Jika seseorang memupuk kebijaksanaan dan karakter yang baik, “uang” akan mengalir ke bisnisnya seperti air mancur. Filosofi berbisnis juga terlihat pada bentuk Koin tembaga Tiongkok kuno, yang berbentuk lingkaran dengan lubang persegi di tengahnya.
Pada zaman dahulu, bentuk bulat melambangkan keabadian surga, dan lubang persegi di tengah melambangkan kestabilan bumi, berkaitan dengan karakter dan integritas individu pelaku bisnis. Berikut adalah 4 rahasia bisnis yang berakar pada budaya tradisional Tiongkok kuno, yang telah tercatat dalam sejarah:
1. Menjalankan Bisnis dengan itikad baik dan menjaga martabat
Dahulu kala seorang pengusaha bernama Qiao Zhiyong tinggal di Tiongkok utara, pada masa Dinasti Qing. Dia mendapatkan sponsor untuk memulai bisnis teh di selatan selama periode Kerajaan Taiping dan dia berusaha untuk memulihkan rute penjualan teh yang terputus. Qiao mengatur orang-orang di selatan untuk mengangkut teh ke utara, untuk dijual kepada toko-toko teh.
Suatu hari, pemilik toko teh berkata kepada karyawannya, “Timbang paketnya untuk memastikan kita tidak ditipu”. Mereka menimbang paket dan berkata dengan gembira, “Bos, setiap paket memiliki berat satu kati (600 gram) dua tael (50 gram)”. Qiao telah memberikan dua tael ekstra per kati. Pemilik toko teh sangat senang, ia kini percaya bahwa Qiao adalah pebisnis yang beritikad baik dan tidak akan merugikan pelanggannya.
Pada suatu tahun, terjadi kelaparan karena gagal panen meluas ke seluruh negeri, menyebabkan harga pangan melambung tinggi. Beberapa orang tidak mampu membeli makanan, jadi mereka harus mengemis atau menerima bantuan. Mengemis makanan tidak masalah bagi orang miskin, tetapi mereka yang berpendidikan atau berstatus sosial merasa tidak bermartabat melakukannya. Qiao dengan bijaksana memberikan bantuan dalam bentuk pembangunan gedung. Siapapun yang membantu pembangunan gedung (memindahkan bata dan menyusunnya) akan mendapatkan makanan. Dengan cara begitu, tidak akan terhitung sebagai mengemis. Qiao menunjukkan kebaikan dalam membantu orang menjaga martabat mereka.
2. Aturan Emas dalam Bisnis: Berikan Sedikit Bonus bagi Pelanggan
Orang Tionghoa kuno menggunakan timbangan enam belas tael. Enam tael pertama melambangkan enam bintang Biduk selatan, diikuti oleh tujuh bintang Biduk Utara. Biduk Selatan dan Utara masing-masing melambangkan hidup dan mati, menyiratkan bahwa menimbang berat adalah masalah hidup dan mati. Tiga tael terakhir mewakili para Dewa yang mengawasi pedagang. Dalam menimbang barang, jika pedagang menahan satu tael, maka para dewa akan mengurangi berkah mereka. Untuk dua tael yang ditahan, ketiga dewa akan mengurangi kekayaan mereka, dan jika pedagang mengurangi timbangan seseorang tiga tael, maka dewa akan mempersingkat hidupnya. Dengan demikian, menjadi praktik bagi pedagang di Tiongkok kuno untuk memberi pelanggan mereka sesuatu yang ekstra saat menimbang.
Ada ungkapan Tiongkok kuno “無奸不商 (wú jiān bù shāng),”yang berarti “Pengusaha yang sukses selalu memberi bonus.”
Zhao Gongming memulai bisnisnya dengan menjual padi-padian. Pada masa itu, timbangan yang digunakan berbentuk kerucut. Perata digunakan untuk meratakan permukaan. Kalau sudah rata, berarti wadah itu sudah penuh. Tidak lebih, tidak kurang.
Ketika perata tidak tersedia, orang menggunakan telapak tangan mereka untuk meratakan permukaan. Mereka yang licik akan menekan dengan telapak tangan mereka kebawah untuk mengurangi jumlah padi-padian. Pemilik toko yang ramah dan murah hati akan melengkungkan telapak tangan ke atas, sehingga wadahnya lebih penuh. Zhao Gongming selalu menggunakan cara yang kedua. Menurut kearifan tradisional, pemilik toko yang memberi ekstra adalah pedagang yang baik.
Jika seorang pedagang mendapatkan reputasi yang baik, bisnisnya secara alami akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Layaknya pedagang padi-padian, pedagang kain juga punya motto bisnis. Mereka akan mengatakan “足尺放三 (Zú chǐ fàng sān),” yang berarti “berikan tiga inci ekstra untuk setiap meter”. Prinsip yang sama juga diterapkan pada minyak dan cuka. Pedagang akan menambahkan sedikit lagi setelah volume yang diinginkan telah tercapai.
Memberi pelanggan sedikit tambahan adalah aturan emas untuk berbisnis di Tiongkok kuno. Masyarakat percaya itu adalah rahasia sukses.
3. Uang yang Dilepaskan Selalu Kembali
Fan Li adalah seorang ahli strategi untuk raja Yue selama periode Negara-negara Berperang (771-476 SM). Bukunya yang berjudul “Paduan Usaha” adalah buku klasik bisnis kuno. Masyarakat kemudian menghormatinya sebagai Guru Besar Bisnis dan bahkan sebagai Master Manajemen Bisnis. Di Kerajaan Qi, Fan memulai bisnis dari nol hingga sangat sukses. Raja Qi mengangkatnya sebagai menteri karena keberhasilannya.
Fan menghabiskan lebih dari dua puluh tahun membantu raja Yue untuk memulihkan anggaran negara yang tadinya tekor, dan mengeluarkan uang pribadi untuk membantu rakyat yang kesulitan ekonomi untuk membeli makanan. Setelah anggaran negara sudah stabil, Fan mundur dari posisinya yang terhormat dan pergi dengan tangan kosong.
Reputasi kebajikan dan kredibilitas Fan Li tersebar di seluruh Tiongkok. Dia memulai bisnis dari nol lagi. Suatu ketika, Fan Li mengalami kesulitan arus kas dan meminjam 100.000 uang tunai dari keluarga kaya. Setahun kemudian, orang kaya itu datang untuk menagih hutang dengan membawa Surat Hutang. Dia secara tidak sengaja menjatuhkan dompetnya ke sungai, sehingga kehilangan Surat Hutang dan uang untuk perjalanannya. Fan Li membayar kembali hutang berikut bunganya, dan juga memberinya uang tambahan untuk perjalanan kembali orang kaya itu ke rumah.
Fan Li kembali mengumpulkan kekayaan yang telah dia sumbangkan bagi negara, bahkan lebih sukses daripada sebelumnya.
Li Bai, penyair paling terkenal dalam sejarah Tiongkok dimasa Dinasti Tang, menulis puisi: “Seseorang dilahirkan untuk suatu tujuan; Uang yang diberikan selalu kembali”. Puisi ini merujuk pada Fan Li. Di matanya, pangkat dan kekayaan yang tinggi adalah hal yang tidak penting, dan bisa dilepaskan.
Tokoh terkenal lain adalah Sang-ok, yang hidup pada abad ke-19 dan dikenang sebagai taipan Korea pertama, tidak meninggalkan warisan bagi anak-anaknya dan menyumbangkan semua kekayaannya untuk negara. Walaupun demikian, karena anak-anaknya dididik dengan baik, mereka sukses berbisnis mandiri tanpa warisan orangtua. Banyak juga dari filantropis Barat adalah dermawan, dan membantu yang membutuhkan dengan uang yang mereka peroleh.
4. Bersikap Murah Hati dan Melakukan Apa yang Benar
Wu Pengxiang adalah seorang pedagang sembako pada masa Dinasti Qing. Suatu tahun, Wu menandatangani kontrak untuk pembelian 800 Dou (setara dengan sekitar 8.000 kg) lada pada seorang pemasok yang ternyata licik.
Segera setelah menerima barang, karyawan bagian gudang Wu menemukan bahwa lada itu beracun. Wu sendiri tidak menyadarinya karena waktu pertama kali ia melihat sampel yang ditawarkan, ia tahu barangnya bagus. Wu lalu melapor kepada pemasok tersebut, yang menyuruhnya mengembalikan lada itu dan ia akan mengembalikan uang Wu.
Akhirnya alih-alih mengembalikan barang dan menerima kembali uangnya, Wu malah membakar lada beracun dan mengalami kerugian besar. Ketika ditanya mengapa, dia mengatakan bahwa jika pemasok mengambil kembali lada tersebut, dia mungkin akan menjualnya lagi, yang berpotensi meracuni banyak orang.
Suatu ketika, terjadi kekeringan yang parah di Tiongkok dan harga beras melambung tinggi. Wu mengirim puluhan ribu dan (satu dan sekitar 100 kilogram) beras dari selatan. Untuk membantu penduduk setempat bertahan dalam masa-masa sulit, Wu tidak menaikkan harga melainkan menjualnya dengan harga rendah.
Wu seperti bangsawan yang pernah dijelaskan oleh Konfusius, “Seorang bangsawan tidak menyimpang dari kebajikan walau apapun yang terjadi. Bahkan di saat yang paling mendesak, dia harus bertindak sesuai dengan kebajikan, dan hal yang sama berlaku saat dia dalam kekacauan”. (visiontimes/bud/ch)
Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.
VIDEO REKOMENDASI
