Budi Pekerti

3 Cerita Inspirasi tentang Menghormati Orang Lain

Hormat©freepik
Hormat©freepik

Menghormati orang lain adalah tanda karakter yang baik dan membangun fondasi yang kokoh untuk semua hubungan kita. Dibawah ini ada 3 cerita tentang menghormati orang lain:

Menghormati orang lain

Wirausahawan terkenal Jepang Kõnosuke Matsushita (1894-1989) pernah mengundang beberapa temannya untuk makan malam di sebuah restoran. Dia memesan steak enak untuk semua orang, dan semua temannya menghabiskan steak mereka dengan gembira, kecuali Matsushita.

Melihat kondisi tersebut, kepala koki pengelola restoran sangat gugup, karena dia takut mungkin ada yang salah dengan bistiknya. Saat membayar tagihan, Matsushita secara khusus berbisik kepadanya. Dia memberi tahu koki: “Bistiknya sangat enak, tetapi karena nafsu makan saya yang buruk, saya tidak menghabiskannya”.

Ia juga meminta koki untuk tidak perlu khawatir, karena tidak ada hubungannya dengan kualitas steak, dan ia berharap manajer tidak menyalahkannya. Mendengar hal itu, sang koki sangat terharu dan membungkuk untuk mengungkapkan penghargaannya kepada Matsushita.

Sebaiknya jangan pernah berpikir bahwa rasa hormat orang lain kepada anda berarti anda lebih hebat dari mereka. Kita harus selalu tahu bahwa mereka menghormati kita karena keunggulan orang tersebut. Bagaimanapun, cendekiawan lebih cenderung untuk menghormati orang lain.

Sebagai salah satu wirausahawan terhebat di Jepang, Matsushita memperlakukan semua orang dengan setara, tanpa meremehkan siapa pun berdasarkan status sosialnya.

Hanya setelah seseorang dapat menghormati orang kecil, dia dapat dianggap sebagai orang hebat. Menghormati orang lain sebenarnya adalah menghargai diri kita sendiri.

Memperlakukan Semua Pelanggan Secara Setara

Suatu hari, ketika seorang pengemis dengan pakaian lusuh memasuki toko roti yang sangat terkenal, semua pelanggan di sekitarnya menutup hidung mereka dengan jijik.

Meski demikian, pemilik toko roti tetap menyambut hangat pengemis ini. Sang pengemis mengeluarkan koin dari sakunya dengan hati-hati dan berbisik kepada pemilik toko bahwa dia ingin membeli kue kecil.

Sang pemilik toko kemudian mengambil kue kecil tapi lucu dari rak untuk sang pengemis dan membungkuk kepada pengemis untuk berterima kasih telah menjadi pelanggannya.

Setelah sang pengemis itu pergi, cucu pemilik toko itu bingung mengapa kakeknya memperlakukan pengemis itu dengan sangat baik.

Sang Kakek berkata: “Uangnya adalah apa yang dia minta dari orang lain sedikit demi sedikit, yang tentunya lebih berharga daripada uang yang dimiliki orang lain. Menjadi pelanggan kita berarti dia benar-benar menyukai kue kita”.

Sang cucu melanjutkan, “Lalu mengapa Kakek menerima uangnya?”

Sang Kakek berkata: “Dia datang ke toko kita untuk membeli kue; kita pasti harus menghormatinya. Jika kita tidak meminta bayaran untuk kuenya, itu akan menjadi penghinaan baginya”.

Setelah itu, toko kue tersebut semakin populer. Sebelum sang kakek pensiun dan menyerahkan pengelolaan bisnis ke cucunya, toko itu telah menjadi perusahaan terkenal.

Berpikir Panjang dan Jernih

Seorang Wirausahawan memulai usahanya sendiri dari nol dan mengumpulkan kekayaan dalam jumlah besar. Namun, karena resesi ekonomi karena pandemi, usahanya mengalami kemerosotan yang parah.

Dia sangat sedih sepanjang hari. Suatu hari, dia memutuskan untuk bunuh diri dengan melompat ke sungai dibawah jembatan kota.

Ketika dia datang ke pantai dalam kesunyian malam, dia kebetulan melihat seorang gadis menangis. Dia menghampiri dan bertanya: “Mengapa kamu di sini sendirian di tengah malam?” Gadis itu menjawab: “Saya tidak ingin hidup lagi karena saya dicampakkan oleh pacar saya. Saya tidak bisa hidup tanpanya”.

Saat mendengar itu, wirausahawan itu sangat heran dan berkata: “Kalau begitu, bagaimana kamu bisa hidup sebelum kamu punya pacar?” Mendengar itu, gadis itu tiba-tiba tersadar dan memutuskan untuk tidak jadi bunuh diri.

Wirausahawan itu merenung: “Saya juga tidak punya banyak uang di masa lalu! Tapi bagaimana saya bisa bertahan? Pada saat itu, gadis itu bertanya kepada laki-laki itu: “Ini sudah tengah malam, jadi kenapa Bapak ada di sini?” Pria itu menertawakan dirinya sendiri dan berkata: “Bukan apa-apa…karena saya tidak bisa tidur, saya keluar untuk jalan-jalan”. (visiontimes/bud/ch)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor