Budaya

Rendah Hati

Rendah hati @Canva Pro
Rendah hati @Canva Pro

Saya pernah membaca sebuah cerita di masa lalu: Pada dinasti Song, ada dua orang cendikiawan bernama Su Wang dan Shen Yuanyung, Pada suatu ketika mereka menjadi duta dan diutus ke luar kota. 

Ketika mereka menginap di kuil Zhong di gunung Yan, mereka melihat melihat sebuah monumen peninggalan dari Dinasti Tang, monumen diukir dengan puisi yang indah, sekitar tiga ribu kata.

Shen Yuanyung biasanya mempunyai memori yang cerdas, sehingga segera menghafal kata-kata tersebut, sedangkan Su Wang yang berjalan disampingnya sambil mendengarnya menghafal,  tampaknya tidak peduli.

Ketika Shen Yuanyung kembali ke kotanya, dia ingin memamerkan kehebatannya kepada kaisar, dia mengambil pena, dengan segera menulis kata-kata tersebut, namun sayangnya ada beberapa kata yang tidak bisa diingat lalu dikosongkan, kata yang dikosongkan totalnya 14 kata. Berhari-hari lembaran kertas itu tergeletak di mejanya sampai suatu saat Su Wang datang berkunjung ke rumahnya dan melihat kertas tersebut.

Su Wang mengambil pena, mengisi semua kata-kata yang kosong, bahkan mengoreksi 4 sampai 5 penempatan kata yang salah ditulis oleh Shen Yuanyung. Setelah mengkoreksi meletakkan kembali penanya, dan melanjutkan berbicara tentang hal-hal lain dengan orang lain, sama sekali tidak memperlihatkan kebanggaan sedikit pun. Shen Yuanyung merasa sangat terkejut dan terkesan!

Cerita ini membuat saya bertanya pada diri sendiri: Jika saya Su Wang, apakah saya bisa seperti dirinya tidak memamerkan diri sendiri, dan tidak memamerkan bakat diri sendiri?

Selain itu, saya pernah membaca sebuah artikel di web, pada Dinasti Qing, ada seorang sastrawan bernama Xu Rong orangnya sangat toleran dan sederhana, meskipun tulisannya sangat terkenal, dia tidak pernah memamerkan dirinya sendiri.

Pada suatu hari ketika ada ujian, teman mencuri tulisannya, dan menjadi juara pertama. Orang ini dengan sombong datang ke hadapan Xu Rong menyombongkan diri sendiri. Banyak teman Xu Rong tidak tahan melihat sifat orang tersebut, ingin menegurnya, tetapi Xu  Rong mencoba untuk menghentikan mereka, mengatakan: ” Nasibnya memang mendapat juara pertama, sudah digariskan oleh langit.”

Kemudian, orang tersebut karena tulisan ini diangkat menjadi hakim, sedangkan Xu Rong sendiri hanya menjadi kepala daerah, Tetapi Xu Rong tidak peduli. Akhirnya, karena kecerdasannya Xu Rong naik pangkat menjadi menteri, dan diutus oleh kaisar ke Shandong menjalankan tugas. 

Orang  yang mencuri tulisannya yang menjabat menjadi hakim di Shandong, mungkin berpikir perbuatan sebelumnya merasa tidak ada muka untuk bertemu dengan perdana menteri Xu Rong, sehingga menulis surat pengunduran diri.

Dan Xu Rong tidak peduli hal yang lalu, lalu mencari orang tersebut, sama sekali tidak menyebutkan masa lalunya, memperlakukannya seperti teman baik dan mengajaknya makan.

Kemurahan hati Xu Rong membuat orang menghargainya ! Walapun temannya mencuri tulisannya, dia dapat dengan murah hati dan toleransi menghadapinya.

Ketika seseorang memiliki saran atau ide yang baik, jangan bersikeras mempertahankan ide sendiri, beranggapan hanya ide diri sendiri yang paling baik, tetapi harus melihat, berpikir tentang saran orang lain, dapat melepaskan hati ini. Selain itu, di mana ada kekurangan, kita dapat dengan diam-diam untuk melengkapi, untuk membuat rencana tersebut lebih sempurna.

Berpikir sampai di sini, akhirnya saya dapat menenangkan diri dan dapat menerima dan memahami perkataan rekan kerja saya: “Tidak harus membuktikan kemampuan diri sendiri, asalkan berdasarkan hati yang murni, dan hanya dengan hati yang baik ingin melakukan pekerjaan dengan baik, secara alami rencana melakukan pekerjaan tersebut akan berjalan dengan lancar.” (minghui school)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI