes/eva)

Lebih banyak artikel Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor