Budaya

Zhang Liang: Pahlawan dari Masa awal Dinasti Han

Ilustrasi: Zhang Liang. (Catherine Chang_ET)

Zhang Liang (sekitar 262-189 SM), bersama-sama dengan Han Xin dan Xiao He dikenal sebagai salah satu dari “Tiga Pahlawan dari Dinasti Han awal”. Dia adalah kepala ahli strategi militer, menteri dan penasihat Liu Bang (Kaisar Gaozu), Kaisar pendiri Dinasti Han.

Zhang Liang terkenal oleh kemampuannya “memenangkan pertempuran 1000 mil jauhnya tanpa melangkah keluar dari tenda komando”. Selain bakatnya yang luar biasa dalam bidang strategi militer, dia juga terkenal karena sikap toleran dan rasa hormat terhadap orang yang lebih tua serta sikap rendah hati dan kesederhanaan hidup.

Bertolak belakang dengan apa yang dibayangkan dari seorang pahlawan militer yang gagah perkasa, sebaliknya Zhang Liang adalah seorang yang bertubuh kurus.

Sebuah ‘peluang’ pertemuan di pengasingan

Zhang Liang dilahirkan dari keluarga bangsawan di negara Han selama Periode Negara Berperang (206 SM – 220 M). Selama lima generasi, leluhurnya melayani  penguasa negara Han.

Pada tahun 230 SM, ketika negara Han dihancurkan oleh Qin Shi Huang, pendiri Dinasti Qin, Zhang menghabiskan seluruh kekayaan keluarganya dalam upayanya untuk membunuh Qin Shi Huang. Akan tetapi, upayanya gagal dan Zhang terpaksa melarikan diri ke negara lain.

Sebagai seorang buronan, Zhang Liang muda selalu berpindah-pindah. Ketika sedang berjalan-jalan di dekat jembatan Yishui pada suatu hari bersalju yang disertai angin, Zhang melihat seorang lelaki tua yang nampak bijaksana sedang duduk diatas jembatan. Ketika melihat Zhang, lelaki tua itu dengan sengaja menjatuhkan sepatunya ke bawah jembatan dan kemudian meminta Zhang Liang mengambilnya.

Meskipun kondisi jembatan itu licin, namun Zhang tidak hanya mengambil sepatunya, tetapi juga berlutut dan memakaikannya ke kaki lelaki tua itu.

Melihat sikap hormat Zhang Liang terhadap orang yang lebih tua, lelaki tua itu tersenyum dan mengatakan bahwa dia layak untuk berguru. Dia meminta Zhang untuk menemuinya besok pagi.

Keesokan harinya, Zhang Liang pergi ke jembatan itu sebelum fajar, namun dia melihat lelaki tua itu sudah menunggunya disana.

Lelaki tua itu menegurnya karena telah membuat orang lanjut usia menunggu dan menyuruh Zhang untuk kembali lagi besok.

Meskipun Zhang Liang berangkat lebih pagi dari hari sebelumnya, tetapi lelaki tua tetap datang lebih awal darinya. Pada hari ketiga, Zhang Liang pergi ke jembatan itu tengah malam dan menunggu sampai lelaki tua itu tiba.

Lelaki tua itu akhirnya puas, karena selain gigih, Zhang Liang juga memiliki sifat rendah hati dan maha sabar. Dia memberi Zhang Liang sebuah buku dan berkata, “Ketika kamu telah memahami isi buku ini, kamu akan dapat menjadi guru bagi kaisar. Jika kamu membutuhkan bantuan, temui saya di kaki Gunung Gucheng.”

Buku itu dikenal sebagai The Strategies of Huang Shigong (Strategi dari Huang Shigong) atau Tai Gong’s Art of War (Seni Perang Tai Gong). Setelah mempelajari buku tersebut, Zhang Liang menjadi terkenal karena strategi militernya dan mahir dalam mengelola perubahan situasi negara.

Menurut legenda Tiongkok kuno, lelaki tua itu adalah Huang Shigong, salah satu dari empat orang bijak yang disebut “Empat Hao dari Gunung Shang.”

Membantu Mendirikan Sebuah Dinasti

Zhang Liang kemudian membantu Liu Bang. Berkat nasihat Zhang Liang tentang kebijakan politik dan strategi militer, Liu Bang memenangkan banyak pertempuran dan menjadi kaisar pertama dari Dinasti Han.

Salah satu saran khusus Zhang membantu Liu Bang mendapatkan banyak dukungan.

Ketika Liu Bang menaklukkan ibu kota Qin, dia sangat tergoda oleh kekayaan yang berlimpah dan wanita cantik yang ada di istana Qin sehingga ingin tinggal disana selamanya.

Namun, Zhang Liang memperingatkan Liu Bang tentang resiko dianggap sebagai orang yang terlena oleh kenikmatan mengejar kemewahan.

Meskipun awalnya enggan, Liu Bang menuruti nasihat Zhang dan meninggalkan istana Qin. Berkat itu, Liu Bang mendapat dukungan penuh dari rakyat Qin dan akhirnya berhasil naik tahta menjadi kaisar setelah menyatukan kembali menjadi Tiongkok yang baru.

Setelah situasi dari dinasti baru itu stabil, Zhang mengundurkan diri dan pergi berlatih Tao. Pada masa itu, Liu Bang menghadiahi mereka yang berkontribusi pada pendirian dinasti dan dia memberikan gelar pada Zhang Liang.

Hanya sekali Zhang Liang keluar dari pensiunnya. Zhang menentang rencana Liu Bang yang ingin mengganti putra mahkota dengan adiknya.

Setelah berhasil membantu mempertahankan posisi putra mahkota, Zhang Liang meninggalkan semua urusan negara dan mengabdikan sisa hidupnya untuk berlatih Tao.

Panutan

Dimasa mudanya Zhang Liang kehilangan semua kekayaan dan reputasinya ketika negara Han dihancurkan oleh kebangkitan Qin Shi Huang dan berdirinya Dinasti Qin.

Zhang mengalami perubahan dari kaya menjadi miskin, dari bangsawan menjadi buronan dan dari seorang pejabat menjadi rakyat jelata.

Akan tetapi, Zhang Liang tidak berkecil hati dengan upaya pembunuhan terhadap Qin Shi Huang yang gagal. Setelah mempelajari situasi politik, dia bergabung dengan Liu Bang dan membantu dia mengalahkan Qin, dengan demikian membalaskan dendam negara asalnya Han.

Setelah tujuannya tercapai, Zhang Liang tidak terikat pada kekuasaaan, ketenaran atau kekayaan dan dia mengundurkan diri untuk meningkatkan kehidupan spiritual dan mencapai pencerahan.

Setelah kematiannya, Zhang Liang dianggap sebagai panutan bagi penasihat kekaisaran. (Epochtimes/th/ch)