Budaya

Ujian Kekaisaran Tiongkok

Lukisan yang menggambarkan calon sarjana yang mengikuti ujian kekaisaran di Kaifeng, Dinasti Song Cina (Kredit: Domain Publik/Wikimedia Commons
Lukisan yang menggambarkan calon sarjana yang mengikuti ujian kekaisaran di Kaifeng, Dinasti Song Cina (Kredit: Domain Publik/Wikimedia Commons

Peradaban Tiongkok telah lama memandang keunggulan di bidang akademis baik sebagai kebutuhan pragmatis maupun penanaman moral.

Konfusius, guru dan filsuf kuno, menasihati murid-muridnya untuk belajar sehingga upaya mereka dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Penekanan pada pendidikan ini mungkin paling terkenal dimanifestasikan dalam ujian kekaisaran. Dirancang sebagai sistem ujian kekaisaran untuk mengumpulkan talenta terbaik di seluruh negeri untuk bertugas di birokrasi negara, ujian tersebut memiliki dampak besar pada budaya dan pemerintahan Tiongkok kuno.

Ratusan tahun kemudian, sistem ujian kekaisaran ini memengaruhi tes pegawai negeri standar yang dirancang di negara-negara Eropa, dan yang digunakan oleh sekolah dan universitas di seluruh dunia. Di Kerajaan Inggris, pegawai negeri disebut “mandarin” mengacu pada pejabat di Cina yang menjalankan peran serupa dalam birokrasi.

Apa yang Diuji?

Sebagai tolok ukur untuk menguji para pejabat yang mengelola wilayah Tiongkok yang luas, ujian kekaisaran selalu didasarkan pada Konfusianisme dan komentar mereka tentang hukum dan pemerintahan.

Dengan mewajibkan semua siswa negara untuk belajar untuk ujian ini, negara mampu menyatukan kekaisaran dengan budaya umum berdasarkan ajaran Konfusianisme dan memperkuat tatanan moral masyarakat.

Pada Dinasti Tang (618-907), Kaisar Gaozu menambahkan beberapa butir ujian di luar ajaran Konfusianisme.

Pengetahuan tentang dekrit kekaisaran, keputusan pemerintah, dan keputusan pengadilan sangat penting. Calon pejabat diuji seberapa baik mereka dapat memahami dan menyusun dokumen semacam itu.

Terkait hal ini, para sarjana harus menunjukkan kemampuan menulis esai berbentuk delapan bagian, yang disebut ba gu wen. Ini adalah presentasi gagasan yang diformalkan dengan frasa dan struktur yang ditetapkan, yang satu menanggapi yang lain, kata demi kata, frasa demi frasa, kalimat demi kalimat.

Di Tiongkok kuno, matematika berkembang dengan baik, dibagi menjadi “aritmatika internal”, atau perhitungan yang dapat dilakukan secara mental, dan “aritmatika eksternal” yang harus dilakukan dengan bantuan rumus dan algoritma. Statistik dan akuntansi menjadi kebutuhan bagi pemerintah mana pun, matematika juga sangat perlu diuji dalam ujian kekaisaran.

Terlepas dari ujian pilitik yang umum, pihak berwenang juga berusaha mengukur kualitas moral dan spiritual pelamar. Cara utama yang dilakukan adalah dengan menilai puisi mereka, yang diyakini sebagai jendela karakter sejati seseorang. Puisi-puisi yang dibawakan bertemakan yang tidak berhubungan dengan politik, misalnya yang umum adalah moralitas dan kesucian.

Demikian juga, reformasi Dinasti Tang juga menguji keterampilan kaligrafi peserta ujian. Diyakini bahwa bukan hanya sekadar menyampaikan informasi, kualitas tulisan tangan seseorang mencerminkan temperamen dan karakter penulis.

Gelar Kelulusan

Ujian kekaisaran reguler diadakan setiap tahun, menarik hingga 2.000 kandidat per tahun, menghasilkan berbagai tingkat sarjana-pejabat, termasuk Xiucai (bakat), Mingjing (ahli klasik) dan Jinshi, atau sarjana kekaisaran penuh.

Orang yang lulus tingkat tertinggi, Jinshi, akan menjadi orang terpenting di kelas terpelajar Tiongkok, dan memegang posisi penting di istana kekaisaran. Dengan demikian, level ini adalah yang paling sulit, dengan hanya satu atau dua yang lulus ujian di antara ratusan kandidat.

Pengetesan secara acak yang dilakukan secara spontan oleh kaisar sendiri, yang akan bertindak sebagai Kepala Pemeriksa. Kaisar juga dikenal sebagai “guru besar” di Tiongkok kuno. Kebijaksanaan, kebajikan, serta karakter berbakti dan jujur seseorang adalah apa yang akan dicari Kaisar dalam ujian ini.

Selama Dinasti Song, pemeriksaan lebih disempurnakan menjadi empat tingkat: Tingkat terendah adalah ujian daerah: kandidat yang berhasil menjadi Xiucai (bakat terkemuka), dan memenuhi syarat untuk mengikuti ujian kedua di tingkat provinsi, menghasilkan Juren (lulusan yang direkomendasikan). Juren akan menjadi pejabat provinsi dan memegang kekuasaan yang sangat besar di tingkat provinsi.

Xiucai akan memegang posisi kepemimpinan di desa mereka atau menjadi guru yang memelihara sistem pendidikan. Tingkat ketiga adalah ujian Akademi yang menghasilkan Gongshi (siswa terhormat), yang memenuhi syarat untuk mengikuti ujian Istana (tingkat tertinggi) yang menghasilkan para sarjana yang dikenal sebagai Jinshi.

Siapa yang bisa mengikuti ujian?

Ujian kekaisaran terbuka untuk laki-laki saja, dan orang-orang dari latar belakang yang tidak baik, seperti penjahat dan anak-anak pelacur, tidak bisa mengikuti ujian.

Terlepas dari ini, bagaimanapun, ujian kekaisaran sipil tidak membeda-bedakan berdasarkan kelas, bahkan memungkinkan anak-anak dari keluarga miskin berkesempatan untuk menjadi pejabat pemerintah.

Di Dinasti Song, pihak berwenang memperkenalkan penilaian anonim, mengidentifikasi kandidat berdasarkan nomor daripada nama untuk menghindari bias dan korupsi.(visiontimes)

Lebih banyak kisah Budaya, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI