Budaya

Sejarah tentang Pembakaran Dupa di Tiongkok

Dupa (Kredit: Teetasse @Pixabay)
Dupa (Kredit: Teetasse @Pixabay)

Di Tiongkok, dupa memiliki makna keagamaan khusus. Baik itu di kuil Buddha atau saat upacara pemujaan leluhur, dupa selalu dinyalakan. Beberapa metode persiapan dupa juga memiliki kesamaan dengan persiapan obat-obatan yang dikembangkan dalam pengobatan tradisional Tiongkok.

Sejarah dupa Tiongkok

Di masa Dinasti Han (206 SM hingga 220 M), Tiongkok mengimpor berbagai bahan dupa asing. Mulai dari Dinasti Tang (618 – 907M), dupa sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas. Bahkan, kaisar biasa memberikan dupa dan aromatik kepada raja lain, pelayan setia, dan selir sebagai hadiah

Para bangsawan akan membawa kantong harum saat bepergian. Beberapa bahkan mengonsumsi aromatik, percaya bahwa ini akan membuat tubuh mereka berbau harum. Perabotan terbuat dari kayu yang harum dan dindingnya akan dilapisi dengan aromatik.

Sebelum Dinasti Tang, bahan utama dupa Tiongkok adalah bunga Lan, bunga Hui, Kayu Manis Cassia, dan Lada Sichuan. Di era Dinasti Tang, Aloeswood, Camphor, Cendana, dan Musk masuk dalam pembuatan dupa.

Bunga (ChiemSeherin from Pixabay)

Para bangsawan akan membawa kantong harum saat bepergian dan beberapa bahkan mengonsumsi aromatik karena percaya bahwa ini akan membuat tubuh mereka berbau harum.

Di era Dinasti Song (960 – 1279M), penelitian, penggunaan, dan perdagangan dupa mencapai puncaknya. Menurut Kino Objects, “Penggunaan dupa dalam kehidupan sehari-hari menyebar dari kelas atas ke populasi kelas menengah.

Sebuah proliferasi buku-buku yang berhubungan dengan aromatik memicu popularitasnya dan memandu penggunaannya. Penggunaan dupa dalam memuja Dewa dan leluhur tetap menjadi pusat di masyarakat Tang dan Song. Pada saat itu, agama Buddha dan penggunaan dupa di kuil juga telah menyebar.”

Orang Tionghoa percaya bahwa asap yang keluar dari dupa yang menyala di kuil Buddha bertindak sebagai penghubung antara Buddha dan pemujanya.

Mereka juga mengartikan membakar dupa sebagai seruan untuk berkorban. Sama seperti dupa membakar dirinya sendiri sambil menyenangkan orang lain, orang percaya mengorbankan diri mereka sendiri untuk orang yang mereka cintai, kekayaan, dan alasan lainnya.

Jenis-jenis dupa
Dupa sebagian besar terbuat dari satu komponen. Zat aromatik mentah yang terbakar dan mengeluarkan asap dan bau saat dinyalakan.

Ada beberapa jenis dupa yang diproduksi di Tiongkok. Salah satu jenis yang paling umum digunakan adalah dupa batang. Jenis ini sebagian besar sangat populer di era Dinasti Ming (1368 – 1644M). Dupa batang terdiri dari dua variasi. Yang satu dengan pusat dan satu lagi tanpa pusat.

Dupa batang adalah jenis yang paling umum, tetapi Anda juga dapat menemukan dupa berbentuk spiral.

Dupa berbentuk spiral (Callum King @Pixabay)

“Jenis dupa dengan pusat terlihat lebih banyak digunakan di India, meskipun juga digunakan di beberapa bagian Tiongkok. Dupa Nag Champa yang tersebar luas hampir selalu dibuat dengan pusat bambu.

Beberapa orang tidak menyukai bau batang bambu yang terbakar, jadi dupa yang berkualitas tinggi mungkin memiliki bagian tengah batang cendana. Jenis tanpa pusat adalah yang lebih umum digunakan di Tiongkok, dan hampir secara merata digunakan di Jepang dan Tibet. Cara pembuatannya hanya dengan menggulung pasta dupa menjadi bentuk batang, dan membiarkannya kering,” menurut Kino Objects.

Dupa gulung berbentuk spiral. Beberapa kuil di Hong Kong memiliki jenis gulungan dupa yang terbuka dan menjadi spiral kerucut. Anda juga akan menemukan dupa padat berbentuk kerucut yang digunakan di Tiongkok.

Jenis ini awalnya dibuat oleh Jepang dan telah diadopsi secara luas oleh orang Tibet. Dupa kerucut terbalik memiliki lubang di bagian bawah. Hal ini memungkinkan asap dupa mengalir ke bawah, tidak seperti semua jenis dupa lainnya di mana asap dikeluarkan ke atas. (eva/nspirement)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI