Budi Pekerti

3 Cerita Menyentuh Hati antara Bapak dan Anak

Bapak dan anak
Bapak dan anak. (Zan on Unsplash)

Hubungan antara ayah dan anak adalah hubungan yang istimewa. Berikut ini adalah tiga kisah sederhana dengan makna batin yang dalam:

Melompati Tembok

Ada seorang anak lelaki yang sangat kecanduan internet saat dia masih di sekolah menengah. Dia begitu kecanduan sehingga dia sering menyelinap keluar dari asrama sekolahnya sekitar tengah malam dan memanjat dinding untuk pergi ke warnet 24 jam.

Suatu malam, seperti biasa, saat dia memanjat tembok, dia berhenti di tengah-tengah, dengan cepat balik arah dan berlari kembali ke kamarnya. Ekspresi wajahnya tampak aneh untuk sesaat setelah malam itu, dan ketika teman-temannya bertanya apa yang terjadi, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Namun, sejak kejadian itu, bocah itu menjadi murid yang berbeda. Dia belajar keras dan tidak pernah lagi menyelinap keluar di malam hari untuk mengunjungi warnet.

Melalui kerja keras, ia akhirnya dapat masuk ke perguruan tinggi ternama. Suatu hari, ketika anak lelaki itu dan teman-teman sekelasnya yang dahulu duduk bersama dan berbicara tentang kenangan lama, mereka bertanya kepadanya lagi apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Anak itu terdiam sesaat, dan akhirnya menjawab: “Pada sore itu, ayahku datang mengunjungi asrama untuk memberiku biaya hidupku dan membayar uang sekolahku.

Untuk menghemat biaya, ternyata malam itu ayah tidak bermalam di hotel, untuk menunggu kereta pagi yang akan ditumpanginya untuk pulang ke rumah, ayah tidur di bawah tembok asrama sepanjang malam”.

Ada alasan mengapa orang dari berbagai usia memandang kehidupan sebagai salah satu guru terhebat. Cinta dalam keluarga yang diekspresikan melalui kebaikan hati dan kesabaran dapat mengubah seseorang, seperti yang dialami anak muda itu, memotivasi dia untuk bekerja keras. Setiap pengalaman yang kita renungkan dan lihat ke belakang dapat memiliki makna yang lebih dalam. Ketika melihat ke belakang pada usia yang lebih matang, segala sesuatu yang dilakukan kebanyakan orang tua adalah untuk memberikan anak-anak mereka pendidikan yang tinggi, dengan cara terbaik yang mereka mampu. Semoga, lebih banyak anak akan menemukan pengertian untuk menghargai kerja keras orang tua mereka.

Mewarnai Rambut

Seorang wanita muda, duduk di kereta mendengarkan seorang wanita yang lebih tua mengenang masa lalu yang indah, menceritakan dia kenangan berikut:

Suatu hari, saya melihat kakek saya mewarnai rambutnya di rumah.

“Kakek hampir 60 tahun. Mengapa masih mewarnai rambut kakek?’

“Yah, setiap kali kakek kembali ke kota asal kakek, kakek mewarnai hitam rambut sehingga ketika nenekmu melihatku, dia akan berpikir bahwa aku masih muda dan dia belum tua”.

Kung Fu

Seorang ayah bertanya kepada putranya: “Apakah kamu pikir aku kuat?”

Putranya menjawab: “Ya, Ayah KUAT”.

Sang ayah bertanya lebih lanjut, “Apakah menurutmu Kungfu Shaolin itu luar biasa?”

“Ya, itu LUAR BIASA”, jawab putranya.

“Apakah kamu pikir itu baik jika aku mencukur kepalaku dan berlatih Kungfu Shaolin?”

Sambil bertepuk tangan, sang putra berseru: “HEBAT!”

Keesokan harinya, ayahnya telah mencukur kepalanya hingga botak. Dia memuji ayahnya, memastikan bahwa jika sang ayah berusaha cukup keras, dia pasti akan menjadi ahli kungfu. Namun, hari itu sebenarnya adalah hari sebelum kemoterapi ayahnya.

Kadang-kadang, lelucon ringan bisa menutupi beban berat dari beban yang akan datang. Pada kenyataannya, sebagian besar orang tua di dunia sama mengalami hal yang sama. Haruskah anak-anaknya tidak memperlakukan mereka dengan baik sepanjang waktu? (visiontimes/bud/ch)

Lebih banyak artikel Budi Pekerti silahkan klik di sini. Video silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

slot gacor

situs slot gacor