Budaya

Pelajaran yang Dipetik dari Dua Pejabat Tinggi Dinasti Tang

Kaisar Taizong (Kredit: Wikimedia Commons)
Kaisar Taizong (Kredit: Wikimedia Commons)

Kaisar Taizong dari Dinasti Tang adalah salah seorang kaisar paling terkenal di sejarah Tiongkok.

Dia menyimpan lukisan 24 pejabat paling berbakat di Pavilion Lingyan sebagai penghargaan atas kontribusi mereka, baik dalam strategi politik maupun yang sukses di medan perang.

Artikel ini adalah tentang Li Jing dan Hou Junji, dua jenderal terkenal dalam daftarnya. Li adalah seorang jenderal handal dan ditunjuk untuk sejumlah posisi, termasuk sebagai kanselir. Kebajikan dan kebijakannya sangat dipuji oleh Kaisar Taizong.

Hou, pada sisi lainnya, juga membuat pencapaian besar di medan perang dan ditunjuk sebagai menteri militer. Tetapi karena dia berpartisipasi dalam pemberontakan dengan Pangeran Li Chengqian. Hou dipenggal sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya.

Keduanya membuat kontribusi hebat, tetapi mereka berakhir berbeda. Kenapa bisa begitu? Saat kita melihat sejarah mereka lebih detail, kita akan melihat bawa ini karena prinsip dan nilai moral mereka berbeda.

Li Jing: Sukses, Sederhana, dan Rendah Hati

Li pernah menjadi seorang pejabat di pengadilan Dinasti Sui, dia lalu bekerja untuk pengadilan Dinasti Tang juga. Sebagai jenderal besar, dia bisa memprediksikan hasil dari peperangan secara akurat dan berdasarkan kondisi spesifik dan status dari musuh, memenangkan perang dalam kondisi apa pun.

Pada awal Dinasti Tang, konstribusi militer Li hanya di bawah Kaisar Taizong. Maka dari itu, Kaisar Gaozu dari Dinasti Tang menganggapnya seorang jenderal yang lebih hebat dari jenderal terkenal mana pun pada masa lalu seperti Han Xin, Bai Qi, Wei Qing, dan Huo Qubing. Berdasarkan pengalamannya, Li juga menuliskan sejumlah buku militer dan dikenal sebagai “Dewa Militer.”

Di samping kontribusi-kontribusi ini, Li juga dihormati karena karakternya. Sepanjang hidupnya, dia setia pada kaisar dan peduli sama rakyat. Dia berusaha membawa kedamaian bagi negeri dan tidak mempedulikan kekayaan dan kekuasaan. Dibanding dengan banyak jenderal terkenal atau pejabat tinggi lainnya, Li sangatlah spesial karena dia selalu bersikap sederhana dan rendah hati.

Saat mendiskusikan urusan negara dengan kaisar dan pejabat lainnya, dia sangat sopan dan tidak berdebat dengan lainnya. Setelah menjadi seorang kanselir selama empat tahun, dia mengundurkan diri, menyatakan ada sakit di kakinya. Tergerak oleh suratnya yang tulus, Kaisar Taizong memujinya sebagai seorang model bagi para pejabat.

Meski Li tidak lagi menjadi seorang pejabat tinggi, Kaisar Taizong sangat menghargai kepribadian dan keahliannnya. Alhasil, dia terus melibatkan Li dalam keputusan penting dan memintanya untuk menjadi penasihat bagi jenderal-jenderal lain.

Li sangat spesial dalam itu, meski telah disalahkan, dia tidak debat atau berusaha menjelaskan –malahan, dia akan tetap setia. Di bawah adalah insiden dimana setelah dia membuat kontribusi besar, seseorang menjebaknya dan menuduhnya telah melakukan kesalahan. Dua kali, Li tidak membela diri dan akhirnya mendapatkan kepercayaan Taizong.

Pertama kali terjadi pada bulan Januari tahun ke-4 periode Zhenghuan (630 Masehi). Memimpin sebuah pasukan khusus terdiri dari 3.000 prajurit, Li meninggalkan Mayi (sekarang Provinsi Shanxi) di musim dingin yang menggigil dan mengalahkan Tujue Timur (Barbarian Timur) di Dingxing, meninggalkan kepalannya Illig Qahan melarikan diri ke Qikou.

Pada bulan berikutnya, Li memilih pasukan kuda yang terlatih sebanyak 10.000 prajurit dan mengalahkan Tujue Timur lagi di Yinxhan, membunuh lebih dari 10.000 musuh dan menangkap lebih dari 100.000 orang. Illig Qahan juga ditangkap dan Tujue Timur runtuh.

Sejak Dinasti Sui, Tujue telah menjadi sangat kuat di bagian utara dan sering mengganggu daratan utama dengan pasukan kudanya. Kesuksesan Li tidak hanya menstabilkan perbatasan, tetapi juga membersihkan sejumlah perjanjian memalukan yang Kaisar Gaozu dan Kaisar Taizong tanda-tangani bersama Tujue. Ini juga merupakan sebuah kemenangan besar dimana musuh yang jauh lebih besar dikalahkan dengan sebuah pasukan yang lumayan kecil, membuat Dinasti Tang sangat dikenal dan sangat dihormati oleh wilayah-wilayah lain, hingga Kaisar Taizong mendapatkan julukan Tian Khan (Khan Langit).

Juga setelah berita tersebar, seluruh negeri merayakannya. Kaisar Taizong sangat memuji Li atas kesuksesannya ini. Pada hari itu, Kaisar Taizong, ayahnya (Kaisar Gaozu), dan pejabat tinggi lainnya berkumpul di Pavilyun Lingyan untuk sebuah perayaan yang berlangsung selama satu malam penuh.

Saat Li pulang, dia diturunkan oleh Kanselir Kerajaan Xiao Yu karena tidak memerintah pasukan dengan baik. Xiao berkata saat para tentara menggeledah istana Illig Qahan, mereka merampok barang-barang bernilai dan membawanya pulang masing-masing. Maka dari itu, dia merekomendasikan agar memberikan hukuman pada Li karena itu.

Kaisar Taizong dengan keras menegur Li karena ini, tetapi Li tidak berargumen atau membela diri, hanya dengan sederhana bersujud meminta ampun. Setelah hasil investigasi keluar dan Li terbukti tidak bersalah, Kaisar Taizong menenangkannya, memberinya penghargaan dan mempromosikannya menjadi kanserlir.

Sebuah insiden lain terjadi pada tahun ke 9 Periode Zhenguan (635 Masehi), saat Tuyuhun menyerang Tiongkok daratan. Meski telah berusia tua dan sakit kaki, Li menawarkan diri dan setelah melewati sejumlah kesulitan, berhasil mengalahkan Tuyuhun, membuatnya Tuyuhun menjadi negara vasal Dinasti Tang.

Selama perang, Pejabat Gao Zengsheng tidak tiba tepat waktu dan menunda peperangan. Saat ditegur oleh Li, Gao tidak senang. Setelah perang selesai, dia bersekongkol dengan pejabat lain, Tang Fengyi, untuk menuduh Li melakukan konspirasi menentang Kerajaan. Sekali lagi, Li diinvestigasi setelah pulang dari perang yang sukses dan dia tidak membela diri. Setelah Kaisar Taizong menemukan faktanya, dia mengasingkan Gao ke daerah terpencil karena tuduhannya yang tidak benar.

Dengan insiden-indsiden ini, Kaisar Taizong makin percaya sama kesetiaan Li dan karakter bagusnya. Saat Li sakit, Kaisar Taizong sering mengunjunginya, meski karena diri sendiri sakit, dia sangat cemas akan kondisi Li.

Saat Li meninggal dunia pada usia 79 pada tahun ke 23 dari periode Zhenguan (649 Masehi), Kaisar Taizong sangat berduka dan memerintah agar Li dikuburkan di Makam Zhao (kuburan yang dipilih bagi Kaisar Taizong) sebagai penghargaan.

Li juga sangat dipuji dan dihormati oleh generasi-generasi berikut. Selama Kaisar Xuanzong dari Tang Dinasti, dia dianggap sebagai salah satu dari 10 jenderal terbaik sepanjang sejarah Tiongkok.

Hou Junji: Bangga Diri, Sinis dan Tamak

Hou Junji juga seorang pejabat penting yang membantu Kaisar Taizong pada tahun-tahun awal. Dia berkontribusi dengan banyak ide di pengadilan kerajaan dan sangat berbakat di medan perang. Karena kemampuannya ini, dia diberikan jabatan tinggi, seperti menteri militer. Seiring waktu berjalan, dia menjadi semakin serakah akan kekuasaan dan uang.

Pada tahun ke 14 Periode Zhenguan (640 Masehi), Hou memenangkan negara Gaochang. Tanpa izin, dia mengasingkan sejumlah pejabat tidak bersalah. Sebagai tambahan, dia mengambil harta dari Gaochang untuk dirinya sendiri.

Mengikuti contoh-contoh ini, jenderal-jenderal lain dan para prajurit juga mengambil barang-barang bernilai bagi diri mereka sendiri. Untuk menghindari perbuatan diri sendiri diketahui orang, Hou tidak menghukum orang-orang ini. Setelah pasukan pulang kembali, seseorang melaporkan ini dan setelah verifikasi, Kaisar Taizong memenjarakan Hou berdasarkan hukum.

Meski Kaisar Taizong membebaskan Hou setelah itu, Hou tidak bersyukur. Malahan, dia menganggap dirinya seorang yang hebat dan berpikir insiden harta itu tidak penting. Bukan mengakui kesalahan diri sendiri, dia menjadi dendam dan mengeluh. Lalu, dia berpikir mengenai pemberontakan dan berdiskusi dengan jenderal lain, Zhang Liang.

Mendengar ini dari Zhang, Kaisar Taizong tidak mengambil tindakan apa pun dan berkata pada Zhang, “Kalian berdua adalah jenderal yang hebat dan dia hanya berbicara dengan kamu. Jika kita mempertanyakannya dan dia tidak mengakuinya, kita tidak bisa apa-apa.”

Maka dari itu, meski telah mendengar kata-kata tidak baik dari Hou, Kaisar Taizong tetap memperlakukannya dengan sama. Pada tahun ke 17 dari Periode Zhenguan, dia menginstruksikan artis terkenal Yan Liben untuk menggambar lukisan 24 pejabat paling hebat untuk dipajang di Pavilyun Lingyang. Di antara jenderal-jenderal ini. Hou berada di urutan 17.

Bukan mengambil kesempatan ini untuk mengoreksi diri. Hou melangkah makin jauh dan makin jauh. Saat dendam dan kebenciannya bertambah, dia berencana memberontak.

Pada waktu itu, Kaisar Taizong akan mencopot gelar Putra Mahkota dari Li Chengqian karena kesalahannya. Hou mengambil kesempatan ini dan berkolusi dengan pangeran untuk memberontak. Pada tahun ke 17 Periode Zhenguan (643 Masehi), rencana pemberontakan ini terekspos dan gelar putra mahkota Li dicopot. Hou dimasukkan ke dalam penjara, tetapi Kaisar Taizong berencana membebaskannya karena kontribusi besarnya.

Akan tetapi, para pejabat di pengadilan kerajaan tidak setuju. Mereka menganggap konspirasi terhadap kerajaan adalah kejahatan terburuk dan mereka merekomendasikan bagi kaisar untuk memenggalnya. Sebagai tambahan, kearogansi dan kesembronoan dari Hou juga membuatnya memiliki banyak musuh. Kaisar Taizong tidak punya pilihan selain membunuh Hou.

Tetapi Kaisar setuju permintaan Hou untuk membiarkan istri dan anaknya tetap hidup, dan mengasingkan mereka ke Lingnan di Tiongkok selatan.

Sebelum hukuman mati Hou, Kaisar Taizong berkata padanya dengan berlinang air mata, “Karena kamu, saya tidak akan pergi ke Pavilyun Linyang lagi.” Setelah itu, Hou akhirnya memahami rasa peduli dan pengampunan dari Kaisar Taizong, tetapi semua sudah terlambat.

Saat Hou masih muda, dia tidak berbakat dan namun masih mengaku dirinya sangat berbakat. Setelah bergabung dengan Kaisar Taizong, dia perlahan membangun karier dan dipromosikan karena sukses di medan perang.

Setelah itu, dia mulai meningkatkan bakatnya di daerah lain dan mempelajari pengetahuan militer dari Li Jing. Karena nilai moralnya yang rendah, cemooh dan ketamakannya, dia akhirnya mengambil arah yang tidak ada jalan kembali.

Lebih dari 1.000 tahun telah berlalu sejak era Li dan Hou, tetapi orang-orang masih bisa belajar banyak dari kisah mereka bahkan hingga hari ini. (minghui)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI