Site icon NTD Indonesia

Penguasa Yang Bijaksana Takut Tiga Hal, Apa Itu?

Raja Goujian (©visiontimes)

Han Ying menulis kisah inspirasi di bawah ke dalam The Outer Commentary to Book of Songs. Kisah ini layak dibaca dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang penguasa yang bijaksana takut akan tiga hal:

  1. Takut tidak mengetahui kesalahannya karena kedudukannya yang tinggi.
  2. Takut kesombongan dan kepuasan diri ketika dia berhasil.
  3. Takut tidak mengikuti nasihat bijak.

Raja Goujian dari Kerajaan Yue mengalahkan Negara Wu dan menaklukkan sembilan kelompok etnis, sehingga menjadi kerajaan yang berkuasa di Cina selatan. Walaupun demikian Raja Goujian tidaklah sombong; Dia memanggil rapat pejabat kerajaan dan mengatakan kepada mereka, bahwa “Raja Fuchai dari Negara Wu membawa negaranya ke dalam malapetaka karena dia terlalu sombong dan tidak mau mawas diri atau mengoreksi dirinya sendiri. Kita harus belajar dari hal ini. Sekarang saya akan membuat sebuah undang-undang baru yaitu jika ada yang menemukan bahwa saya memiliki cacat atau kekurangan dalam memimpin, tetapi tidak memberitahukan kepada saya mengenai hal ini, maka ini merupakan pelanggaran berat. Dia akan menerima hukuman mati. “

Ini adalah contoh penguasa yang takut tidak mengetahui kekurangannya.

Setelah Duke Wen dari Negara Jin (bernama Ji Chong’er) mengalahkan Negara Chu, pasukan Jin akhirnya bebas dari peperangan. Mereka mulai membakar kamp pasukan Chu. Kebakaran itu berlangsung selama tiga hari tiga malam dan membuat banyak kerugian materi. Suatu ketika setelah Duke Wen keluar dari sebuah rapat, dia tampak muram dan khawatir. Para pelayannya bertanya, “Kami telah mengalahkan pasukan Chu, mengapa Yang Mulia terlihat khawatir?” Duke Wen menjelaskan, “Seorang pria harus dapat menahan diri dari kesombongan dan tidak bermoral setelah sukses demi menjaga perdamaian jangka panjang. Sekarang pasukan kita sudah menjadi sombong, puas diri, dan tidak bermoral, hal ini berpotensi membahayakan negara kita.”

Ini adalah contoh dari seorang penguasa yang takut menjadi sombong dan puas diri ketika dia memperoleh kemenangan.

Dengan Guang Zhong dan Xi Peng sebagai menteri yang bijak, Raja Huan dari Negara Qi dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta meningkatkan nilai-nilai moralnya. Raja Huan sangat berterima kasih atas nasehat-nasehat mereka. Pada suatu hari yang baik yang sudah ditentukan, Raja Huan memberi hormat kepada leluhurnya dengan membakar dupa. Dia berlutut dan berkata: “Adalah berkah leluhur sehingga saya memiliki dua menteri yang berbudi luhur untuk membantu saya dalam pemerintahan. Mereka membuat saya membuka telinga dan melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Saya dengan rendah hati memohon kepada para leluhur untuk melanjutkan berkat-berkat ini sehingga saya dapat tetap memerintah dengan bijak, tetap rendah hati dalam menerima saran mereka, dan tidak pernah menutup telinga atau bersikeras melakukan hal-hal dengan cara saya.”

Ini adalah contoh yang baik dari seorang penguasa yang takut tidak mengikuti nasihat bijak.

Orang-orang Tiongkok kuno selalu menasehati agar bersikap rendah hati, hati-hati, dan waspada. Sima Guang dari Dinasti Song pernah menulis, “Yang Mulia harus waspada atas kesalahan.”

Sebenarnya, setiap orang harus memperhatikan tiga hal yang harus ditakuti. Siapa pun yang ingin meningkatkan atau berhasil harus mengetahui kekurangannya dan segera memperbaikinya. Setiap orang harus rendah hati dan berhati-hati dan tidak boleh bertindak sembarangan setiap saat. Setiap orang harus mengikuti nasihat yang bajik ketika diberikan. Nasihat yang bijaksana tidak boleh dilupakan. Setiap orang harus takut pada tiga hal. (clearharmony/ron/lia)