Jepang dikenal sebagai negeri matahari terbit. Meski dikenal sebagai masyarakat pengguna teknologi canggih, tradisi kuno tidak dilupakan dan dipraktikkan secara luas.
Menghormati dan menghargai diri sendiri merupakan ciri khas budaya di negara Asia ini. Sebuah bukti tentang hal ini adalah “membungkuk”.
Membungkuk dalam bahasa Jepang disebut ojigi. Ini adalah salah satu cara utama orang Jepang menunjukkan rasa hormat satu sama lain, umumnya digunakan untuk mengucapkan halo atau selamat tinggal, terima kasih, maaf, atau ketika meminta bantuan.
Ada lima cara berbeda untuk membungkuk, dan jenis membungkuk yang digunakan tergantung pada situasi, usia pada siapa anda membungkuk dan kelompok masyarakat seperti tempat kerja.
Seperti banyak negara Asia lainnya, Jepang adalah masyarakat hirarkis. Ini adalah faktor penting dalam memahami bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain, begitu pula balasan yang didapat. Semakin rendah membungkuk, semakin tinggi rasa hormat, terima kasih atau kesedihan yang disampaikan.
Yang pertama adalah anggukan kepala yang lembut untuk menyapa teman-teman, orang-orang yang lebih muda atau bawahan di kantor.
Berikutnya adalah eshaku, cara membungkuk yang digunakan untuk menyapa orang yang tidak dikenal dengan baik. Sudut membungkuk ini sekitar 15 derajat.
Jenis ketiga disebut keirei, yang merupakan cara membungkuk resmi yang digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tua atau pimpinan anda.
Tipe keempat adalah membungkuk 45 derajat yang disebut saikeirei, digunakan untuk menyampaikan rasa hormat yang dalam.
Terakhir, adalah membungkuk sambil berlutut yang disebut dogeza yang harus digunakan ketika menyapa seseorang yang berpangkat sangat tinggi, dan juga digunakan ketika seseorang telah melakukan kesalahan besar dan harus meminta maaf. Terkadang dogeza juga dilakukan ketika meminta bantuan penting dari seseorang.
Di masa feodal, gagal membungkuk atau bahkan cara membungkuk yang tidak pantas kepada seorang samurai atau penguasa dapat menyebabkan seseorang dijatuhi hukuman mati di tempat. Tentu saja hukuman seperti itu tidak ada lagi, tetapi harapan untuk membungkuk dengan benar masih tetap ada. Di setiap kelompok masyarakat Jepang ojigi adalah bagian penting dari kebiasaan Jepang. Misalnya ketika menyeberang jalan, pejalan kaki (termasuk anak-anak) menundukkan kepala pada pengemudi yang sedang menunggu mereka menyeberang sebagai tanda terima kasih. Etika ini menunjukkan betapa baiknya orang Jepang memadukan nilai-nilai budaya kuno akan rasa hormat dan menghargai ke masyarakat modern – mengembangkannya menjadi seni yang bagus. (Simone Jonker/bud/eva/theepochtimes)

