Budi Pekerti

2 Kisah yang Menghangatkan Hati

hati yang baik (©unsplash)
hati yang baik (©unsplash)

Suatu sore, saya berjalan-jalan dengan temanku di pinggiran kota. Dari kejauhan tampak seorang pedagang muncul, semakin mendekat semakin tampak jelas ia adalah seorang bapak tua dengan pakaian yang lusuh sedang memikul sayuran yang tampak layu.

Temanku menghampirinya dan bertanya apakah sayuran tersebut dijual. Bapak tua itu dengan tertunduk malu menjelaskan, “Ya… ini…saya jual murah saja Mas, Beberapa hari lalu, kebun saya kebanjiran karena hujan deras, sehingga sayurannya terlihat seperti ini.”

Temanku membeli semua sayuran itu sehingga bapak tua itu terharu dan berkata, “Saya telah berkeliling kemana-mana untuk menjual sayuran ini, tapi hanya Mas yang mau membelinya, terima kasih banyak Mas….”

Setelah bapak tua itu pergi, saya bertanya pada teman saya itu, “Apakah kamu beneran mau memakannya?

Temanku menjawab, “Tidak, ini sepertinya tak mungkin lagi bisa dimakan.”

“Lalu mengapa kamu membelinya?”

“Karena tidak mungkin ada yang mau membelinya. Jika saya tidak membelinya, bapak tua itu tidak akan pemasukan hari ini. Ia pasti butuh uang, bila tidak, ia tidak akan terus berjalan di bawah terik matahari sepanjang hari.”

Saya kagum atas kebaikan hati teman saya itu. Beberapa ikat sayuran layu memberi saya pelajaran berharga.

Kisah Kedua: Keajaiban Natal

Pada malam terakhir masuk kerja pada akhir tahun, perusahaan tempat saya bekerja mempunyai tradisi mengadakan pesta dan dimeriahkan dengan sayembara berhadiah uang.

Peraturan sayembara itu adalah sebagai berikut: Setiap karyawan menyumbang Rp. 100.000 ke dalam “Kotak Sayembara”. Lalu masing-masing orang menulis namanya dan akan dikocok, dipilih satu pemenang yang akan membawa semua uangnya. Di perusahan saya ada sekitar 300 orang karyawan, jadi pemenangnya tiap tahun membawa pulang sekitar 30 juta rupiah. Wow! sebuah bonus yang sangat besar. Semua karyawan menantikannya setiap tahun.

Pada hari sayembara, semua karyawan gembira memasukan uang ke dalam kotak sayembara, menulis nama di secarik kertas dan dimasukkan ke dalam kocokan. Tapi saya ragu ketika ingin memasukkan kertas saya.

Dari percakapan sesama karyawan kantor, saya tahu bahwa anak office boy kantor sedang sakit dan harus dioperasi. Namun saya tidak punya cukup uang untuk membantunya, karena biaya operasinya sangat besar.

Terbit suatu niat di hati saya, meskipun peluang menang sayembara sangat tipis, hanya 1 dari 300, saya ingin menulis nama si office boy pada kertas saya.

Kemudian tibalah pesta dan penarikan undian. Kotak dikocok dan saya berdoa didalam hati, semoga nama si office boy yang jadi pemenang.

Kemudian pemenang dibacakan, dan ternyata keluar nama si office boy! Semua orang bertepuk tangan dengan sangat gembira sambil bersorak-sorai. Office boy maju ke depan dan menerima uang yang terkumpul dan berkata, “Saya sungguh beruntung! Terima kasih Tuhan, dengan uang ini, anakku punya harapan sembuh!”

Selesai pesta, saya ditugaskan untuk rapi-rapi sisa pesta, termasuk membuang lipatan kertas-kertas undian. Iseng saya membuka sebuah lembaran kertas, dan disitu tertulis nama si office boy. Penasaran, saya buka beberapa kertas lagi, dan ternyata semua karyawan menulis hal yang sama: nama si office boy.

Saya berlinang air mata dan memahami bahwa keajaiban natal sungguh-sungguh ada di dunia.

Setelah mengingat dua peristiwa ini, hati saya merasa hangat. Ketika kita berada di situasi sulit, kita berharap keajaiban bisa muncul, tapi kita tidak boleh lupa untuk membantu orang-orang di sekitar kita saat kita mampu – itu menciptakan keajaiban yang bahkan lebih besar. (visiontimes/ch)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor

situs slot gacor