Budaya

Pepatah Tiongkok: ‘Mengirim Bulu Angsa Sejauh Seribu Mil’

Angsa (Milan Ivanovic @ Unsplash)
Angsa (Milan Ivanovic @ Unsplash)

Sekilas, ungkapan kuno “mengirim bulu angsa sejauh seribu mil” tampak aneh dan tidak dapat dipahami. Jadi apa asal usul ungkapan itu dan bagaimana kita memahaminya untuk zaman kita?

Sejak zaman kuno, Tiongkok telah dikenal sebagai bangsa yang berbudi pekerti dan sangat mementingkan kesopanan dan sopan santun. Oleh karena itu, selama festival dan perayaan, orang akan selalu bertukar hadiah sebagai sarana untuk mengikat satu sama lain dan menunjukkan penghargaan satu sama lain.

Hal terpenting dalam memberikan hadiah adalah membuat si penerima merasakan ketulusan si pemberi. Pepatah ”Mengirim Bulu Angsa Sejauh Seribu Mil” terinspirasi dari sebuah kisah nyata berikut ini:

Menurut legenda rakyat di Yunnan, Kerajaan Dali mengirim utusan bernama Maeng Bo Gao pergi ke Dinasti Tang untuk memberikan hadiah angsa yang besar dan cantik kepada Kaisar.

Karena melalui perjalanan yang jauh, si Angsa tambah lama tambah kotor terkena debu, utusan itu merasa tak enak hati melihatnya, apalagi si Angsa mau dipersembahkan sebagai hadiah untuk Kaisar.

Ketika melewati Danau Shin Yang, Maeng Bo Gao mengeluarkan angsa dari kandangnya dan mencoba memandikan angsa itu. Tak disangka, si Angsa dengan sigap melarikan diri dan terbang, dan hanya menyisakan sehelai bulu.

Maeng Bo Gao tidak punya pilihan selain menyerahkan bulu angsa itu kepada Kaisar Tang. Untuk meminta pengampunan dari Kaisar, dia menulis puisi untuk mendampingi bulu tersebut.

Puisi itu berbunyi:

“Angsa dikirim kepada Dinasti Tang, melewati gunung tinggi dan jalan yang jauh
Di danau Xin Yang, angsa itu terbang menghilang dan sang utusan jatuh ke tanah menangis. Sekarang melapor kepada Kaisar Tang agar beliau mau memaafkan Maeng Bo Gao; Rasa hormatnya tulus, hadiahnya kecil, namun merupakan harapan terbaik dari si pemberi. Dengan ini mengirim bulu angsa seribu mil jauhnya”.

Setelah membaca puisi itu, kaisar Tang terkesan dengan sikap rendah hati itu dan memaafkan Maeng Bo Gao. Ini adalah asal usul ungkapan “mengirim bulu angsa sejauh seribu mil”.

Makna dari Pepatah “Mengirim Bulu Angsa Sejauh Seribu Mil”

Di masa Dinasti Song, ada sebuah puisi Ouyang Xiu yang berjudul “Mei Shengyu Mengirim Ginkgo”. Puisi ini juga menuliskan pepatah “Mengirim bulu Angsa sejauh Seribu Mil”. Ini adalah bunyinya:

 “Mengirim bulu angsa sejauh seribu mil, dan yang menerimanya adalah orang yang sangat penting. Meskipun ada seratus kaki bebek, mereka dapat dihargai dengan tulus”.

Ouyang Xiu adalah seorang sastrawan hebat pada saat itu, dan Mei Shengyu adalah seorang penyair terkenal yang tinggal di Xuancheng, dan keduanya adalah teman baik yang selalu berhubungan satu sama lain.

Dalam puisi ini, kata “kaki bebek” mengacu pada buah ginkgo, yang juga dikenal sebagai daun palem bebek karena kemiripannya dengan telapak bebek. Ketika Xuancheng berhasil panen pohon buah ginkgo, Mei Shengyu memetik buah itu dan mengirimkannya kepada temannya Ouyang Xiu.

Setelah menerima ginkgo, Ouyang Xiu menulis puisi itu dan mengirimkannya kepada temannya sebagai ucapan terima kasih, di mana ia menggunakan ungkapan “hadiah bulu angsa dengan seribu mil”. Ini menyiratkan betapa berharganya ginkgo dan penghargaan yang mendalam dari Mei Shengyu kepada temannya.

Oleh karena itu, ungkapan “mengirim bulu angsa sejauh seribu mil” mengacu pada pemberian hadiah kecil dari tempat yang jauh, juga berarti hadiah tersebut tidak seberapa nilainya, atau kurang penting dibandingkan dengan rasa persahabatan dan harapan baik yang disampaikan. Frasa ini juga digunakan saat ini sebagai cara rendah hati untuk memberi seseorang hadiah.

Ketika diberi hadiah oleh seseorang, itu berarti anda dihargai lebih dari yang bisa diucapkan kata-kata dan hadiah itu diberikan dengan tulus dari hati.(nspirement.com)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI