Budaya

Sutera, Hadiah dari Surga

Kaisar Kuning dan Permaisuri Leizu
Kaisar Kuning dan Permaisuri Leizu. (shenyuncollections)

Begitu halus dan indah, namun benar-benar alami dan berguna, bahkan pada saat ini sutra tampaknya bukan merupakan bahan dari dunia kasar kita, tetapi merupakan hadiah dari Surga. Hal itu rupanya yang dilihat oleh orang-orang Eropa yang mengimpor kain tersebut melalui jalur sutra dari negeri jauh di Tiongkok selama sekitar seribu tahun. Bagi mereka, Tiongkok adalah tempat yang lebih mirip negeri dongeng yang melahirkan budaya luar biasa dan ajaib, termasuk sutra.

Sutra dibuat oleh ulat sutera saat membuat kepompongnya. Orang Tiongkok kuno memandang siklus hidup ulat sutera sebagai simbol siklus kehidupan manusia. Ulat sutera melewati empat tahap dalam hidupnya: telur, larva, kepompong, dan ngengat dewasa. Tahapan-tahapan ini mewakili asal usul kehidupan, kelahiran dunia, kematian tubuh fisik, dan kembalinya jiwa yang terbang. Dalam kebudayaan Tiongkok kuno, orang percaya bahwa manusia dapat menjadi abadi dengan mengultivasi dirinya melalui praktik spiritual seperti Budhisme dan Taoisme. Proses mencapai keabadian ini kadang-kadang disebut yuhua; secara harfiah berarti keluar dari wadah kepompong dan menjadi ngengat sutera.

Sejak awal peradaban Tiongkok, orang-orang percaya bahwa produk sutra memiliki kekuatan untuk berhubungan dengan dewa. Salah satu cerita menarik tentang asal usul ulat sutera melibatkan Kaisar Kuning yang legendaris, atau Huang Di dalam bahasa Tionghoa, sekitar 5.000 tahun yang lalu. Secara umum diyakini sebagai pencetus peradaban Tiongkok dan merupakan dewa, Kaisar Kuning membawa perdamaian ke negeri itu dengan mengalahkan raja raksasa Chiyou. Pada upacara untuk merayakan kemenangannya dalam perang, seorang peri turun dari Surga, dan berubah menjadi ulat yang menenun sutra kuning dan putih untuk Kaisar Kuning. Istri Kaisar, Leizu, menggunakan sutra tersebut untuk membuat satu set pakaian surgawi khusus untuk dikenakan Kaisar Kuning.

Sepanjang sejarah Tiongkok, sutra terus mempunyai makna spiritual yang besar. Orang lanjut usia mengharapkan akan mengenakan pakaian sutra sebelum meninggal, sehingga jiwa mereka dapat diterima kembali ke alam semesta, atau apa yang mereka sebut “Langit dan Bumi.” Bersama barang perunggu dan batu giok, sutra juga merupakan komponen penting dalam ritual tersebut.

Pentingnya sutra juga bersifat politis. Ada pepatah kuno di Tiongkok tentang diplomasi: “Mengganti senjata dengan batu giok dan sutra.” Artinya mengubah situasi yang tidak bersahabat menjadi situasi damai. Dihargai pada masa Tiongkok kuno, sutra begitu berharga sehingga pada masa Dinasti Han sutra bahkan digunakan sebagai mata uang dan nilainya melebihi emas. Pada tahun 25 SM, kaisar Han menghadiahkan 20.000 gulungan kain sutra kepada negara-negara bawahannya.

Ulat sutera hanya memakan daun pohon murbei, sehingga pohon murbei juga mempunyai banyak makna. Lukisan kuno memperlihatkan wanita dengan keranjang mengumpulkan daun dari pohon murbei. Hutan murbei dianggap suci, sehingga orang Tiongkok kuno biasa mengadakan upacara di sana untuk mendoakan leluhur mereka atau meminta hujan. Kitab Ritus klasik menyatakan: “Pada zaman kuno, Putra Langit dan para penguasa semuanya memamerkan kebun murbei dan penangkaran ulat sutera.

Sutra, ulat sutera, dan pohon murbei terus menjadi bagian integral dari peradaban Tiongkok, membawa makna keindahan surgawi dan pencerahan spiritual. Shen Yun Collections meneruskan tradisi ini dengan produk sutra alami yang menghargai warisan luar biasa ini dan membawanya ke masa depan. (shenyuncollections)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI