Site icon NTD Indonesia

Takdir Alam akan Egoisme, Keras Kepala dan Tak Bertanggung Jawab

Pedang Goujian

Pedang Goujian. @visiontimes

Pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur, Raja Yue yang bernama Gou Jian memiliki pelayan yang rajin bernama Fan Li. Sayangnya, selama pertempuran di Guijishan, Gou Jian dikalahkan dan ditangkap oleh Fu Chai, Raja Wu yang bernama Fu Chai.

Gou Jian dan pelayannya Fan Li ditawan di istal batu yang kumuh dan diperintahkan untuk memelihara kuda-kuda kerajaan. Gou Jian pura-pura setia kepada Fu Chai namun diam-diam merencanakan balas dendamnya.

Beberapa tahun kemudian, Gou Jian dibebaskan dan kembali ke negerinya sendiri. Untuk mengingatkan dirinya agar tidak melupakan penghinaan atas dirinya, Gou Jian menghidupkan kembali pengalamannya dengan tidur di atas kayu bakar dan makan kantong empedu sebelum tidur setiap malam untuk menjaga kebenciannya tetap membara.

Dua puluh tahun kemudian, Gou Jian menggulingkan negara Wu dan menjadi penguasa. Mantan pelayannya Fan Li diangkat sebagai jenderal senior. Fan Li menyadari bahwa Gou Jian hanya bisa dipercaya di saat-saat sulit dan tidak bisa berbagi kesuksesannya dengan orang lain.

Fan Li memutuskan untuk tidak melayani Gou Jian. Dia membawa anggota keluarga ke daerah Qi. Dia mengubah namanya menjadi Chiyizipi. Ia dan putra-putranya bercocok tanam dan berbisnis, usahanya menjadi sangat sukses sehingga mereka mendapatkan banyak uang.

Raja Qi mengetahui talenta Fan Li dan mengirim utusan untuk mengundangnya menjadi perdana menteri. Fan Li berkata: “Saya mengatur keluarga saya hingga menghasilkan begitu banyak kekayaan dan saya pernah menjadi perdana menteri, jadi saya pikir saya sudah di puncak tertinggi dalam hidup saya. Jika saya menginginkan untuk menjadi perdana menteri kembali, tindakan terhormat semacam itu mungkin akan membawa nasib buruk pada saya. ” Jadi dia menolaknya. Setelah membagikan barang-barang miliknya ke kerabat dan teman-temannya, diam-diam dia meninggalkan Qi dan menetap di Tao.

Fan Li dan anak-anaknya membangun bisnis kembali dan sukses. Sayangnya putra keduanya melakukan kesalahan besar, terlibat perselisihan sehingga tidak sengaja membunuh orang waktu sedang melakukan perjalanan dan saat ini dipenjara di Chu.

Awalnya, Fan Li ingin mengutus putra bungsunya dengan memberinya 2.000 tael emas (satu tael sekitar 1,2 troy ons) untuk menangani masalah putra keduanya. Namun, putra tertua meminta Fan Li untuk menukar dirinya dengan putra bungsu.

Sang putra berkata, “Saya putra tertua di keluarga. Jika saya tidak dikirim oleh ayah untuk menyelamatkan adik, semua orang akan berpikir bahwa saya tidak kompeten. Kalau begitu, saya lebih baik mati. ” Fan Li tidak punya pilihan selain setuju dengannya.

Fan Li menulis surat kepada sahabatnya di Chu, Tuan Zhuang, untuk meminta bantuan, dan memberi tahu putra sulungnya: “Ketika kamu tiba di sana, berikan Tuan Zhuang 2.000 tael emas dan biarkan dia mengatur semuanya sendiri. Ingat, jangan pernah mengganggunya.”

Setelah putra tertua pergi ke Chu, diam-diam dia mencuri beberapa emas untuk dipakai sendiri. Begitu dia tiba di Chu, dia melakukan apa yang diminta ayahnya dan memberikan suratnya pada Zhuang serta emas yang tersisa.

Zhuang memberi tahu putra tertua untuk segera pergi dan tidak pernah bertanya apakah saudaranya dibebaskan. Namun putra tertua tetap tinggal dan diam-diam menyuap para pejabat. Zhuang, yang jujur ​​dan bijak memiliki reputasi yang substansial di Chu dan dihormati oleh semua orang. Tuan Zhang tidak ingin menerima pemberian emas dari Fan Li. Dia hanya ingin mengembalikannya ke Fan Li setelah masalah ini selesai dan meminta istrinya untuk menjaganya tetap aman.

Zhuang pergi ke istana kerajaan dan memohon amnesti untuk putra kedua kepada Raja Chu.
Raja Chu berjanji kepada  Zhuang bahwa hal itu akan ditindaklanjuti. Pejabat Chu menerima berita tersebut dan memberi tahu putra tertua.

Putra tertua mengira bahwa saudaranya akan dibebaskan karena amnesti dan karenanya tidak membutuhkan bantuan Zhuang lagi. Dia pergi ke rumah Zhuang, berpura-pura mengucapkan selamat tinggal tetapi berniat untuk mendapatkan emas itu kembali. Setelah putra tertua pergi, Zhuang sangat marah karena dia bisa melihat bahwa si putra sulung tidak jujur. Jadi dia pergi untuk memberitahu raja Chu bahwa Fan Li telah menghabiskan banyak uang untuk menyuap para pejabat dan bahwa amnesti yang dia minta sebenarnya untuk putra kedua Fan Li. Raja Chu sangat marah dan memerintahkan eksekusi putra kedua.

Putra tertua tidak punya pilihan selain kembali ke rumah dengan mayat adiknya dan emas. Ibunya dan tetangganya sangat sedih. Fan Li berkata dengan sangat serius, “Sebenarnya, apa yang terjadi adalah sudah saya tebak, oleh karenanya saya sebenarnya ingin si bungsu yang pergi menyelamatkan kakak kedua. Putra tertua mencintai saudara-saudaranya, tetapi ia memiliki keterikatan yang kuat dengan uang.

Ketika putra tertua tumbuh dewasa, dia mengerti bahwa keluarganya hidup dalam situasi yang sulit, yang membuatnya memimpikan uang banyak. Ketika putra ketiga lahir, situasi keuangan keluarga telah membaik.  Dengan karakternya yang terbuka, saya awalnya ingin dia bantu mengurus masalah saudara laki-lakinya yang kedua. Pada akhirnya, putra tertua gagal menyelesaikan masalah ini dan putra kedua saya dieksekusi.

Itulah alasan di balik apa yang terjadi dan tidak ada yang perlu disedihkan. Saya pikir itu semua sudah ditakdirkan.” (visiontimes/eva)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI