Catatan Sejarah Agung, juga dikenal dalam Bahasa Tiongkok dengan nama Shiji (arti harfiahnya “Catatan Sejarah”), ditulis dari tahun 109 SM sampai 91 SM, merupakan karya terbesar Sima Qian, dimana dia menceritakan kembali sejarah Tiongkok dari zaman Kaisar Kuning hingga zamannya sendiri.
Peninggalan buku sejarah ini mempunyai pengaruh yang mendalam, didasari oleh rasa cinta terhadap negaranya dan tekad memenuhi tujuan hidupnya untuk membuat catatan sejarah yang akurat. Sima Qian mengalami penghinaan dan penyiksaan dalam penulisan buku sejarah Shiji. Buku ini sama pentingnya dengan Ensiklopedi Britannica.
Sima Qian (135 SM – 86 SM), alias Zichang, lahir dan besar di Longmen, dekat Hancheng sekarang Provinsi Shaanxi. Dia adalah seorang sejarawan besar, sastrawan dan filsuf. Hasil karyanya, Catatan Sejarah Agung, adalah buku sejarah pertama di Tiongkok, yang tidak hanya di tulis secara jujur dalam perspektif historisnya tetapi juga memiliki nilai sastra yang luar biasa.
Ayah Sima Qian, Sima Tan, ditunjuk sebagai Kepala Penulis Kitab-kitab Agung ketika Sima Qian berumur 7 tahun. Sima Tan yang berpengetahuan luas dan berpandangan jauh kedepan memberikan pengaruh besar kepada putranya. Anak muda itu ditanamkan rasa cinta yang kuat terhadap negara Tiongkok dan memiliki keinginan untuk meneruskan upaya leluhurnya sebagai sejarawan, sebuah tradisi kembali ke masa lalu pada jaman Dinasti Zhou.
Pada usia 35 tahun, Sima Qian dipanggil pulang ke ibu kota oleh ayahnya yang sakit. Mengetahui dirinya sedang kritis, Sima Tan memegang tangan putranya dengan berlinang air mata dan sungguh-sungguh memintanya untuk melanjutkan penyelesaian catatan sejarah yang telah dia mulai. Putranya berjanji akan menyelesaikannya.
Tiga tahun setelah kematian ayahnya, Sima Qian menggantikan posisinya sebagai sejarawan agung kekaisaran. Dia mulai menyusun Shiji.
Pada tahun 99 SM, Sima Qian terlibat dalam masalah Li Ling. Setelah Li Ling dikalahkan dan ditawan, Sima Qian adalah satu-satunya orang yang membelanya sehingga membuat Kaisar Wudi dari Dinasti Han menjadi marah. Dan menyebabkan Sima Qian akhirnya dikebiri sebagai hukuman, selain itu juga dijebloskan ke penjara. Penghinaan besar yang terlalu berat untuk ditanggung. Hanya karena janji kepada almarhum ayahnya yang membuatnya bertahan tidak mengakhiri hidupnya.
Sima Qian dibebaskan dari penjara dua tahun kemudian. Melalui maklumat, kaisar Wudi menunjuk Sima sebagai penanggung jawab pekerjaan dokumentasi diperpustakaannya.
Suatu hari, ketika Sima sedang menulis Shiji di rumah, Sima Li, putranya berlari masuk dengan memegang secarik kertas. Diatas kertas itu tertulis ejekan:
“Seekor ikan bisa menjadi naga jika dia bisa melompati gerbang istana naga, tetapi kita harus melihat apakah dia itu jantan atau betina. Jika bukan dua-duanya maka tidak akan pernah bisa berubah menjadi naga walaupun telah masuk ke istana.”
Tulisan itu ditulis oleh musuh Sima. Teman-teman Sima semua menentang keputusannya menerima maklumat kaisar setelah mendengar insiden tersebut.
“Kamu adalah orang yang berbudi luhur dan penuh talenta. Mengapa kamu kembali lagi ke tempat yang gelap untuk menanggung penderitaan seperti itu?”
Sima Qian hanya menjawab: “Bagaimana saya bisa tahu rahasianya jika saya tidak bekerja di istana? Bagaimana saya tahu jika Kaisar dan pejabatnya itu baik atau buruk jika saya tidak bergaul dengan mereka? Bagaimana saya akan melanjutkan menulis buku sejarah ini jika saya tidak mengikuti maklumat Kaisar?”
Sima menerima maklumat tersebut dan bekerja di istana, Dia tahu bahwa dengan gaya tulisannya yang hanya mengatakan kebenaran akan membuat Kaisar marah dan menghancurkan pekerjaannya tanpa berpikir dua kali. Maka dia menyiapkan tiga set. Versi tulisan tangannya, seperti yang telah dia duga, dibakar oleh Kaisar setelah dibaca.
Salinan yang kedua ditulis dengan tangan oleh putrinya, Sima Ying. Salinan ketiga dibuat ulang oleh cucunya, Yang Yun, yang mempelajari dan menghafal setiap bagian satu per satu.
Salinan-salinan ini yang telah diwariskan. Tulisan bersejarah ini mencatat pemikiran filosofis, ilmu astronomi, sistim pengairan, budaya, kalender, ritus, musik, olahraga serta upacara keagamaan dan persembahan pada masa Dinasti Han. Warisan buku sejarah agung Tiongkok ini tidak hanya menjaga kelestarian sejarah Tiongkok, tetapi juga merubah gaya dan bentuk pencatatan sejarah Tiongkok masa berikutnya.
Ini adalah catatan sejarah paling komprehensif dimana Sima mencatat peristiwa bersejarah yang terentang selama lebih dari 3000 tahun. Semuanya ada 130 bab dari catatan informasi yang telah diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori:
1. Dua belas bab Biografi Kaisar-kaisar. Ditulis dalam bentuk urutan tahun yang teliti sehingga memberikan gambaran yang luas mengenai peristiwa paling penting, terutama dari zaman Dinasti Zhou sampai kepada kaisar dari Dinasti Han.
2. Sepuluh bab tabel kronologis peristiwa. Memberikan gambaran yang luas tentang pemerintahan penguasa berturut-turut dari negara-negara feodal dari zaman Dinasti Zhou sampai masa Dinasti Han awal; peristiwa terpenting dari masa pemerintahan mereka diceritakan.
3. Delapan bab traktat, masing-masing menjelaskan ekonomi dan topik lain pada masa itu.
4. Tiga puluh bab silsilah. Merupakan deskripsi dalam bentuk rentetan kejadian dari peristiwa kenegaraan, serta orang-orang terkemuka, sebagian besar dari masa Musim Semi dan Gugur serta Periode Berperang.
5. Tujuh puluh bab biografi orang-orang penting. Biografi terbatas pada deskripsi dari peristiwa yang menunjukkan karakter orang yang menjadi teladan, tetapi di Shiji, sering dilengkapi dengan legenda. Biografi terakhir menggambarkan hubungan antara Tiongkok dengan negara tetangga.
6. Kata penutup. Bagian penting terakhir menonjolkan kata penutup yang menyertakan autobiografi dari sang sejarawan Sima Qian. Dia menjelaskan mengapa dan dalam kondisi bagaimana, dia menulis Shiji. (epochtimes/th)

