Budaya

Pendidikan Keluarga Tekankan Moralitas dan Pembangunan Karakter Anak-Anak Mereka

Ibu menasehati putranya (Kredit: via secretchina.com / Zhiqing / Look at China)
Ibu menasehati putranya (Kredit: via secretchina.com / Zhiqing / Look at China)

PUISI TIONGKOK KUNO: PENDIDIKAN KELUARGA TEKANKAN MORALITAS DAN PEMBANGUNAN KARAKTER ANAK-ANAK MEREKA

Tiongkok memiliki peradaban dengan sejarah yang membentang lebih dari 5.000 tahun yang lalu, dan selalu terkenal dengan penekanannya pada “pendidikan keluarga” dan membangun karakter moral anak-anak.

Pengalaman dan tradisi pendidikan keluarga yang berharga ini telah diturunkan ke generasi-generasi berikutnya. Ketika Kou Zhun (961-1023), seorang pejabat Dinasti Song Utara, masih muda, dia manja, acuh tak acuh, dan malas. Jadi bagaimana ibunya mengatasi dan mendidiknya sehingga akhirnya dia menjadi perdana menteri yang bijaksana dan banyak dipuji pada generasinya?

Ibu Kou Mengajari Putranya “Pengembangan Diri untuk Masyarakat”

Kou Zhun kehilangan ayahnya ketika dia masih kecil. Dia berasal dari keluarga miskin. Ibunya mengandalkan hasil tenun untuk nafkah keluarga. Dia sering mengawasi Kou Zhun dalam studinya bahkan sampai tengah malam sambil dia memintal benang.

Kou Zhun pergi ke ibu kota untuk mengikuti ujian kekaisaran. Dia lulus ujian dengan gemilang dan dianugerahi “Jinshi” yang merupakan gelar tertinggi dan terakhir dalam ujian kekaisaran. Kabar baik segera menyebar ke kampung halamannya.

Ibu Kou saat itu sedang sakit parah. Sebelum dia meninggal, dia menyerahkan sebuah lukisan kepada seorang kerabat bernama Bibi Liu Ma. Ibu Kou memberi tahu Liu Ma: “Kou Zhun akan menjadi pejabat di masa depan. Jika dia melakukan kesalahan, serahkan lukisan ini padanya!”

Tak lama setelah ibunya mangkat, Kou Zhun diangkat menjadi perdana menteri. Pelan tapi pasti, Kou Zhun terlena dalam kehidupan mewahnya sebagai pejabat tinggi kekaisaran. Untuk merayakan ulang tahunnya, ia mengundang dua rombongan teater dan menyiapkan jamuan untuk para pejabat. Bibi Liu Ma berpikir bahwa waktunya telah tiba, jadi dia menyerahkan lukisan Ibu Kou kepadanya.

 Kou Zhun membuka gulungan itu dan melihat bahwa itu adalah lukisan tenun sang Ibu dengan sebuah syair tertulis diatasnya;

“Dengan bantuan lentera kecil, sulit untuk belajar.
Dia mengolah dirinya sendiri demi rakyat.
Rajin dan hemat adalah tradisi keluarga.
Dengan didikan ibu,
Menjadi sukses dan makmur pada masanya.
Dia tidak pernah lupa bahwa dia pernah begitu miskin”.

Ini adalah warisan Ibu Kou untuk anaknya. Kou Zhun membaca puisi itu berulang kali didepan Bibi Liu Ma dan menangis. Dia segera membatalkan perjamuan untuk ulang tahunnya dan mengembalikan semua hadiah dan gratifikasi yang dia terima.

Sejak Kou Zhun menjadi pejabat dan setiap kali dia menerima gajinya, dia hanya mengambil secukupnya dan selebihnya diletakkan di aula istana untuk disumbangkan bagi masyarakat yang tak mampu.

Seorang pelayan tua melihat ini dan sangat tersentuh sehingga dia berkata kepada Kou Zhun: “Ketika ibumu meninggal, ia sangat miskin sehingga dia bahkan tidak memiliki sehelai sutra untuk gaun pemakamannya. Sangat menyedihkan bahwa ibumu tidak akan pernah bisa melihat dirimu yang sekarang”. Ketika Kou Zhun mendengar ini, dia sangat sedih. Dia mengingat hal ini, dan menjalani kehidupan yang hemat dan sederhana.

Kou Zhun memiliki selimut kain biru yang tidak pernah diganti selama 20 tahun. Selama waktu itu, beberapa orang menertawakannya dengan mengatakan bahwa dia seperti Gongsun Hong dari Dinasti Han dimasa Kaisar Wu.

Gongsun adalah seorang filsuf dan politisi Tiongkok, dan dikatakan telah mengajarkan kebajikan berhemat dan kesederhanaan. Sebagai seorang bangsawan dengan banyak pendapatan, Gongsun tampaknya selalu menggunakan satu selimut kain, yang dianggap untuk menunjukkan kesederhanaannya.

Mendengar ini, Kou Zhun tersenyum tipis dan memberi tahu orang-orang: “Gongsun melakukan ini untuk reputasinya sendiri. Adapun saya, saya dengan tulus ingin berhemat karena selimut ini masih bagus, jadi apa yang membuat malu?”

Meskipun Kou Zhun kaya, dia menolak membangun rumah besar untuk dirinya sendiri. Seorang pertapa, Wei Ye, secara khusus memberinya dua puisi untuk hal ini dimana ada kalimat: “Ada pejabat tinggi tetapi tidak ada tanah untuk membangun rumah besar”. Ini untuk memuji Kou Zhun.

Pendidikan keluarga pada zaman dahulu berfokus pada etika dan moralitas dan ini dianggap sebagai nilai tertinggi. Ada pepatah lama:

“Rumah yang baik memiliki kemakmuran dan kebahagiaan, rumah yang buruk memiliki bencana”.

Kata “Rumah” disini bukan dimaksudkan pada penampilan rumah fisik, tetapi isi rumah dimana orangtua dan anak-anaknya senantiasa memperbaiki watak dan moralitasnya ke arah yang lebih baik.

 “Lebih baik mengajar tulisan suci kepada anak-anak dan cucu-cucu daripada meninggalkan keranjang emas untuk mereka”.

Pendidikan moral bagi anak-anak adalah untuk kebaikan mereka di masa depan. Kenyataannya, akhlak adalah hal yang paling mendasar, hakiki, indah dan sumber berkah bagi seorang manusia, sehingga harta yang paling berharga untuk diturunkan kepada anak adalah akhlak.

Pendidikan keluarga dicirikan oleh peraturan dan perbuatan. Karena fleksibilitas yang besar dari anak-anak, pendidikan untuk meningkatkan perilaku mereka sangat penting. Mereka secara bertahap akan bersentuhan dengan kebenaran, sesuatu yang tidak dapat mereka sadari pada saat kecil. Oleh karena itu, hanya dengan bimbingan yang benar segala sesuatu dalam hidup akan berjalan dengan baik.

Orangtua selalu ingin mewariskan yang terbaik untuk anak-anaknya. Faktanya, tidak peduli berapa banyak uang yang diberikan kepada mereka, harta hanya eksternal dan bisa dengan cepat habis apabila anak tidak dididik dengan baik.

Hanya dengan mengajarkan kebajikan dan kebaikan kepada anak-anak melalui pendidikan keluarga, mereka benar-benar dapat memperoleh manfaat dalam jangka panjang. Melalui nilai-nilai moral dan kebajikan, mereka dapat menjaga pikiran yang jernih setiap saat, membedakan antara yang benar dan yang salah, dan memilih jalan hidup yang benar.(nspirement.com)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI